Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kau tak terbayang
Kau mengintai di balik tiang
Kau datang
Kau menghantui

Derap – derap semut dan kecoa
Deru roda menggelinding penat
Baris – baris kata tertulis indah
Sejuk

Membuka harap
Aku terperana
Sepanjang jalan itu
Pohon – pohon kering rindang

Menasbihkanmu seiring berkas senyum yang terbanyang
Aku bahagia
Kau layaknya bayangan cahaya dari muka
Menggenderangkan jantung layaknya di medan perang

Kau hampiri aku
Kau ulurkan selendang surga
Simpul itu ku jadikan pati
Dan di atas lantai delapan itu

Senja mengecupmu diantara kilauan cahaya

Bloklimasatu.com -
Gubuk kecil yang ku buat
Dari belukar dan anyaman
Ku tali di atas pohon kerdil
Rindang
Untuk berteduhmu

Tak ada wewangian
Hanya setangkai mawar
Ya... setangkai mawar merah
Yang tumbuh dengan percikan air dari lembutnya embun malam itu

Tak perlu halaman luas untukmu menikmati langit sore ini
Cukup tiga jengkal persegi saja
Tak perlu juga rumput jepang karena aku takut melukai kulit surgamu
Dua daun jati yang jatuh siang tadi rasanya cukup sempurna

Untuk menyaksikan matahari menggoreskan siluet senja
Aku tak ingin memelukmu
Apalagi mengusik kulit arimu
Aku hanya ingin menjadi tiang saat kau ingin bersandar

Menjadi atap saat dingin dan panas dunia tak lagi bercengkerama
Meski kau bunga
Aku tak mau menjadi kumbang atau lebah
Bukan karena aku tak ingin menghisap sarimu

Tapi aku ingin bunga itu tetap mekar
Dalam kepulan asap
Dalam rongrongan alat berat
Tak apa sayang...

Meski hina di mata insan
Aku akan berusaha menikmati keonanianku ini
Karena aku tak mau
Darah dan air mata itu
Tersiram sia-sia untuk menumbuhkanmu

Tetaplah tumbuh
Tetaplah mekar
Tetaplah memancarkan keharuman
Meski sekitarmu berbau busuk.

Bloklimasatu.com
Tak masalah bila tubuh ini yang tercabik
Mendaur ulang kejadian 2 tahun silam
Bukan perkara mudah untuk menerimamu dan mengenalmu kembali
Bukan masalah kau atau aku mau menerima
Tapi bagaimana caramu mengahiri

Aku layaknya rusa masuk desa
Bingung, canggung, takut
Kau coba menenangkan
Kau coba meyakinkan

Aku lemah,
Aku tertelan oleh lubang yang sama
Aku bangun rasa itu
Aku yakinkan

Aku berhasil
Aku sukses melakukannya
Kau pergi
Kau tersenyum
Kau lupa
Kau hilang

Tanpa beban
Dengan kemenangan
Dari harapan Kau hilang
Lagi dan lagi



Bloklimasatu.com -

Jangan kau tanya aku, seberapa aku telah membayar
Jangan kau tanya aku, seberapa aku telah melangkah
Jangan kau tanya aku, seberapa aku telah terjaga
Jangan kau tanya aku, seberapa aku telah mlihat

Aku yakin kau sudah terbiasa melihat kotak amal di masjid itu
Aku pun yakin kau sudah terbiasa membuka map berlabel sumbangan
Aku pun juga yakin kau sudah sangat terbiasa menekan tombol di ruang kecil yang bernama ATM
Bahkan aku sangat yakin, jari dan lidahmu sangat lihat memilah lembaran yang disebut uang

Tapi aku tidak akan bertanya...
Sudahkah kau mengisi kotak itu?
Nama siapa yang kau tulis di map itu?
Berapa nominal yang kau tulis dan kau berikan?
Uang siapa saja yang sudah masuk sebagai aset duniamu

Itu urusanmu dengan egomu
Itu urusanmu dengan perasaanmu
Itu urusanmu dengan gengsimu
Itu urusanmu dengan Tuhanmu

Tapi yang pasti
Kau terlelap dalam popularitasanmu

Kau kau mau terjaga dari kastamu
Kau masih menikmati mimpi ketiranianmu
Kau takut untuk bangun
Karena mimpi terlalu indah
Terlalu nikmat

Kau takut untuk hidup
Karena mata akan pedih
Karena telingamu akan sangat terasa sakit

Bahkan kau lupa
Bahwa hidup butuh keberanian

Berani untuk mengaku
Berani untuk dihukum
Berani untuk meminta maaf
Berani untuk memberi maaf

Tapi kau telah mati
Mati dalam hidup
Entah makhluk apa kau ini
Lalat saja menutup hidungnya
Kecoa saja melingkarkan sungutnya
Kutu busuk saja tak mau berdetak
Kau bangkai