Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

BLOKLIMASATU.COM - Sahabat sejati ialah seseorang yg bisa menemani kita dalam keadaan sedih maupun senang. Seseorang yg bisa selalu hadir mendampingi kita dimanapun kapanpu itu. Memang menjadi yg seejati itu sulit tidak setiap orang bisa menjadi orang yg setia ,seandainya bisa milih sebenarnya aku ingin menjadi yg setia untukmu , menjadi seorang sahabat yg bisa menemani dalam suka dban dukamu.sahabat seseorang yang paling tega untuk membuat kita menangis membuat kita sedih ,tetapi selalu dating ketika kita sedih.

CARA MENCARI SAHABAT SEJATI
Janganlah kau pandang anak itu dari sudut baiknya ,dan pandang lah anak itu dari sudut buruknya. Jika kamu memandan dari sudut baiknya belum tentu kamu mengetahui apakah itu sungguh baik atau tidak . dan tapi klau kamu melihat dari sudut pandang  yg buruk.

Oleh karena itu saling fahamilah sifat sifat yg dimiliki oleh temanmu itu walaupun kamu disakiti tapi… Janganlah kamu coba2 untuk menyakiti orang tersebut dan jadilah yg terbaik baginya dan jangan sampai kamu menjadi yg terburuk dimatanya

PERKENALAN
Berawal dari sebuah perkenalan disebuah sekolahan , awalnya yg tidak kenal kinipun menjadi kenal dan dari perkenanalan itu semakin lama semakin dekat, dekat, dan, dekat .tak ku sangka aku dan kamu bisa dekat.

TAK AKAN PERNAH TERLUPAKAN
Kenangan yg selama ini kita lallui semua itu tak akan pernah terlupakan ,ikatan  seorang sahabatsejati tak akan pernah putus,hanya hidup & matilah yg bisa memisahkan kita Kuharap kamu bisa mempertahankan semua ini ,walau tak sedekat dirimu padanya tapi ku harap kamu bisa menepati janji yg kita ikat oieh karena itu kita harus saling melengkapi dengan sahabat karena sahabat tak akan pernah terlupakan selamanya walaupun terpisah.

PERTAHANKAN
Sahabat  sejati pasti akan selalu mempertahankan hubungan persahabatan yg tejalin dalam sebuah pertemanan. Sesuatu yg sulit untukuntuk kita fahami ialah sifat .jika ingin menjadi yg sepesial baginya maka fahamilah sifatnya ! saling memahami ialah kunci yg tepat untuk membuat saling percaya antara satu dengan yg lain ku akan mempertahankan persahabatan kita selama aku bisa melakukannya . semua cara akan ku lakukan untuk mempertahankan persahabatan kita. Oleh karena itu kita harus pertahankan kedekatan antara persahabatan kita.

KEKECEWAAN
Sudah berbagai cara yg aku lakukan. aku kira pertemanan kita ini akan selamanya ,dan kamu akan setia menjadi sahabatku. Tetapi aku salah ,ternyata kamu sudah memiliki yg baru, seseorang yg lebih kamu sayang dari pada diriku semua janji persahabatan kita telah kau hancurkan hubungan persahabatan kita , tapi jika itu bisa membuatmu bahagia maka ku ikhlaskan itu untukmu dan ingatlah.

Aku akan tetap sayang sama kamu. semua iyu tidak bisa diungkapkan oleh raut muka yg polos tetapi hatilah yg bisa merasakan semuanya sakit,sedih ,senang hati dan paeasaan lah yg bisa merasakan 
MEMPERSATUKAN KEMBALI
Memang , ternyata kita masih ditakdirkan untuk bersatu . memeng yaaaaaaaaa  ALLAH itu maha adil yg bisa membuat hambanya senang dan juga sedih , enak ataupun sakit hanya ALLAH lah yg menentukan  . makasih ya ALLAH engkau telah mempersatukan persahabatan kita walau belum sempurna      seperti sedia kala tapiiiiiii…yang jelas engkau telah mempersatukan kita lagi . jika bisa persatukanlah semua ini seperti sedia kala ,dulu yg sangat menyenangkan  
Bloklimasatu.com - Dewasa ini kita sering disajikan dengan pemberitaan yang sering mencoreng dunia pendidikan, baik yang berasal dari ulah oknum guru, oknum siswa, maupun oknum orang tua. Dimana kita sering mendengar atau melihat berita di media adanya praktisi pendidikan di Indonesia yang harus tersangkut hukum; guru yang memukul siswa, siswa menganiaya guru, atau bahkan orang tua siswa yang turut terjun dalam urusan anaknya dalam ruang lingkup kegiatan belajar dan mengajar (KBM).

Sebelum terlalu jauh membahas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dunia pendidikan, mari kita mengerti dulu apa sebenarnya definisi pendidikan, dan mari kita awali dari kata pembelajaran. Dalam hal ini saya ingin membaginya menjadi dua bagian saja, yaitu pengajaran dan pendidikan berdasarkan opini pribadi saya yang mungkin bila dijabarkan akan menjadi sangat banyak dan panjang.

Pengajaran adalah proses dimana guru menyampaikan ilmu pengetahuan sesuai penguasaannya dengan persiapan dan perangkat pembelajaran yang mendukung. Lalu guru yang baik itu seperti apa?Guru yang baik itu harus benar-benar memastikan bahwa ilmu pengetahuan atau pelajaran yang disampaikannya bisa sampai kepada anak dengan baik. Selembihnya bila anak diberi sebuah tugas yang berkenaan dengan apa yang telah disampaikan atau diajarkan mesti bisa menjawab berdasarkan apa yang telah disampaikan sebelumnya.

Sedangkan Pendidikan adalah proses dimana disamping guru menempa anak dengan ilmu pengetahuan yang baik dan benar, ia juga mesti tahu bagaimana mempola cara berfikir anak yang masih kurang benar supaya bisa menerka maksud dari apa yang telah disampaikannya. Diluar itu guru juga mesti bisa membimbing dan mengkorelasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Memantaunya dan memberikan pendekatan secraa lahir dan batin baik secara formal maupun non-formal untuk menghasilkan masa depan bangsa yang brilian.

Dari apa yang telah saya paparkan diatas mungkin akan banyak sekali kesepakatan maupun perdebatan dari pembaca; itu wajar. Setiap manusia telah dibekali dengan pendidikan dan pengajaran yang secara otomatis telah ditempakan kepadanya sejak ia mulai menghirup udara dunia, khususnya dari orang-orang terdekatnya; bisa orang tuanya, kakek, nenek, saudara, atau siapapun yang telah mendapat amanat mengurusnya sejak kecil.

Nah, oleh karena itu ketika ada penyimpangan-penyimpangan pendidikan, tidak bisa serta merta melempar kesalahan kepada satu pihak, banyak faktor yang mempengaruhinya dan mesti mengerti pentingnya pendidikan dan apa fungsi pendidikan itu sendiri, diantaranya:

1. Guru
Bisa karena guru yang kurang memiliki kemampuan dalam mendidik dan mengajar atau biasa disebut dengan guru yang baik dan profesional. Dalam hal ini profesi yang sedang ditekuninya tidak berawal atau didasarkan dari panggilan jiwa, dan keahlian yang tepat, melainkan disebabkan karena faktor susahnya cari pekerjaan dan guru adalah hal yang paling mudah menjadi sebuah profesi. Atau bisa jadi karena tuntutan keluarga yang mana secara turun temurun keluarga sudah menjalani profesi ini. atau mungkin bisa disebabkan hal lain.

2. Orang Tua
Bisa jadi karena orang tua yang tidak mau tahu dengan urusan anaknya di lingkup pembelajarannya; tidak memberikan biaya yang cukup atau bahkan orang tua yang taunya hanya anaknya sudah dibekali dengan biaya yang melimpah atau bahkan terkesan mewah. Terlepas dari fakor biaya, bisa jadi kurangnya pengetahuan orang tua yang kurang dengan apa itu pembelajaran. Untuk menjadi orang tua yang baik, tentu banyak hal yang mesti diketahui fungsi orang tua dalam pendidikan anak. Karena kehadiran seorang anak adalah ujian. Dia bisa menjadi surga bagi orang tuanya, bisa juga menjadi penghambat untuk menuju surga bagi orang tuanya. Dan sudah sering kita membaca atau mendengar penjelasan tentang peran orang tua dalam pendidikan anak menurut para ahli atau makalah peran orang tua terhadap anak yang mungkin pernah dibuat oleh anak kita sendiri dalam kegiatan belajar mereka di sekolah.

3. Pemerintah
Bisa jadi pemerintah yang kurang menyeluruh dalam melakukan angket untuk menepapkan sebuah peraturan dan kurikulum pendidikan. Sehingga ketika peraturan atau kurikum itu ditetapkan, banyak sekolah kurang bisa mengikuti. Dari situ tentu akan ada yang dikorbankan. Disinilah kita bisa melihat bagaimana upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan di indonesia. baik itu peran pemerintah daerah dalam pendidikan

4. Lingkungan
Bisa jadi lingkungan yang kurang mendukung terhadap tumbuh kembang seorang anak yang dimulai dengan pendidikan anak usia dini. Dalam hal ini orang tua memiliki peran yang sangat penting. Kerena ketika anak sudah terlanjur berbaur dengan lingkungan yang kurang baik, baik dari usia maupun mileu yang tidak sesuai, maka akan lebih sulit untuk memperbaikinya. Sebagimana sebuah ungkapan yang mengatakan menjaga itu lebih baik daripada mengobati. Jadi tidak ada salahnya orang tua atau orang yang dipercaya mengemban amanah mengurus anak untuk membatasi ruang sosialnya; tentu dengan memberikan pengertian yang yang mudah diterimanya.

Ibarat anak adalah kertas putih bersih, orang tua adalah penanya. Akan digambarkan atau dituliskan apa diatasnya, tergantung bagaimana orang tua mengarahkan dan memberi pengetahuan sejak dini. Bagaimana mencarikan guru yang sesuai dengan kerangka yang ia siapkan. Bagaimana menyesuaikan dengan peraturan pemerintah yang ada, bahkan mengarahkan dengan lingkungan dimana anak tinggal. Dan inilah yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Sehingga korelasi berbagai Pihak-pihak diatas dapat menghindarkan penyimpangan pendidikan terlepas dari tri pusat pendidikan yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

Semoga kita selalu diberi petunjuk untuk membimbing anak-anak menjadi insan kamil yang sesuai dengan arahan agama dan bangsa. Dan sebagai muslim yang baik tentunya saya secara pribadi ignin memberikan pendidikan agama islam yang matang sebagai belak untuk hidup di masa mendatang, pun dengan kepercayaan dan agama lain. Bila ada tulisan yang kurang baik dan benar dari tulisan saya mohon dibenarkan dan mari didiskusikan dengan baik dan benar pula.

Bloklimasatu.com - Perayaan tahun baru di indonesia adalah bergantinya tahun dari tahun yang lama menjadi tahun yang baru. Pada umunya momen ini dirayakan dengan berbagai macam acara dengan aneka ragam kemeriahannya, dimana puncak acaranya adalah tepat pada pukul 00.01 pada bulan Januari yang identik dengan peniupan terompet dan penyalaan kembang api.

Namun ada sebagian orang yang menganggap proses malam tahun baru tidak seharusnya dirayakan dengan ramai-ramai di pusat kota, atau berfoya-foya menghabiskan uang untuk hal yang kurang ada manfaatnya, selain kesenangan hati. Kelompok ini lebih mengedepankan untuk menjadikannya sebagai muhasabah dan mendekatkan diri kepada Tuban Yang Maha Kuasa.

Sebagai makhluk sosial tentunya kita harus bisa saling mengerti kondisi masing, sekali lagi SALING. Dengan kata lain yang merayakan dengan terompet dan kembang api tidak melulu harus minta dimengerti, pun dengan yang tidak menggunakannya mesti minta dipahami dengan alasan kebisingan.

Meski begitu ada sebagian orang yang memilih tetap menjalankan rutinitas dengan perasaan yang berrvariasi. Sebut saja Ikal hidayat yang merasa belum merasa sah tahun baru yang sebenarnya karena belum mendapatkan kalender baru di tahun yang baru. Atau yang seperti disamapiakan NNH yang masih mempertanyakan kata Happy New Year, Happy yang seperti apa sih? karena baginya sama saja. Atau yang seperti yang disampaikan Nura, Gadis perantauan yang jauh dari keluarga dan kekasih. karena demi menghargai kekasihnya yang tidak keluar di malam tahun baru, iapun memilih untuk bertapa di kost dan menikmati kesendiriannya. 

Dari sekian banyak ungkapan rasa di tahun baru, ada satu yang cukup mengulik perasaan saya, yaitu teman dari Blora yang lebih mengajak pada hal istimewa menurut saya, Saya menyebutnya Ustadz Abudul Shomat pribadi saya, karena setiap pertanyaan yang saya ajukan mampu dia jawab. Pada akhir bulan Desember dia mengajak "dari pada memkasa untuk tidak tidur selama setahun, ngopi selama setahun, apa tidak lebih baik digunakan menghatamkan Al-Qur`an selama setahun". Dan pada awal Januari tahun ini dia lebih mengajak untuk berpuasa selama 3 hari karena bertepatan dengan tanggal-tanggal bulan purnama, terlebih bila dilihat dari sejarah perayaan tahun baru itu sendiri.

Apapun dan bagaimanapun cara merayakan tahun itu hak untuk setiap orang, mau bakar jagung, bakar ikan, ayam, bakar kembang api, bakar kenangan bersama mantan atau jenis-jenis melekan lainnya selama masih ada perasaan untuk takut mengganggu kenyamanan orang lain tentu kegiatan tersebut tidak akan dilakukan berlebihan. Tetaplah pada melaju pada jalur yang benar, agar kita selalu pantas untuk disebut sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan.
Bloklimasatu.com - Pagi ini hati saya serasa ada badai petir, gempa, dan sunami yang datang silih berganti. Ada emosi yang tertahan dan memang saya paksa untuk saya tahan. Bagaimana tidak, sebuah pemikiran yang sudah hampir menjadi keyakinan saya selama ini terkoyak habis melaui sebuah perbincangan singkat yang berawal dari sebuah status di akun facebook seorang teman.

Sekilas memang tidak ada yang istimewa dari statusnya. Yang hanya meminta pendapat tentang kondisi saat dimana seorang guru diwajibkan mengajar 8 jam selama 5 hari. Awalnya saya menanggapi santai dengan mengingatkan bagaimana dulu dia diajar oleh seorang guru yang datang pagi pulang menjelang sore dan tidak ada masalah berarti atau menjadi halangan bagi siswa untuk bernakal ria.

Pertikaian dalama hati saya mulai sengit ketika ada beberapa teman yang berprofesi sebagai guru yang menolak sistem tersebut dengan berbagai alasan. Dan alasan ini bukanlah alasan klasik menurut saya ini adalah alasan baru. Karena ketika masih menjadi siswa ataupun awal mengajar saya tidak pernah mendengar keluh kesah semacam ini. Dimana ekonomi atau keuangan menjadi alasan dasar untuk menolak wacana tersebut.

Disini saya akan mengawali bagaimana dulu teman-teman seangkatan ataupun kakak dan adik kelas ditempa dengan pendidikan yang begitu keras. 10 pelajaran dalam sehari semalam yang ditutut dengan materi hafalan dan peraturan yang ketat dan terkesan keras. Semua bisa terlewati dengan sempurna dengan wisuda di akhir masa pendidikan.

Yang jadi masalah bukan bagaimana sistem itu diterap untuk dilanggar, tapi bagaimana sistem itu diterapkan untuk terus diawasi dan dikembangkan.

Selama 12 tahun saya menempuh pendidikan bukan berarti tidak ada masalah sama sekali. Bagaimana rasa sakit dipukul karena tidak bisa menjawab pertanyaan guru, telat masuk sekolah, ataupun telat bangun pagi, seakan sudah menjadi jaminan setiap hari. Dan pada kenyataannya cerita lucu yang akan terkesan sadis bila diterapkan pada anak sekarang, dulu hanya menjadi ajang catur antar pengurus, guru dengan siswa yang "nakal.

Rasa sakit karena pukulan, hanya menjadi bahan guyonan sesama teman, tidak menjadi sebuah dendam atau sampai menjalar sampai ke pihak yang berwenang yang dalam hal ini adalah kepolisian. Kenapa terjadi pergeseran proses pendidikan dari dulu yang sudah sakral, disiplin dan tertata baik, menjadi cengeng, manja dan kekanak-kanakan? Jawannya adalah karena gurunya. Karena gurunya hanya memikirkan dirinya sendiri, gurunya hanya memikirkan bagaimana hari ini saya mengajar dan nanti pulang bisa bertemu keluarga kemudian bulan depan gajian. Bukan memikirkan bagaimana anak didik saya yang A ini kesulitan menerka pelajaran dan yang B begitu mudah menerimannya sementara mereka dalam satu jenjang, dan apa faktor yang melatar belakanginya. Termasuk memikirkan apakah pelajaran yang saya berikan sudah bisa diterima murid dengan baik, dipelajari dirumah dan besok ketika saatnya anak-anak siap menjawab pertanyaan saya.

Tentu tidak sebatas bagaimana tuntutan dan hukuman itu diberikan, tapi lebih kepada bagaimana sebuah yayasan, sekolah, atau instansi pendidikan lain tidak hanya mengajar muridnya saja dengan pelajaran dari buku, tapi guru harus ditempa dengan pengetahuan yang unggul untuk tidak hanya mengajar mengajarkan ilmu lahir saja, tapi juga ilmu batin yang dalam hal ini adalah akhlak.

Akhlah adalah sebagai kontrol hati untuk tidak berfikir dan bertindak melebihi kapasitas yang ditentukan Tuhan, sementara ketentuan Tuhan tidak pernah bersilang dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Dari akhlak yang dipupukkan, ditempakan, dan dijadikan mendarah mendaging ke dalam lubuk sanubari guru dan siswa, serta ditunjang dengan sistem mengajar yang baik, pendidikan akan berjalan dengan baik pula dan menghasilkan kader-kader bangsa yang brilian dan bisa diandalkan.

Nah, ketika semua pikiran dan tenaga sudah dicurahkan untuk pendidikan dengan ikhlas, hukuman yang diberikan, akan diterima dengan legowo oleh siswa, nasihat yang diberikan akan sangat mudah diterima dan diamalkan oleh siswa. Dan saat itulah, gaji, tunjangan kesehatan, tunjangan hari tua, dan tunjangan-tunjangan yang lain layak untuk diterima tanpa harus menuntut.

Lalu apakah sistem yang diterapkan pemerintah salah? Tentu saja tidak. Karena sistem pendidikan dibuat dengan pemikiran yang dalam dan matang serta melalui perdebatan yang alot. Dan apakah salah guru yang merasa keberatan dengan beban dan tuntutan yang ada? Ya, salah. Karena pendidikan bukanlah pekerjaan, pendidikan bukanlah bisnis yang bisa dihitung sehari dapat berapa dan dikalikan 1 bulan dapat berapa, tapi pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus yang akan membawa kemana bangsa ini nantinya. Yang akan menyelamatkan kita dimasa mendatang bila pendidikan yang diberikan oleh guru itu benar, dan akan menyulitkan dan menghancurkan kita di masa mendatang bila pendidikan yang kita berikan salah.

Inna fii aydiikum amrol ummati wa fi iqdaamikum hayaatahaa.
Wallhu a`lam bisshawab.

Bloklimasatu.com - Setiap manusia lahir dalam keadaan fitri (suci). Tanpa dosa dan salah. Namun dalam berjalannya waktu banyak godaan berdatangan seiring bertambahnya usia dan meluasnya hubungan sosial. Kesalahan itu bisa terjadi karena sebuah kesengajaan ataupun tanpa adanya kesengajaan. Dan kalau kita mau memperhatian dan melihat lebih dalam, kesalahan tidak hanya terjadi antar manusia, akan tetapi bisa saja terjadi kepada hewan, tumbuhan, ataupun makhluk lain.

Dewasa ini kita sering dikejutkan dengan berita-berita di media massa ataupun media elektronik mengenai perampokan, pencurian, pembunuhan, korupsi, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, sampai kekerasan terhadap anak. Yang mana semuanya adalah bentuk-bentuk dari kekerasan ataupun bisa disebut juga perampasan hak.

Dari beberapa pemberitaan kejahatan di media massa maupun elektronik secara tidak langsung mengajarkan kepada pelaku yang belum apes tertangkap aparat untuk mencari celah dengan cara lain yang tidak mainstream dilakukan. Sehingga tidak mudah dicurigai oleh calon korbannya. Dengan begitu ketatnya peraturan yang diterapkan, tetap saja ada kejahatan yang terjadi, baik kejahatan fisik maupun kejahatan psikis.

Hampir sepuluh tahun terakhir ini, sering kita mendengan berita pemerkosaan anak terhadap ibunya, pemerkosaan ayah terhadap anak tirinya, perkelahian antar perempuan secara berkelompok, atau kekerasan seorang oknum guru terhadap siswanya. Sepintas kejahatan ini tidak mengakibarkan kerugian yang besar karena memang tidak menyebabkan kerugian material yang nyata. Tapi efek dari kejadian-kejadian seperti ini justru memiliki efek trauma yang tinggi dan berkelanjutan bagi korban. Disamping trauma dari korban, ada hal yang perlu dipelajari lebih mendalam juga terhadap pelakunya. Karena bisa jadi apa yang terjadi tidak sepenuhnya kesalahan pelaku, namun ada juga karena pengaruh-pengaruh lain, seperti menuman keras, penggunaan drugs yang berlebihan, atau bisa juga karena kesalahan yang dibuat oleh korban baik disengaja maupun tidak disengaja.

Sebenarnya perintah sudah sangat lengkap perangkatnya dalam mengurusi masalah ini melalui kepolisian ataupun komnasham. Dimana departemen-departemen ini bisa saling bekerjasama dan meneliti dengan cermat setiap kasus sebelum memutuskannya. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa kejahatan tidak terjadi karena adanya keinginan dari pelakunya, namun ada pengaruh-pengaruh lain, khususnya pengaruh dari korbannya.

Akhir-akhir ada satu kasus ini yang sangat menggelitik analisa saya, yaitu mengenai kekerasan guru terhadap siswa yang berujung dipenjaranya sang guru. saya akan feedback limabelas atau duapuluh tahun yang lalu. Dimana siswa berangkat ke sekolah untuk belajar dan guru berangkat ke sekolah untuk mengajar. Siswa mengerjakan PR, dan guru mempersiapkan dengan matang apa yang akan disampaikan besok pagi. Tanpa ada embel-embel gaji yang begitu mencolok. Tak peduli hadiah atau hukuman apapun yang akan diterima nantinya yang penting semua sudah melakukan tugasnya dengan baik dan benar.

Namun lihatlah sekarang, guru dipaksa untuk memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi fokus pemikirannya, lebih-lebih yang menjadikan sang guru meluangkan waktu lebih sedikit untuk siswanya dari mengurusi birokrasi untuk cairnya gaji, kenaikan gaji, ataupun kenaikan golongan. Sehingga siswa lebih sedikit mendapatkan kemistri dengan gurunya, dan lebih banyak mendapat kemeistri dengan buku ataupun laptopnya untuk mengerjakan tugas. Karena yang diajarkan guru adalah tugas, dan sang guru sibuk mengerjakan tugasnya untuk kenaikan gajinya, meski tidak semua seperti itu.

Ketika guru mengajar dengan keikhlasan dan mengajar hanya dengan dua tujuan, menyalurkan ilmu pengetahuan dan menyalurkan akhlak yang baik terhadap siswanya, tentu, tidak akan terjadi kasus pelaporan orang tua siswa terhadap gurunya kepada polisi. Karena hukuman apapun yang diberikan oleh guru tidak akan menimbulkan masalah yang besar ataupun dibesar-besarkan, selama hukuman itu masih dalam tingkat wajar. Dan memukul adalah hal wajar ketika tindakan dibawah kadar memukul tidak mampu memberi perubahan dan itu adalah cara untuk mejadikan siswa berubah.

Pendidikan adalah wajah negeri, ketika pendidikannya bobrok, bobrok pula mental penduduk begerinya. Jadi untuk memperbaiki sebuah segeri harus dimulai perbaikannya dari pendidikan dulu. Karena saat ini pendidikan tidak hanya guru dan siswa. Pendidikan harus bersinergi anatar beberapa pihak, guru, siswa, orang tua, fasilitas, masyarakat, dan utamanya pemerintah. Manakala dari aspek kecil ini sudah tidak bersinergi, akan sulit untuk mendapatkan pendidikan yang benar-benar baik. Sekolah dan guru tidak dituntut dengan kerja diluar bidangnya, meski sebenarnya guru harus sebisa mungkin menguasai bidang-bidang lain dari pelajarannya. Sehingga tuntutan pemerintah dan orang tua bisa tercapai tanpa ada bentrok di dalamnya.

Kita tidak bisa memaksa ikan untuk memanjat, atau memaksa monyet untuk menyelam ke perairan dalam.

Bloklimasatu.com - Terkadang kita sebagai manusia kurang bisa memahami karakteristik orang lain, bahkan mungkin masih kurang jeli dalam memahami karakter diri kita sendiri. Dan tidak jarang pula kita sok menjadi juri dari panggung kehidupan oraang lain.

Nah, dari sekian banyak fenomena yang terjadi disekitar, mulai salah persepsi, perubahan penilaian, gosip, bahkan menghakimi setiap bola mata mengarah. Dari kejadian-kejadian ini saya mencoba menganalisa tentang arti nakal.

Menurut KBBI nakal adalah suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dan sebagainya. Atau tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Anak-anak atau remaja yang masih dalam masa belajar sering melakukan hal-hal yang terkadang menurut orang dewasa adalah salah. Dan dari kesalahan itu sang anak sering disebut nakal.

Padahal dalam masa pertumbuhan, anak manusia membutuhkan lebih banyak perhatian dari walinya. Baik itu orang tua, guru, maupun orang dewasa yang ada disekitarnya.

Satu kesalahan saja dalam memberikan penilaian dan tindakan, maka imbasnya akan terawa dalam waktu yang tidak sedikit. Atau sampai ada orang yang memerikan penjelasan kepadanya, dan dia mampu menerimanya.

Anak yang tidak ada ketertarikan terhadap matematika misalnya, bukan berarti si anak benci dengan pelajaran ini. Akan tetapi banyak factor yang melandasinya. Bisa jadi metode pengajaran yang kurang menarik sehingga tidak sampai ke otaknya, fasilitas yang kurang memadai, atau memang si anak sendiri yang lemah dalam pelajaran ini. Karena guru tidak bodoh.

Dan anak seperti yang saya paparkan barusan, belum bisa disimpuljan sebagai anak nakal. Bahkan ketika si anak lebih memilih keluar dari kelas untuk menemukan hal yang lebih menarik dari apa yang disampaikan sang guru.

Untuk mengetahui yang sebenarnya dan menghindar salah persepsi dan lain-lain,tentunya butuh pendekatan-pendekatan dari beragai aspek seperti yang saya sampaikan di atas.

Nah, ketika semua unsur sudah terpenuhi, mulai dari metode mengajar yang benar, fasilitas yang memadahi, pendekatan dari beragai aspek, dan ternyata si anak tidak bodoh dan malas untuk berfkir, maka anak seperti ini bisa dikategorikan sebagai anak nakal, dan pantas untuk mendapatkan sanksi atau hukuman.

Karena anak nakal itu, anak yang tidak mau menggunakan otak dan mengalihkannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tentunya setelah beragai pertimbangan dan penelitian yang banyak tadi. Dan ini juga berlaku untuk atasan terhadap bawahannya.

Ini hanya sebuah opini, setiap orang boleh sependapat ataupun tidak. Semoga bermanfaat.

Bloklimasatu.com - Ketika rakyat sejahtera, rakyat tidak akan mempertanyakan kenapa jalannya rusak, kenapa sekolah mahal, kenapa bbm naik terus, kenapa irigasi tak lancar, kenapa biaya kesehatan mahal, kenapa untuk mendapat hak yang sebenarnya dari rakyat sendiri harus berbaris seperti pengemis?, suka melihat itu, bangga? apakah itu standar sejahtera? wow,..

Jangan salahkan pendemo untuk turunkan harga BBM, bahan pangan, sekolah, pupuk, biaya kesehatan, dan rumitnya birokrasi.

Mungkin karena kebodohan sehingga menganggap semua itu mahal dan sulit, tapi kebodohan ini terjadi karena tak tersedianya sarana yang cerah untuk pintar.

Ini bukan jaman purba. Jaman dimana manusia bebas melakukan setiap yang diinginkan. Setiap aturan yang dibuat harus dibarengi dengan tanggung jawab dan pelaksanaan dengan keihklasan.

Untuk bekerja, bekerja butuh sarana transportasi yang bagus, agar pendidikan terpenuhi, supaya tumbuh benih-benih terdidik yang mampu memberi makan dari benih dan pupuk yang sehat, bukan dengan janji basi beralas obsesi.

Ketika rakyat sejahtera, rakyat tidak akan mempertanyakan bagaimana kinerja aparatur desanya, camatnya, bupatinya, gubernurnya, presidennya, dan wakil-wakilnya di pemerintahan.

Ketika rakyat sejahtera, yang menerima gaji dari rakyatpun akan ikut sejahtera.


Bloklimasatu.com - Dangdut, Sudah hampir satu dekade ini perkembangan musik dangdut di Indonesia mulai bergeliat, khususnya di pedesaan, kecamatan, atau kabupaten yang jauh dari perkotaan.

Hiburan dangdut seakan menjadi isotonik di tengah dahaga hiburan yang sangat sering didapatkan warga ini. karena bagi mreka selain televisi tidak ada hiburan yang bisa mereka dapatkan secara cuma-cuma.

Seiring dengan berjalannya waktu, atau mungkin kemunduran, peredaran VCD ataupun DVD konser dangdut saat itu mulai menjamur di masyarakat. dengan berbagai macam cara mendapatkannya. Entah itu beli di toko penjual VCD / DVD resmi atau bajakan, atau mungkin mengkopi dari perangkat satu ke perangkat lain.

Dimulai dari dangdut SERA yang saat itu sangat populer dengan biduan yang katanya sudah Go Internasional INUL DARATISTA dengan andalan goyang ngebornya. dan disusul dengan orkes-orkes dangdut yang lain.

Dan dewasa ini saya mulai terkesan dengan sistem marketing yang digunakan oleh salah satu group dangdut NEW PALLAPA. Mereka mampu memanfaatkan menjamurnya sosial media di Indonesia. Dengan fanbasenya SAUDARA NEW PALLAPA atau biasa disingakat denagn SNP dangdut mulai unjuk gigi di dunia perdangdutan Indonesia.

Tidak hanya orang dewasa yang menjadi fanbase group dangdut yang satu ini, bahkan anak-anak pun sudah mulai mengikuti tour kemanapun group ini konser.

Mereka mampu mendapatkan info konser ini dari brodcast massanger ataupun SMS, karena setiap daerah sudah memiliki koordinator masing-masing untuk saling memberitahu anggota masing-masing dimana group ini akan berkonser atau sekedar share info penyanyi, pemain musik, atau kabar anggota mereka.

Semoga fenomena ini tidak menjadi ajang pengelompokan status masyarakat tertentu, atau bahkan di manfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk hal negatif. Akan tetapi menjadi ajang pemersatu masyarakat untuk menghindarkan dari kekacauan dan perpecahan.


Bloklimasatu.com - Elgebete adalah pemikiran dan tindakan yang menyimpang, bukan bawaan lahir. pemikiran dan tindakan yang timbul dari kebosanan, putus asa, dan ketidak fahaman.

Bosan akan gaya hidup yang sudah tanpa arah yang jelas, bosan dengan kebebasan sex yang begitu begitu saja dan semua bisa diraih, dan fikirannya mendorong untuk bertidak dengan hal-hal yang lain yang belum pernah dia rasakan.

Putus asa dengan segala usaha dan kondisi fisik yang menurut dirinya sendiri tidak pernah sempurna, atau kondisi sosial yang menuntutnya mencari sosok yang bisa meredam keputus-asaannya, dan dia menemukan seseorang atau kelompok yang bernasib sama, terjerumus dalam keputus asaan yang menurutnya itu ada wujud asli dirinya. Atau bahkan menemukan sosok peredam keputus-asaan dalam dirinya sendiri dalam sosok lain, yang sebenarnya adalah hasil dari keputus asaan yang akut.

Ketidak fahaman tentang dirinya, langkah hidupnya, sebab kegagalannya, dan kepenatan yang mendalam. dan disaat seperti itu akan datang pemikiran-pemikiran yang terkadang tak mampu ia lakukan saat senang, dulu. dan Tuhan sudah dianggap tak mampu lagi memberi solusi dengan semua permasalahannya. akhirnya logikanya pun berjalan tanpa arah, dan menuntut semua harus dibuktikan dengan otak dan nyata. Sementara logikanya tidak sejalan dengan logika orang pada umunya. Karena logika baginya adalah logika yang sesuai dengan logikanya dia, orang lain harus berlogika sesuai dengan logikanya dia. Padahal logikanya terlahir dari sebuah ketidah fahaman.

CMIIW


Bloklimasatu.com - 350 tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk merubah jiwa, kepribadian orang-orang pribumi.

Jiwa pribumi yang seperti apa sebelum 350 tahun itu, yang seperti sekarangkah

Jika ada yang berkoar "itu bukan Indonesia", "Kita yang Indonesia", atau "Inilah Indoensia" Indonesia yang manakah?

Atau sudah berbalik 180 derajat kepribadiannya.

Jangan kesitu, gak baik.

Awas, kalau gak kasih dikasih makan, nanti bisa kuwalat.

Jangan dipotong pohonnya, nanti yang nunggu marah.

Siapa yang melakukan ini?

...... awas dan jangan jangan yang lain...

Orang tua ke anak kita, kakek kek ayah kita, ayahnya kakek ke kakek kita, dan seterusnya dan seterusnya.

Atau memang sudah tercetak di otak dan fikiran manusia bahwa orang tua pasti melakukan itu kepada anaknya?

Atau hanya akal-akalan orang tua saja?
Ataukan itu pelajaran dan pendidikan yang diterapkan selama 350 tahun itu?
Sejak anak mulai bisa berjalan, bahkan bukan berjalan, dalma kandunganpun, anak-anak sudah diberi ultimatum oleh ayah dan ibunya, mungkin juga kakek dan neneknya.

Jika usia kita sekarang 20 tahun, maka sudah 20 tahun lebih kita ditakut-takuti.

Dan saat memiliki anakpun nantinya itu akan tertular secara tidak langsung.

Perilaku TAKUT-MENAKUTI yang diturun temurunkan dan sudah menjadi sebuah system.

Bukankah 350 Tahun itu sudah berlalu? Ataukan 350 tahun itu sudah merubah begitu banyak merubah system dan otak dna pola fikir manusia?

Semoga tak ada KOMPENI KOMPENI PRIBUMI.

System yang diwariskan oleh KOMPENI. Sebuah nama yang diidentikkan dengan orang-orang belanda yang suka menindas dan mendikte dengan kekerasan dan kelicikan.

Sudah terlalu lama kita diikat, dicekik, disadak, digantung, DITAKUT-TAKUTI.
CMIIW