Tampilkan postingan dengan label Favorite. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Favorite. Tampilkan semua postingan
Bloklimasatu.com - Hai, Assalamualaikum wr wb. Apa kabar kalian semua? Tentu baik-baik saja bukan? Semoga begitu adanya. Bagaimana puasanya sampai saat ini, lancar, semoga. Ada rencana apa lebaran nanti selain berlebaran dengan keluarga dan tetangga? Ada niatan untuk reuni? Atau silatnas gitu?
Undangan SILATNAS IKPA ASSALAM 2019
Nah, pada kesempatan kali ini, mimin bakal ngasih contoh surat undangan silatnas atau silaturrahmi Nasional, atau reuni lintas generasi.

Inilah contoh undangan silatnas.

|
v
PANITIA REUNI AKBAR
IKATAN KELUARGA PONDOK PESANTREN ASSALAM
BANGILAN – TUBAN – INDONESIA
Jl. Raya Bangilan No.01 Bangilan Tuban Jawa Timur Kode Pos 62364

Bangilan, 29 Mei 2019

Nomor : 003/ PRA. IKPA / VI/ 2019 Kepada Yang Terhormat
Lamp. : - Ust/Usth. .........................
Hal : Undangan Di-
Tempat




Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bismillahirrohmanirrohim

Salam silaturrahim kepada segenap ustadz/ ustadah Ponpes ASSALAM Bangilan Tuban. Berkenaan dengan adanya acara Reuni Akbar Ikatan Keluarga Pondok Pesantren ASSALAM (IKPA) Bangilan Tuban, kami mengharap kehadirannya besok pada :

Hari/tanggal : Senin, 10 Juni 2019
Waktu : 08.00 – selesai
Tempat : Ponpes ASSALAM Putri Bangilan Tuban

Demikian undangan ini kami sampaikan, harap maklum adanya dan atas perhatian serta kehadirannya kami sampaikankan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


Panitia Reuni Akbar IKPA
Ikatan Keluarga Pon- Pes ASSALAM
Bangilan Tuban

Ketua IKPA Ketua Reuni Akbar

Moh. Marwan, S.Pd.I Sutrisno, S.Pd


Mengetahui
Pondok Pesantren ASSALAM
Bangilan – Tuban
Pengasuh


KH. Yunan Jauhar, S.Pd. M.Pd.I

Atau bisa didonwload di bawah ini
Bloklimasatu.com - Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, banyak masyarakat yang bekerja di kota kota besar ataupun luar pulau bahkan luar negeri yang mudik besar besaran ke kampung halamannya untuk bertemu dengan sanak keluarga dan sahabat dekat. atau sekedar memanfaatkan waktu libur guna merefresh pikiran dan otak dari kepenatan pekerjaan.
Contoh Undangan Bantuan Konsumsi kegiatan Kirim Do`a dan Buka Bersama - bloklimasatu.com
Waktu waktu seperti ini sering digunakan untuk bertemu dengan teman-teman dan keluarga dengan memanfaatkan moment waktu berbuka. Dalam acara- acara seperti ini biasanya juga sering diselipi dengan acara sosial, seperti bagi takjil, kirim, doa, ataupun santunan anak yatim.

Dari gagasan acara seperti ini, tentu membutuhkan akomodasi yang tidak bisa disepelekan terlepas dari pendanaan yang juga harus cukup. sebut saja undangan. Bila tidak ada yang mengurusi hal ini, tentu akan terasa aneh bila suatu acara diadakan tanpa adanya undangan.

Berikut ini adalah contoh undangan bantuan konsumsi kegiatan kirim doa dan buka bersama di musholla at-Taubah Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban.

-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------


P A N I T I A  R A M A D H A N 1439 H
MUSHOLLA “AT-TAUBAH”
Sekretariat: Musholla At-Taubah, RT.01 RW.05 Dukuh Ngrayung, Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan 62364 Tuban

                                                                                   Kepada
                                                                         Yth. Bapak/ Ibu/ Sdr (i)
                                                                                   Di_
                                                                                                Tempat



 “Apabila anak Adam telah meninggal, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara: Shodaqoh JariyahIlmu yang Bermanfaat dan Anak Sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya”. (Al Hadits)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur Alhamdulillah kita haturkan kehadirat Allah SWT, karena sampai saat ini kita masih diperkenankan bertemu dengan Bulan Suci Ramadhan 1439 H, bulan yang sangat kita nanti-natikan kehadirannya. Selanjutnya dengan ini kami atas nama Panitia Ramadhan Musholla At-Taubah Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo bermaksud memohon bantuan konsumsi untuk kegiatan Kirim Do`a dan Buka Bersama pada:

Hari                            : Rabu
Tanggal                      : 13 Juni 2018
Waktu                        : 16.00 WIB / Jam 4 Sore
Jumlah                       : 10 Nasi Bungkus

Demikian permohonan kami ini kami ajukan. Atas keikhlasan dan kesediaan Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih. Semoga Amal Ibadah Bapak/Ibu diterima Alloh SWT. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Mengetahui
A/n. Pengurus Musholla At-Taubah
SYIHABUDDIN


-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------

Demikianlah Contoh Undangan Bantuan Konsumsi kegiatan Kirim Do`a dan Buka Bersama. Semoga bisa bermanfaat bagi sahabat semua.


Bloklimasatu.com - Dalam rangka memeriahkan bulan Ramadhan 1438 H, masyarakat Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban Jawa Timur mengadakan lomba tongklek yang diinisiasi oleh pemuda NU Kecamatan Bangilan pada tanggal 10 Juni 2017 bakda Tarawih.

Meski nomor urut pertama baru berjalan sekitar pukul 21.00 WIB lebih, masyarakat yang antusias menonton sudah berjajar rapi sedari jam 20.00 WIB. tidak hanya muda mudi yang dengan rapi sudah memarkir kendaraannya di area kosong pinggir jalan, anak-anak dan orang tuapun tidak ketinggalan.

Bahkan bapak beranak 3 yang berdomisili di Kecamatan Singgahanpun menyempatkan waktunya untuk menyaksikan acara ini bersama sahabat karibnya. "Saya sangat mendukung acara positif seperti ini. Kalau bisa tahun depan pesertanya ditambah dan panitia lebih merapikan jalanan dengan bekerjasama dengan pihat terkait, agar penonton bisa gayeng menikmati tontonan ini." jelas Kang Dim.

Melaju dari perempatan Desa Ngrojo, dengan melewati desa Weden, Desa Sidokumpul, Desa Kedungharjo, Desa Bangilan, dan berakhir di Desa Sidodadi Kecamatan Bangilan sekitar pukul 23.00 WIB.

Meski bersifat hiburan, panitia tetap menyediakan penghargaan bagi peserta terbaik. diantara diberikan kepada ponpes Assalam 2 sebagai juara 1, Ponpes Assalam 1 sebagai juara 2, dan Desa Sidokumpul sebagai juara 3.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada video di bawah ini. Jangan lupa di like, Koment, dan Subscribe.




Bloklimasatu.com - Sebelumnya ane mau cerita dulu ya gan. Sejak dari sekolah sering dapat tugas baut ngerekam atau record pidato pimpinan pesanten. mulai dari kaset pita, sampek menggunakan komputer. karena dulu memang masih sangat minim fasilitas dan pengetahuan. Hasilnyapun maish sangat sederhana. apa yang diterima oleh alat perekam, itulah hasil akhirnya.

Sampai pada suatu saat ada permintaan dari pimpinan pesantren buat mengganti kalimat yang salah. bingungnya setengah mati. disamping yang nyuruh adalah pimpinan pesantren, tugas yang diberikan beliaupun merupakan tugas mulia bagi setiap siswa.



Bertanya dari satu teman ke teman lain tidak menemukan jawaban. Namun tidak menyerah, sampai punya inisiatif baut ke tempat tukang shoting, yang saat itu tempatnya lumayan jauh, tepatnya di Kabupaten Bojonegoro, sementara saya tinggal di pelosok Kabupaten Tuban Jawa Timur.

Alih-alih bisa mendapatkan softwarenya dengan gratis, belipun tak dikasih. bahkan melihat prosesnya saja tidak bisa. Mungkin karena dari situ dia mendapatkan rupian, itu pula yang menjadikan semuanya serba dirahasiakan.



Dalam perjalanan pulang pikiran semakin kacau, yang menjadikan harus berhenti sejenak buat rehat dan sholat asar kala itu. Namun justru disinilah jalan keluar itu ada. Di depan Masjid ada papan toko yang bertuliskan Warnet. Nah dari situlah saya menemukan jawabannya meski dengan biaya yang lumayan waktu itu. Dan akhirnya usaha jasa semacam pula yang saya geluti 5 tahun terahir dengan nama Warnet SOYA Intermedia.

Oke, ceritanya cukup dan sekarang kita masuk pada tutorialnya, yaitu Tutorial Cara Edit Suara Dengan AVS Audio Editor

1. Silahkan Download aplikasinya dan install di komputer.

2. Buka, dan siap untuk melakukan editing.

3. Fitur
a. Recoring
b. Editing
c. Meberi efek
d. Mixing
e. Dan masih banyak lagi fitur-fitur lain.



Caranya cukup simpel. Semua fitur sudah disediakan dan pilih new, dan lanjut sesuai keinginan.

Bila ada yang kurang jelas, bisa didiskusikan di kolom komentar.


Bloklimasatu.com - Setelah kemarin Blok 51 menjelaskan tentang Cara Mudah Transfer File Foto Video Dari Android Ke Komputer Tanpa Kabel, kali ini kami akan berbagi mengenai Cara Backup Dan Restore Aplikasi Android Beserta Datanya.

Mungkin dari prakata di atas ada sebagian warga Blok 51 yang belum begitu jelas apa maksudnya. Nah, jadi begini. terkadang karena rusak, atau kapasitas memory yang terbatas, kita dipaksa untuk menghapus beberapa aplikasi yang sudah terinstal di android kita. dan celakanya, yang paling disarankan adalah aplikasi dengan kapasitas besar dan meruapakan aplikasi kesukaan kita.

Maka dari itu Blok 51 tanpa panjang lebar lagi akan membagikan aplikasi yang bernama Titanium Backup yang bisa kalian download di playstore.

Berikut adalah langkah-langkahnya.

1. Setelah aplikasi terinstall di android, silahkan buka dan lanjutkan dengan memberikan akses rootnya


2. Pilih salah satu aplikasi yang akan dibackup dengan menyentuh iconnya


3. Ada banyak pilihan disana. Pilihlah bagian BACKUP


4. Pilih UNINSTALL untuk mengembalikan aplikasi terpasang di android kita


5. Jika diperlukan kembali aplikasi ini bisa diinstall kembali dengan menekan ikon aplikasi yang dimaksud dan memilih RESTORE. Maka aplikasi akan kembali seperti semula lengkap dengan datanya. tanpa harus download lagi ataupun meng-Updatenya.



Demikian penjelasan singkat mengenai Cara Backup Dan Restore Aplikasi Android dan Data Dengan Titanium Backup. Semoga bermanfaat.


Bloklimasatu.com - Malam ini Blok 51 akan berbagi aplikasi dan informasi atau trik cara mudah transfer file dari android ke komputer tanpa harus ribet meskipun dengan HP yang terbilang murah, Apalagi di HP yang mahal deng fitur dan kekuatan yang yang lebih tentunya. File yang ditransfer bisa berupa foto, video, ataupun file-file lainnya.

Di samping mentransfer file dari android ke komputer, kali ini Blok 51 juga akan membagikan aplikasi yang bisa digunakan untuk mentransfer file dari komputer ke android, dan uniknya aplikasi ini tidak membutuhkan kabel usb untuk menghubungkannya.

Baiklah, biar tidak terlalu lama monggo disimak penjelasannya secara singkat.

1. Silahkan download aplikasi dari playstore





2. Setelah aplikasi terunduh, silahkan buka

3. Setelah terbuka, nyalakan laptop atau komputer dan bukalah browser andalan anda dan tulislah IP yang tercantum di android anda dengan diikuti :8888 dan tekan ENTER

4. Maka di layar android akan muncul pemberitahuan untuk menerima permintaan dari komputer. maka pilihlah yang ACCEPT jangan yang REJECT

5. Nah, setelah proses di atas selesai, anda bisa mengirim file dari android sesuka hati anda dengan menekan tombol DOWNLOAD pada file yang diinginkan.

6. Atau memindah file dari komputer ke android dengan cara men-drag (menggeser) file yang dinginkan.

Buat kamu yang ingin tahu lebih banyak mengenai informasi tentang HP apapun, dengan ulasan yang sangat lengkap bisa membuka situs situs berikut. dijamin puas mendapatkan reviewnya.



Bloklimasatu.com - Senja itu telah memudar, dan dunia kunang-kunang perlahan menampakkan eksistensinya. Desiran angin gunung semakin memanjakan setiap hembusan penghuni lembah cinta. Aroma khas belerang seperti obat nyamuk yang memeluk kulit-kulit yang semakin menggigil, tak terkecuali Blind yang semakin akrab dengan tempat tidur barunya. Beralaskan klaras dan berselimut pandan wangi mengantarkannya semakin pekat dalam mimpi. Gesekan-gesekan bulu jangkrikpun serasa violist sedang asyik memainkan nada pengantar tidur, nikmat sekali rasanya. Oh tidak, tidak senikmat itu rupanya. Sedikit demi sedikit langit mulai mengencingi ibu jari kakinya yang terlewat dari daun pisang kering yang menyelimuti tubuhnya. basah, dan semakin menjalar hingga membasahi pantatnya. Sepertinya langit malam sedang kesepian, ia tahu ada seonggok daging bernafas sedang memamerkan kenyamanan di tengah kerja kerasnya memikul jutaan manik-manik malam.

“Oh, jahat sekali kau malam, tak tahukah sepanjang langkahku habis untuk menjaga kenyamanan tuanku menghamburkan uang untuk lampu hias, taman bunga, monumen-monumen nirmakna, atau sekedar mengecat ulang patung pria yang dianggapnya ayah, dan tahukan kau, itu palsu. Biarkanlah aku sejenak bernafas normal.” Kesalnya sambil ia nayalakan sebatang rokok dan bersandar dalam apitan akar kepoh sambil menikmati sisa-sisa mimpinya.

Sepertinya langit sedang anyang-anyangan, tak hentinya ia mengencingi beberapa bagian tubuh Blind yang semakin tersudut tanpa bisa menghindar alirannya. Dan di tengah-tengah himpitan air, suara jangkrik, dan gesekan daun ploso yang tersapu angin terdengar sayup-sayup teriakan perempuan dari gubuk seberang. Secepat kilat ia singkirkan daun-daun yang menali simpul tubuhnya, ia lempar rokok di jari yang baru terpakai beberapa hisapan, dan berlari tunggang langgang menghampiri sumber suara tadi.

“Bangsat kau Haikal! kau memang kotor, tak seharusnya kau menodai air lembah cinta ini dengan bau busukmu itu, menjijikkan!” bentaknya sambil menendang pantat Haikal sekuat tenaga tanpa memberi kesempat untuk menghindar, dan Haikalpun terjengkal dan jatuh dari atas gubuk bersimbah lumpur. Hampir saja Blind turun dan menenggelamkan tubuh cungkring itu ke dasar bumi jika Meylinda tak melarangnya.

“Sudahlah Blind, tak perlu kau benamkan ia ke dalam lumpur itu, ia sudah terlalu jauh terbenam dalam imaji atas nikmati kulitku, dan aku masih baik-baik saja selain bercak liur yang dulu sempat ku bayang madu.” Sengguknya seraya menenangkan Blind yang masih menggetar kepal dengan sejuta amarah.

Keheningan dalam gubuk terasa makin menyuntuk kala tak sepatah kata terletup dari mulut Blind, dan Maylinda masih sesenggukan dalam getar sembari membenahi rambut yang sempat berserakan.

“Kau masih seperti biasanya saja, tak adakah sedikit welasmu untuk wanita yang tersungkur dalam temaram ini? Tak ada tuanmu disini, dan kau tak perlu lagi bersikap seperti paspampres yang sedang mengawal ndaranya.” Hanya suara korek api yang membakar lintingan tembakau sambil melenturkan kaki Blind menggantung dari atas gubuk.

“Jika hanya tubuh dan bau asap rokokmu itu yang menemaniku, apa bedanya dengan mayat, hantupun tak akan tertarik untuk mendekatimu”. Sambil menggeserkan posisi duduknya ke pojok bangunan reot berkaki empat itu.

“Sepertinya memang kau tak pernah teratarik dengan lawan jenis, atau mungkin mungkin hanya menjadikan kami para wanita ini sebagai gula dalam kopimu yang memang hambar atau mungkin pahit, sma seperti tuanmu? Entahlah, memang aku tak pernah merasakannya. Bedanya dia punya puluhan bahkan mungkin ratusan toples gula yang menjadikan wedangnya manis, dan kau apa? Menjadi seperti Haikal aja tak mampu.” Masih tak ada gerakan dari mulut Blind, dan Meylinda mulai melepaskan kebayanya yang sempat basah.

“Jangan kau paksa aku untuk mematahkan sayap bidadari yang sempat baku berikan padamu, aku tak akan pernah menjadi anjing lapar yang merampas makanan tuannya di atas meja. Jadi, rapikan kenakan kembali kebaya itu, setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan.”

“Oh, suci sekali kau ini. Aku tak tersanjung, ini hinaan terdahsyat yang pernah terucap dari mulut berasapmu.”

“Turunlah, mari tinggalkan tempat keparat ini. Kereta api menuju Jatirogo akan lewat sebelum jam 7 pagi jadi jangan sampai tertinggal, atau aku tak sempat membelikanmu baju baru, dan arwahku akan bertemu dengan hantu-hantu sebelumnya.”

Perjalananpun dimulai melewati gerumbulan hutan dan petakan sawah-sawah yang tak terurus, licin, dan tentu banyak hewan melata berkelian. Sepertinya angin memang tak mau diajak berkawan, deburan kabutpun terusir angin utara yang semakin menusuk tulang dinginnya.

“maukah kau menggendongku? Sendi-sendiku terasa beku, aku tak sanggup melanjutkan perjalanan ini. Dan jika kau masih bertahan dengan egomu, tinggalkanlah aku disini dan pergila dengan kereta pasir itu sendirian. Meski anjing-ajing yang mulai berkeliaran itu mencabik-cabik tubuhku, atau ular-ular lapar itu mematuk kaki, aku tak peduli. Karena satu-satunya manusia yang mengagumiku sudah kau hempaskan dan tau sudah berapa anjing yang siap menerkamnya. Dan kau, sepertinya juga tak jauh beda.” Dan tanpa basa basi Blindpun membopong keri kecil itu dari belakang yang memang sedari tadi membuntuti dari belakang, dan Meylindapun tertidur.

Bersambung.....

Bloklimasatu.com - Mentari belum sepenuhnya memancarkan sinarnya, Namun kicau burung sudah saling bersautan menemani ibu-ibu mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suami mereka. Jalanan yang masih pekat dengan embun samar-samar mulai pudar seiring hentakan sepatu pegawai dan anak sekolah, para mahasiswa dengan roda duanya.

Tak akan ada yang menyangka bagaimana dulunya kota kecil nan jauh dari hiruk pikuk ibu kota ini bisa lebih maju dan higienis dan seluruh kota di dunia. Bagaimana tidak, hampir tidak ada polusi dudara ataupun limbah di tempat ini, pun dengan pengangguran. Setiap tenaga manusia tercurah untuk setiap industri yang dikerjakan, semua menggunakan tenaga manusia dan bahan-bahan dari alam yang tidak memiliki dampak berbahaya untuk masa depan. Tak ada deru mesin jalanan yang menyaingi suara guru sedang memberi penjelasan kepada siswanya, hanya andong yang sesekali lewat, tidak untuk mengambil sampah dari depan rumah warga, tetapi petugas kecantikan taman, yang merapikan atau mengganti tanaman atau bunga yang mulai tua di sepanjang jalanan kota.

Pemerintah kota tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi dan insutri mekanik, bahkan banyak dari tim ahli di perusahaan-perusahaan besar di di negara lain menginjak tanah pertama kali di kota ini, akan tetapi kesadaran warga yang sudah dipupuk dengan sistem kepemimpinan yang sudah berjalan secara turun temurun.

Ya, kemajuan kota dari sisi ekonomi, teknologi, manusia, maupun alam yang selalu dijaga ini tidak lepas dari sosok Karna. Sosok pria sederhana dari keluarga yang tak seorangpun mengira akan menjadi pencetus sistem pemerintahan terbaik di dunia. Bagi penduduk kota ini, Karna adalah manusia terbaik yang tumbuh dari keluarga terbaik yang dikirim Tuhan untuk memberi tanda kuasa Tuhan tidak diberikan berdasarkan keturunan saja. Kerja keras, ketaatan, doa, dan usaha orang tuanya.

Bagi Karna ketaatan adalah pegangan utama untuk menjadi manusia sesungguhnya. dan itu dibuktikan dengan sabar dan taatnya dia mengikuti perintah eyang guru. Delapana tahun tidak sedikitpun mendapat pelajaran kanuragan dari sang eyang. Ilmu yang didapat hanyalah mengambil air di belakang padepokan Wilujeng Raharja untuk mandi para murid dan mengurus tanaman di sekitar padepokan.

Langkahnya untuk memajukan kota menjadi pusat belajar dan perekonomian negara tidak serta merta jadi. Halangan yang begitu besar datang silih berganti.Setelah Eyang guru meninggal, wasiat terahirnya adalah Karna sebagai pewaris padepokan yang setiap titahnya wajib ditaati setiap penghuni kota. Pimpinan padepokan adalah pemimpin kota. Empat puluh hari berlalu, padepokan dan sekitarnya terlihat seperti kota mati, sampai segerombolan orang datang dengan pakaian dan kendaraan serba mewah yang dipimpin seorang wanita mengaku sebagai anak eyang guru dan menagih warisan dari ayahnya.

Memang berdasarkan cerita, eyang guru memiliki sepasang putra putri, namun setelah dewasa dengan ilmu kanuragan yang cukup muncul rasa jumawa dan meninggalkan padepokan, karena baginya sudah tidak ada lagi tantangan di kota kecil dengan bau belerang dimana-mana.

Seluruh warga bingung dengan kondisi ini, "Bagaimana mungkin seorang perempuan akan memimpin kota yang pernah ditinggalkannya, sementara dia pergi saja karena jijik dengan kota ini, bisa-bisa nanti kota ini dijual dan kita akan merasakan yang namanya menderita". ujar Munir yang memang didakwa sebagai lurah.

Munirpun berinisiatif mengumpulkan seluruh pimpinan desa dan pemuka agama untuk mencari solusi dari benih pertikaian yang mulai tumbuh, dari hasil musyawarah, Karna adalah pewaris sah padepokan Wilujeng raharja dan berhak memimpin kota sementara keturunan laki-laki dari eyang guru tidak tahu kemana. Namun baru saja keputusan itu dibacakan, datang seorang pria setengah baya dengan wajah mirip eyang guru. semua terperanjat, takut, kaget, bahkan ada yang menyangkan eyang guru terlahir kembali dengan sosok yang lebih muda.

"Aku Ludira, pewaris utama eyang guru. aku kesini tidak untuk mewaris kepemimpinan atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin mengambil pusaka pedang catur jiwo milik bapakku".

Tak seorangpun berani berbicara kecuali pria setengah meter dengan rambut yang lebih panjang dari ukuran tubuhnya, Munir. "Mari ku antar ke padepokan, mungkin Karna bisa mebberi penjelasan" ujarnya.

Ludira pun bergegas menuju padepokan dengan kuda hitamnya yang gagah.

Tanpa basa basi langkahnya tertuju ke saung utama dimana eyang biasa merebahkan badan dan menemui para tamunya yang Ludurapun sebenarnya belum pernah memasuki ruangan itu. Ia terheran dengan pemandangan yang dilihatnya, tak ada aroma mistis ataupun senajata pusaka, hanya buku-buku tebal tertata rapi dari ujung pintu satu ke ujung pintu lainnya. "Kang Ludira, ada yang bisa saya bantu?" sapa Karna.

"Kau pasti karna. Tenang, aku kesini tidak untuk merampas kepemimpinan yang diberikan bapak kepadamu atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin pusaka bapakku, kau tentu tau yang aku maksud." sergah Ludira.

Karna mulai bingung bagaimana memberikan jawaban yang tepat agar tidak tersinggung dan marah. Sementara ia tahu dari eyang guru pusaka pedang carur jiwo hanya sebuah istilah, bukan sebuah benda.

"Aku mengerti kakang, benda itu disimpan eyang di dalam ujung goa bawah air terjun belakang padepokan. untuk memasukinya kau harus bertapa empat puluh hari empat puluh malam, dan kau hanya boleh makan saat matahari itu tak terlihat. Tentu kau mengerti maksudku". Jelasnya.

"Oh, ternyata begini caramu Dira. kau masih saja bodoh dan tidak bisa bermain cantik untuk mendapatkan yang kau inginkan, kau tetaplah pria bodoh Ludira. Dan kau Karna, kau tidak sopan memberikan rahasia bapak kepada anak ingusan ini tanpa membertahuku dulu sebagai keturuanan pertama bapak." potong Minawati yang sedari tadi mengintip dari luar.

Hampir saja pertikaian besar terjadi, karena Ludira menjawab hinaan kakaknya dengan kilatan pedang yang siap menebas leher kakaknya itu. pertikaianpun terjadi. Saling adu kanuragan tak bisa terelakkan. Ditengah perkelahian satu darah itu Krna berujar, "Teruslah berkelahi dan saling bunuh, karena 40 hari ke depan aku yang akan mendapatkan pusaka itu tanpa halangan berarti." dan merekapun menghentikan perkelahian yang sedang seru-serunya dan beralih beradu cepat menuju bawah air terjun yang sedang deras-derasnya, dan mereka mulai membuat tempat pertapaan.

Baru tujuh hari merasa tenang dari gangguan anak-anak eyang guru, berita duka datang dari kampung halaman Karna, kedua orang tuanya ditemukan meninggal bersimbah darah dirumahnya. emosinya memuncak, tiraninya berkuasa, ingin rasanya ia membunuh pemilik gelang emas yang ditemukan dalam genggaman ibunya, dan semua orangpun tahu siapa pemilik perhiasan itu.

pikirannya berkecamuk, antara air mata dan dosa, antara dendam dan balas jasa. hampir setiap jam ia memantau perkembangan dua gubuk kecil di samping air terjun, dan memang minawati memiliki strategi yang cerdik, bahkan licik dibanding adiknya, Ludira. Ia memilih tempat teraman dan terdekat disamping mulut goa, sementara Ludira tepat dibawah aliran terjun, yang jika terjadi banjir bandang, ia akan karam bersama gubuknya.

Tepat seminggu sebelum empat puluh hari sepeninggal orang tuanya, karna dikagetkan dengan ramai sorak sorai warga dari arah air terjun. Ia pun bergegas kesana, dan puluhan warga sudah berkerumun menonton pertunjukan yang tidak wajar. Sepertinya Karna datang terlambat, sesampainya di air terjun kedua anak eyang guru itu telah terkapar dengan pedang tertusuk di ulu hati masing-masing.

Warga yang tadinya tak berani mendekat, karena kedatangan Karna segera menolong mayat keduanya, namun belum sampai mayat dipegang, terdengar gemuruh yang begitu dahsyat yang diketahui warga sebagaia tanda datangnya banjir bandang kiriman dari kota sebelah. Wargapun berhamburan meningalkan lokasi. Benar saja, air bah menggerus gubuk dan dua tubuh tanpa nyawa tanpa tahu dimana bermuara.

Bloklimasatu.com - Apa yang terjadi malam itu seperti tumpukan sampah. kotor, bau, berantakan. setiap hisapan nafas yang ada hanya sesak, pusing, ingin muntah. Pun begitu dengan apa yang berkecamuk dalam dadaku, dalam kepalaku.

Dua pasang bola mata yang selalu meneduhkan, bibir tipis yang menggumamkan rindu itu kembali datang mengusik. Ya, kedipan-kedipan teduh itu tak terlihat lagi, hanya rintikan air yang tak lagi mampu terbendung. Bibir tipis yang selalu mengungkapkan kemanjaan, lenguhan, bahkan ketusan itu tak lagi tersungging.

Aku duduk di kursi sofa ruang ini. Hampa, berantakan, dengan meja-mejanya yang tak lagi terkemoci, lantai putih yang tak lagi terpel dengan aroma terapi yang biasanya kau sempatkan waktu untuk membasuhnya sebelum tapak-tapak bising berdasi menggenggam kayu bertulis 1 sampai 100. Di meja baris ke dua itu aku biasa menumpuk buku-buku dan pena merah. Dan setiap jam 20.30 aku mengencaninya untuk sekedar memberikan kenang-kenangan bertulis jayyid, jayyid jiddan atau bahkan mumtaz. sebuah tanda yang nanti akan mejadi nostalgia dua atau tiga tahun yang akan datang seperti yang kau cubitkan di pinggangku malam ini. Sebuah cubitan atas godaku dengan nilaimu yang tak menyentuh angka maksimal, meski hanya tertuang dalam satu atau dua kata berbahasa arab saja.

Aku tak begitu mengenalmu sebelumnya, apa lagi memperhatikan terlalu jauh, karena yang ku tahu kau adalah bayangan dari kerudung merah yang selalu tersenyum untuk setiap tamu yang datang. Kau adalah telik sandi saat baju biru tertangkap segerombolan pasukan istana. Aku tidak gugup apalagi takut. Bahkan aku menikmati setiap kekhawatiran akibat dari tindakanku malam itu, dan aku lupa bahwa kau hanya sebuah bayangan si hidung tungku.

Kau laksana operator seluler yang selalu mengingatkan isi perutku sudah mulai kosong. Kau adalah sapu tangan saat jari-jariku mengiramakan piano kesedihan, dan kau menyeka rintikannya. Aku tidak risih meski ratusan pasang mata mengintip dari sela-sela cendela kaca yang seakan menutupi. Tapi itu bohong, macam bohongku atas rasamu yang tertutup kerudung merah.

Ku rebahkan tubuhku di sofa panjang dimana kau memelukku erat di keremangan malam, saat hanya satu atau dua pasang kaki yang sesekali melintasi. Malu rasanya bila sampai anak-anak baru yang tiba-tiba memenuhi ruangan ini melihat kesembaban mataku.

Ku pejamkan mataku dan mulai ku dengarkan lagi kesukaanmu, dan aku tertidur. Samar-samar aku mendengar dering telepon; kau jatuh di depan rumah seorang kawan lama. banyak darah kau terpejam, dan sesekali kau lontar senyum dalam boponganku. Pekat sekali mata ini, sepertinya kopi mak Konah tadi pagi tidak begitu berimbas pada begadangku semalam. Ku hubungi orang tuamu, ku pastikan semua baik dan aku terbangun. Aku bermimpi, mimpi pada masa lalu yang kembali muncul dalam desktop otakku.

Kita sudah sangat sering bertemu, saling curi pandang, saling ejek, dan kita kenal, sampai semua sesak di dadamu tak lagi mampu kau tahan. Dalam derai bahagia kau curahkan rasa, aku tak peka. Diruang kecil samping toilet itu aku lupa telah berani memelukmu, menciummu, mengusap setiap peluh yang membasahi serakan buku laporan yang baru saja kau rapikan. Aku menangis, tapi itu bahagia.

Satu setengah tahun nuansa bening berhias pelangi itu ku sadak. Sampai beruang berbulu ungu itu kau bakar dan kau tulis surat terakhir dalam gerimis tahun baru cina dua tahun silam, dan kau tetap ada. Ada dalam setiap kuncup padi yang menanti mentari dalam petak sawah hatiku.

Bloklimasatu.com - Kajian Komunitas Kali Kening Bangilan ke 9 ini terasa berbeda. Karena pada sesi diskusi salah seorang anggotanya yang bernama Rohmat Sholihin yang juga alumni atlet sepak bola di Bangilan memberikan berita yang sangat menarik dan bisa jadi tantang besar bagi Komunitas Kali Kening yang baru seumur jagung.

Sore itu di Base camp Banjarworo Bangilan Pak Rohmat menyampaikan keinginan salah satu pimpinan pesantren dan Madin yang ada di salah satu desa di kecamatan Bangilan, Desa Bate tepatnya. Isi usulannya adalah suapaya K3 sebutan atau singkatan Komunitas Kali Kening supaya memberikan kajian, pembelajaran. ataupun berbagi pengalaman kepada santri-santri yang kukuh mengaji agama di desa terpencil di kecamatan Bangilan itu.

Para anggota K3 yang hadir sore itupun menyambutnya dengan baik dan tidak mau menunggu terlalu kepercayaan yang mulai diberikan oleh masyarakat ini. Maka dari pertemuan yang terasa lebih lama dari biasanya ini di lanjut ke teras Cafe selepas sholat maghrib untuk mendapatkan suasana yang lebih fresh.

Di cafe Teras itulah anggota K3 memutuskan 12 Desember 2016 sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Dengan alasan hal yang baik harus disegerakan, maka malam itu juga semua anggota mendapat tugas. Diawali koordinasi dengan pihak penyelenggara yang tidak lain adalah ponpes dan madin Al-Isyroq pimpinan KH. Nurus Shobah yang biasa dipanggil dengan Gus Shobah. Dan sepertinya Tuhan berbaik hati pada K3, karena piham pesantren menyetujui setiap keinginan dari K3.

Satu hari adalah waktu yang sangat singakt terasa untuk acara yang dipandang sangat besar oleh K3. Namun dengan kerja keras dan koordinasi yang ciamik, pagi itu 12 Desember 2016 semua persiapan sudah terselesaikan dengan baik. Mulai dari alat tulis, stiker, banner, dan tentunya anggota K3 itu sendiri.

Perjalanan dimulai dari toko salah satu anggota K3, Kafabih. Dengan kendaraan roda dua, semua anggota bergegas membelah jalanan Bangilan, Ngrojo, Kablukan, dan sampailah di Al-Isyroq. sesampainya disana anggota K3 disambut dengans angat hangat. Untuk menghormati waktu, tepat pukul 9 acara dibukaLinda Tria Sumarno dan dilanjut dengan pembacaan tilawah oleh salah satu peserta. Sebelum masuk pada acara inti, K3 memperkenalkan diri dengan berbagai macam kegiatan dan kajian-kajiannya yang diwakili oleh Dino Jumanta. penjelasan jurnalistik dan beberapa materi yang sangat menarik berturut-turun dari A. Rafiq, oghmat Sholihin, Joyo Juwoto, dan tentunya Lurah K3 Ikal Hidayat.

Dalam kegiatan ini, disamping beberapa materi yang telah dijelaskan dan mampu diterima dengan baik oleh para peserta, K3 juga ingin secara langsung memberikan output berupa mading. dan tidak disangka, hasilnya sangat memukau. mading berhasil diselesaikan oleh para santri dengan sangat cepat. meliputi cerpen, puisi, gambar, dan kaligrafi. Dan diluar perkiraan, ternyata para ustadz dan ustadzah juga ikut menyumbangkan karyanya, terlihat dari beberapa nama yang tertera dari karya yang dikumpulkan untuk disortir dan dipasang di papan mading yang memang sebelumnya belum ada dan baru kita buat.

Acara inipun mendapat respon yang bermacam salah satunya dari peserta yang bernama Heri, "Setelah mengikuti workshop, rencana bersama teman-teman akan membuat mading Madin."

Acara berakhir pukul 14.00, anggota K3 bergegas pergi meinggalkan lokasi acara. Senang rasanya bisa bercengkerama dengan santri-santri dan ustadz ustadzah yang sangat bersemangat. Semoga kedepannya, apa yang disampaikan oleh K3 bisa bermanfaat untuk kehidupan pribadi maupun pesantren.

Bloklimasatu.com - Sudah lama rasanya tidak mendengar perhelatan keagamaan akbar di Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan. Dulunya, di dukuh ini hampir tak pernah putus tiap tahunnya diadakan acara besar-besaran bertema keagamaan. Sampai akhirnya ada perbincangan di warung kopi oleh sekelompok pemuda untuk membuat acara acara akbar yang sudah lama tak terdengar di Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan. Singkat cerita setelah beberapa kali melakukan rapat koordinasi demi terlaksananya perhelatan setahun sekali ini. setiap seksi yang ditunjuk segera melakukan tugasnya dengan cepat.

Kegiatan ini sendiri tidak begitu rumit dalam prosesnya, termasuk dalam penggalian dana. Karena setiap warga Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan sudah menyadari kemampuan perekonomian dan jumlah penduduknya. Sehingga pendanaan tidak sepenuhnya dibebankan kepada warga atau mengharapkan sumbangan dari pemerintah desa melainkan warga Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan yang merasa mampu untuk satu porsi acara akan menanggung kelengkapannya. Seperti Pembicara yang ditanggung 1 orang. begitu juga dengan panggung, kursi, terop, dan lain sebagaimnya.

Sementara, itu memanjakan perut hadirin untuk lebih tanek menikmati rentetan acara, panitia telah menyediakan hidangan makanan ringan yang diberikan di awal acara dan prasmanan di akhir acara.

Dalam proses penyediaan makanan ini sendiri disamping sudah ada warga yang siap menanggung, seluruh warga Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan yang notabene dari ibu-ibu rumah tangga gotong royong untuk memberikan hidangan terbaik.

Untuk seksi acara juga tidak mau ketinggalan. hiburan hadrah dan tari-tarian dari anak-anak pun disiapkan dengan apik dalam waktu yang sangat singkat.

Warga Dukuh Dukuh Ngrayung Desa Kedungharjo Kecamatan Bangilan pun menunjukkan kekompakannya ketika acara selesai dan hadirin sudah meninggalkan lokasi acara dengan membersihkan dan merapikan tempat acara kembali seperti sedia kala.

Bloklimasatu.com - Langkah-langkah polos bergandeng tangan-tangan lekat kerutan berderap meninggalkan aula sekolah. Dengan seragam hitam putih berikat dasi kupu-kupu terpercik linang kebahagiaan. Ku peluk Aila erat-erat.

“Kita akan sangat lama tidak bertemu setelah ini”. Ucapku.

Ia segera melepaskan pelukan eratku. Sorotan mata tajamnya serasa memecah korneaku untuk lebih deras lagi mengalir.

“Kenapa?” tanyanya seakan mengintimidasiku untuk cepat memberi penjelasan.

Wajahku tertunduk. Tak ada kata yang mampu ku ucapkan seperti saat kita biasa bersendau gurau di atas sepeda mini menyusuri jalanan menuju sekolah. Entah apa yang mengunci mulutku sehingga sepatah katapun tak mampu terucap dari bibirku.

Ia tarik tanganku keluar halaman sekolah. Hampir saja aku terjatih karena kencang dan erat tarikannya. Ia hadapkan aku ke arah patung besar bergenggam pedang di perempatan kota dekat sekolah kami.

“Lihatlah punggung pahlawan itu. Ia tak pernah lelah menjinjing besi tua untuk menakut-nakuti setiap yang datang dari hadapannya. Kau di belakangnya sekarang. Tak perlu takut untuk menceritakan kekesalah-kekesalan hatimu”. Dengan wajah belepotan tebal yang tersiram air mata, ia mencoba menenangkanku.

Memang, sebelum pulang sekolah aku sering menghabiskan waktu di samping pagar sekolah ini hanya untuk mengumpat, mencaci, bahkan meneriaki setiap orang yang menjadikan masalah di benakku. Dan tanpa sadar bibir inipun mulai menguntai kata-kata dengan begitu mudahnya.

“Mungkin tidak akan ada lagi yang mengumpatmu setelah ini, pak. Ini terakhir kalinya aku berbicara padamu meski tak akan pernah engkau jawab”. Ku lihat kanan kiri truk-truk besar berlalu lalang menggilas aspal dan tak pernah ku tau apa isinya.

“Nah, bibir bebek kayaknya sudah mulai rusak kuncinya”. Ledeknya.

Aku hanya tersenyum.

“Ketahuilah, setelah fajar menawarkan sinar mentari, aku tak akan mampu lagi mencium sejuknya. Mungkin mentari juga tak akan melekukkan bibirnya ke atas lagi sama seperti saat kita biasa menjemputnya di menara masjid dekat rumahmu”. Awan pekat mulai berkumpul di pelupuk mataku.

“Janganlah kau bikin aku malu pada bapak ini jika harus menangis dua kali. Aku takut jika nanti dia menengok”. Kental sekali logat batak itu terlontar, mungkin pengaruh film yang kita tonton semalam.

Aku mengajak berjalan sambil menuntun sepeda.

“Besok pagi-pagi sekali, aku akan di antar ke desa S untuk melanjutkan sekolah sekalian mondok di pesantren. Dan bapakku bilang, sesampainya di sana aku akan langsung mengikuti aktifitas yang ada dan setahun kemudian baru pulang. Dan mungkin hari libur kita tak akan sama”.

“Aku sedih karena kita tidak akan bertemu lagi. Namun aku juga bahagia karena sahabatku sendiri yang akhirnya mampu mewujudkan cita-citaku”.

Memang Aila punya cita-cita kuat untuk melanjutkan belajar ke salah satu pesantren terbesar di jawa tengah. Namun kondisi keluarganya yang kurang mengenal agama membuatnya memupus angan itu. Sementara aku yang anak seorang pemuka agama di desaku, tak punya sedikitpun cita-cita untuk mondok. Aku sudah cukup terkungkung dengan peraturan-peraturan yang diterapkan orang tuaku yang sama-sama lulusan pondok. Film korea yang hanya sekali seminggu tayang di tivi pun tak pernah aku tonton sampai tuntas setiap episodenya. Novel-novel terjemahan dari korea yang aku belipun tak bisa tenang aku membacanya. Api dapur akan menjadi pelabuhan terakhir jika sampai bapak ku menemukan novel-novel itu.

Sengaja pagi ini aku tak ke masjid. Aku ingin sakit saja agar rencana bapak itu tak terlaksana. Namun keinginku untuk bertemu Aila memaksaku keluar dari rumah. Namun Monster merah bernama Sedan tua milik pamanku sudah menunggu di halaman rumah. Aku sangat benci melihatnya. Ku urungkan niatku untuk berpamitan ke rumah Aila.

Perjalananpun dimulai. Aku harap mulai diperutku ini segera timbul seperti biasanya aku menaiki kendaraan. Tapi entah mengapa kondisi tubuhku baik-baik saja. Tak ada mual ataupun pusing. Aku pasrah saja diperjalanan. Tak ada pertanyaan dari bapak ataupun ibu yang aku jawab. Dan aku tertidur.

“Bangun nduk, turun. Kita makan siang dulu”.

Terlihat semburat kebahagiaan di wajah bapak dan ibuku. Mungkin baginya senyumku adalah jawaban setuju atas keinginannya, sama sekali tidak.

Di tengah-tengah kami makan, bapak membicarakan sungai yang mengalir di pinggir warung.

“di sungai seperti ini lah tempat bapak mandi waktu mondok, nduk” kenangnya.

Aku tak tau apa maksudnya, jika ingin menghibur tidaklah seperti itu caranya. Itu jorok dan menjijikkan.

Aku hentikan makanku dan menuju ke luar warung. Aku lihat kanan kiri jalan begitu ramai lalu lalang orang membawa belanjaan. Sesekali masih ku lihat kereta kuda dengan pak kusir tua membawa ibu-ibu dan belanjaannya ke arah kiri.

“kita mampir ke balakang dulu nduk. Kata bakul bakso ini, gerbang yang mirip prasasti di Kediri itu juga tempat anak-anak seusiamu mondok”. Rayunya sambil menggandengku menuju bangunan yang terlihat tak begitu megah sebagai sebuah pondok dalam bayanganku.

Kami tidak bisa langsung menuju gerbang itu, karena tidak ada akses jembatan yang menghubungkannya. Dan harus memutar ke kanan atau kiri untuk melaluinya.

Aku berjalan memasuki gerbang. Pohon-pohon jambu yang rindang. Buah nangka yang harumnya mulai menusuk. Perempuan-perempuan kecil yang menyapu halaman, dua pria berjenggot bermain tenis. Ada kemesraan terbangun antara kebebasan yang ku inginkan dengan area ini.

“Assalamu`alaikum. Mohon maaf bapak, ada yang bisa kami bantu?”. Tanya seorang pria berjenggot yang terlihat lebih tua dari satunya.

“wa`alaikumsalam. Apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat dan bertanya kepada kang santri tentang pondok ini? Siapa tahu gadis kecil kami ini bisa nyantri dan kerasan mondok disini”.

“dengan senang hati bapak. Mari”.

“Adek tidak ikut bapak dan ibunya keliling pondok?”. Tanya pria berjonggot satunya memecah lamunanku.

“Tidak kang, aku menunggu disini saja” jawabku menirukan bapakku.

“Ya sudah, saya tinggal dulu. Kalau butuh bantuan, tanya saja kepada mbak atau mas yang jaga pendaftaran di dalam”.

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih wajah tampan itu sudah berbalik meninggalkanku. Langkahnya begitu cepat dan begitu saja hilang tertelah ruang kecil di timur pohon jambu air yang menjulang. Notasi senyumnya, kedipan matanya, langkah kakinya, seakan tercetak tegas di pelupuk mataku. Sampai seorang perempuan dengan jas biru dongker memecah harmoni menawarkan selembar prosur.

Ku buka lembaran lebar dan ku baca isinya. Aku makin jatuh cinta dengan tempat ini. Di samping ada jenjang sekolah yang aku inginkan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas, kegiatan luar sekolahnya mampu menghipnotis anganku.

“Ayo nduk, kita lanjutkan perjalanan”. Kenapa bapak cepat sekali keliling pondoknya. Padahal aku belum selesai membayangkan kegiatan yang tercetak dalam brosur ini.

“Aku mondok di sini saja pak”.

Gurat heran jelas terkerut dari dahi bapak dan ibu. Dengan diskusi singkat, akhirnya mereka menyetujui usulanku. Dengan syarat, jika dalam sebulan aku tidak kerasan, mereka akan memondokkanku ke pesantren yang lebih jauh dan tidak boleh pulang sebelum lulus.

Tidak ada perasaan takut. Justru tantangan dan ancaman bapak ibu aku jadikan penyemangat dan dorongan untuk lebih kerasan.

Setelah proses pendaftaran kamipun diijinkan pulang kembali, karena pembelajaran belum dimjulai.

Seminggu kemudia aku memulai petualangan baruku. Hari-hari yang ku lalui begitu ceria, tidak ada hal yang ku takutkan dan ku hawatirkan sebagaimana ayahku memperlakukanku di rumah. Terlebih, sosok pria bertubuh tegap dengan kacamata hitam itu selalu mengintruksikan kepada para santri untuk cinta membaca. Sangat singkron dengan kegemaranku.

Dalam satu sesi acara aku melihat pria berjenggot tempo hari sedang berdiri di depan para santri. Dengan celana hitam, baju ungu, songkok, dan lengkap dengan dasi putihnya terlihat serasi dengan warna kulitnya yang tak begitu putih. Aku bisa menebak apa jabatannya di sini.

Sebulan sudah aku disini, dan bapak tidak menjengukku.

“Pak Rey, tolong ambilkan bungkusan di lokerku dan kasihkan ke mbak Vara. Aku mau keluar sebentar”. Aku menunduk saja dan tidak berani menoleh kemana-mana. Apalagi harus menatap matanya. Sampai ada suara memanggilku.

“Dek, ini bungkusan dari bapaknya”. Suara renyah itu tiba-tiba menyejukkan kepalaku yang sudah mulai panas menunduk di depan kantor ini. Ku terima bungkusan itu dan senyum mentari itu masih ada. Bahkan lebih indah dari yang ku lihat dari menara samping masjid dekat rumah Aila.

“Terima kasih mas. Eh Pak”.

“iya, sama-sama”.

Aku seperti sudah sangat dekat dengan dia. Bahkan sesekali aku tak takut untuk mengajaknya bergurau di sela-sela aku menerima kiriman dari bapak yang dititipkan ke pak Yumna. Dan entah disengaja atau tidak, pak Yumna sering menitipkan kepada pak Rey.

Mungkin benar aku mengagumi sosok mereka sebagai guru. Tapi kekagumanku sedikit berbeda. Mereka seperti tak jauh beda dengan usiaku sekarang.

Aku mulai tidak tahan dengan gemuruh dalam fikiran dan hati. Pada kesempatan aku dipanggil pak Yumna, sengaja aku perpanjang bicaraku. Dan benar saja tak lama kemudian pak Rey keluar dari ruangnnya.

“Ini yang liburan kemarin ketemu kita kan pak?”

“Iya pak”. Jawab pak Yumna.

“Siapa namamu?”

Ini petir atau angin surga? Kalau petir kenapa aku tak merasa sakit. Namun jika ini angin surga, kakiku masih menapak tegap di lantai. 

Karena aku terlalu lama tidak menjawab, akhirnya pak Yumna yang menyebutkan nama lengkapku.

“Waduh, nama kok panjang banget toh dek?. Tak panggil Vee saja ya?”. Dibarengi dengan tawa kecil lalu pergi.

Mataku tertuju pada sebuah gambar kartun bebek yang menggoyangkan lidahnya di depan warung bakso. Aku tersenyum sendiri mengingat bagaimana Aila sering mengejekku.

Aku tak ikut bapak dan ibu berkeliling pondok. Aku duduk di depan sebuah kelas yang disulap menjadi kantor pendafataran.

Aku dipanggil ke ruang guru untuk menemui Yumna. Akupun bergegas ke kantor. Dipintu ruang yang sempit itu sudah menunggu pria berjenggot yang dulu menemani bapak dan ibu keliling pondok.

Selalu begitu. Mengisi air pada ember yang berlubang dan meninggalkannya. Dan aku masih selalu membutuhkan air itu, selalu.
Hai guys selamat sore semua.

Bloklimasatu.com - Akhir-akhir ini banyak yang menanyakan saya gimana cara membuat status di Facebook agar ada backgroudnya. Wah, saya agak bingung juga. Emang bisa ya? Pikir saya.

Terlepas dari saya sendir yang kurang begitu memperhatikan update dari aplikasi sosmed, memang jarang juga update status kalau lagi gak bener-bener penting.

Tapi lama-lama kepo saya semakin berlebihan. saya buka Facebook.com di komputer seperti biasanya. Lah masih seperti biasanya, tidak ada perubahan. Mungkin mereka menggunakan edit gambar dan diupload di facebook.com. Namun baru saja saya memeiliki pemikiran begitu, ada salah satu teman dari group Mod android dulu melakukan hal yang sedang fikirkan, dan tulisannya bisa saya blok, berarti bukan gambar. Pengennya sih tanya, tapi tar malah dibully habis-habisan sama temen ane itu. maklum di dunia mod android sudah hal biasa seperti itu.

Keponya semakin kebablasan gan. Tapi masih aja gak nemu. Pengen cari di google agak gengsi dikit, kurang puas rasanya kalau gak nemuin sendiri. Tanpa sengaja ada telepon berdering dari Whatsapp, saya angkat deh, setelah telepon, saya buka chat juga dari beberapa group yang saya ikuti. males juga mau baca semua. gak tau kenapa kok jari ini menyentuh notif facebook di android. akhirnya terbukalah itu aplikasi, gak jadi baca isi notifnya sih, tapi malah pengen lihat bagaimana kalau update dari facebook app di smartphone. nah akhirnya terjawab sudah gan saya ingin tahu saya.

Jadi begini gan cara buat status Facebook biar ada backgroudnya warna warni. ini tutorial buat yang pengen aja ya. yang gak suka begitu berlebihan cukup buat pengetahuan aja. Biar gak malu-maluin juga kalau ditanya anak kecil. hihi... piss gan..

Oke langsung saja kita mulai.

1. Pertama kita buka Playstore

2. Pilih pada bagian Aplikasi & game saya


3. cari pada aplikasi facebook untuk memastikan bahwa aplikasi sudah update ke yang terbaru atau versi 106.0.0.26.68 untuk Android.


4. Jika sudah dipastikan aplikasi terupdate, bukalah app facebook


5. Cobalah untuk membuat status, pasti akan ada tampilan berbeda


6. Tulislah sesuatu dan pilih lingkaran warna dibawah


7. dan sekarang cobalah untuk membagikan status kalian, pasti akan terlihat berbeda sesuai warna yang kalian pilih.

Taraa.... Sudah berubah kan sekarang bentuk statusnya Facebooknya?

Demikian Cara Membuat Status Facebook Dengan Backgroud Warna Warni ....

Bloklimasatu.com - Udara terasa lebih sejuk pagi ini. Embun yang menutupi senyum mentari merapatkan pekatnya. Kicauan burung cendetpun terdengar lebih merdu dari biasanya. Namun semua itu tak menyurutkan keinginan Riyanto untuk pergi ke kantor pos dengan mengayuh sepeda jengki biru warisan kakeknya. Tidak jauh memang, hanya 3 kilometer saja. Tapi dengan sepeda ontel yang telah usang tentu beda tenaga yang harus dikeluarkan untuk menempuhnya.

Dengan semangat empat lima, Riyanto mengeluarkan si jengki dan sedikit memberi tambahan angin pada kedua rodanya, dan perlahan mulailah ia mengayuh sepedanya itu. Jalanan kampung memang tidak bersahabat, namun jalanan ini sudah menjadi sahabat dekat yang selalu menemani dan menjadi tempat curhat kala masalah melanda. Tak terasa sumur waru telah dilewatinya, itu berarti tidak lama lagi kantor pos sudah bisa dia masuki. Sesampainya di kantor pos riyanto dapat urutan pertama, itu berarti ia bisa langsung mengambil kiriman uang dari sudara kembarnya Riyanti yang bekerja di kota.

Selepas lulus SMP Riyanti memutuskan untuk mengadu nasib di kota, sementar Riyanto menjaga rumah sambil sesekali membantu bapak bekerja di sawah. Dengan modal ijasah SMP, tentu tidak banyak yang bisa dilakukan Riyanti selain menjadi asisten rumah tangga. Dan untung nya dia mendapat majikan yang kaya raya dan baik hati. Sudah hampir lima tahun terakhir ini Riyanti rutin mengirim uang ke kampung tiap dua bulan sekali, dan hasilnya pun sudah bisa memberi pembeda secara ekonomi dibanding tetangga sekitar.

Perasaan yang sumringah dan terkadang senyum dari bibirnya tak mampu disembunyikan sepanjang perjalanan pulang. Ia kayuh sepedanya dengan sangat kecang karena ingin segera memberikan uang dan membacakan sepucuk surat dari Riyanti kepada kedua orang tuanya. Karena terlalu semangat, ditikungan sebelum sumur waru Rianto terjatuh karena akan menabrak ayam dan terlemparlah tubuh wanginya itu ke selokan air kencing sapi dari kandang milik warga sekitar. Mau marah tapi tak tahu kepada siapa dia harus marah, namun secepat kilat segera ia lepas baju dan sarungnya untuk diperas dan dikenakan kembali, mumpung belum ada orang dikayuhnya kembali sepeda jengki agar segera sampai rumah.

Setelah mandi dan mencuci pakaiannya, ia segera memanggil ibu dan bapaknya untuk membacakan surat dari Riyanti.

Assalamu`alaikum

Mak, pak, kak Riyanto semoga kalian tetap dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa. Kali ini riyanti sangat bahagia, karena sebentar lagi emak akan mempunyai seorang menantu, itupun jika emak, bapak, dan kak Riyanto menyetujuinya. Riyanti sudah dikenalkan dengan kedua orang tuanya diantar oleh pak Patmo majikan Yanti, karena dia ini anak dari rekan bisnisnyai. Balasan dari rumah nanti akan menentukan bagaimana kelanjutan hubungan ini. Karena jika emak, bapak, dan kak Riyanto menyetujuinya, mereka akan mangsuk bertolak ke kampung untuk berbicara lebih lanjut. Oh iya sampai lupa mak, laki-laki yang melamar Riyanti ini namanya Ikal, dan fotonya sudah ada di dalam amplop.

Ya sudah ya mak, pak, kak, mohon segera dibalas.

Peluk rindu dari Riyanti.

Wassalamu`alaikum.

Setelah membacakan surat, Riyanto memberikan foto laki-laki yang dimaksud, tapi justru semua tertawa geli menghirup bau dari foto itu.

“sudah To, ndang ditulis. Bilang sama adikmu kita sekeluarga setuju”. Wajah ibunya begitu sumringah, meski tak bisa melihat dengan jelas kegantengan wajah Ikal karena sedikit rusak terkena air kencing sapi. Riyanto tidak segera menulis tapi membawa ibu dan bapaknya ke rumah pak kades untuk telpon secara langsung. Namun ternyata menelpon tidak semudah yang dibayangkan. Karena beberapa kali dicoba baru bisa menyambung.

“Halo, apa benar ini rumah pak Patmo?” dengan perasaan senang dan gemetar ibu membuka pembicaraan.

“Iya benar, ini dengan ibu Patmo, apa ada yang penting?, jika tidak penting, silahkan tinggalkan pesan saja”. Lirih terdengan suara perempuan seperti menahan tangis.

“Iya ndoro, begini, ini ibunya Riyanti yang bekerja di rumah ndoro, apa saya boleh bicara sebentar dengan Yanti?” jawabnya gugup.

Dari dalam telepon samar-samar terdengar suara teriakan bu Patmo memanggil suaminya. Dan tak lama dengan nada tegas namun lembut pak patmo berbicara.

“Begini ibu, tadi pagi Riyanti diajak anak saya Aulia ke villa dipuncak untu mempersiapkan pesta ulang tahunnya, namun dalam perjalanan ban mengalami slip ditikungan yang menyebabkan mobil terpental ke jurang. Dan dengan berat hati kami sampaikan bahwa Riyanti meninggal dalam kecelakaan itu”.

Seketika gagang telepon lepas dari pegangan, badannya lunglai, seperti petir menyambar di terik siang, seperti matahari gerhana pada puncaknya. Riyanto membopong ibunya pulang. Suasana bahagia itu berubah menjadi kacau balau, berantakan.

Tepukan halus dipudak Riyanto menyadarkan lamunannya. Ingatan akan kematian Riyanti selalu muncul disela lamunnya. Memang ia sudah mengikhlaskan kepergian adiknya, namun ada sakit hati dan dendam yang masih tertinggal begitu banyak dalam amarahnya. Bagaimana tidak, perempuan yang lahir sekian menit sebelum kelahirannya harus mengakhiri hidup menjelang saat bahagianya.

“Permisi mas, apa ibu ada?” suara lirih sedikit gemetar itu memecah keheningannya.

Dengan pandangan nanar ia tengokkan lehernya menatap wajah yang selama ini ingin ia temui. Perempuan yang selama ini laknat itu hadir sekian senti dihadapannya.

“perempuan laknat, perempuan bangsat, kau renggut nyawa adikku disaat bahagianya menjelang. Perempuan macam apa kau ini, hah?! Kenapa tidak kau saja yang mati bersama mobil terkutukmu itu orang kota?! Atau kau tak sendiri saja yang terjun bebas ke lembah berdarah itu, tapi kenapa malah kau jadikan adikku tumbal dari dari takdir kematianmu yang sudah mengintip?!.
Cercaan pertanyaan penuh kemarahan itu ia dengarkan dengan seksama. Uraian air mata sengaja tak ia hapus agar semua rasa bersalah itu ikut keluar bersama hujan yang semakin membanjiri pipi yang terawat indah.

“Apa jangan-jangan sebenarnya kau mencintai Haikal? Anak rekan kerja ayahmu yang lebih memilih adikku, dan kau iri? Dan kau sengaja menyingkirkannya dengan cara picikmu?”

“Cukup nak! Adikmu sudah tenang di alam sana. Bukankah sudah kau bilang sudah mengikhlaskannya?”. Dengan pelukan erat kepada Aulia berusaha menengahi dan membelanya yang seakan sudah tak berdaya dengan berondongan pertanyaan kemarahan Riyanto.

“Ibu yang mengizinkan Aulia kesini. Memang awalnya ibu menolak ketika Aulia ingin kesini untuk meminta maaf kepadamu, karena dalam tidurnya kamu selalu hadir, terus menerus mendoktrinnya sebagai penjahat, sebagai pembunuh adikmu. Setelah ibu fikir, tidak ada salahnya untuk mendamaikan kalian berdua.”

“Selamanya aku tidak akan pernah memaafkan pembunuh picik ini. Hah!”. Dengan teriakan kemarahan yang ditahan, ia tinggalkan Aulia dan ibunya yang masih berpelukan di emperan rumah dengan isak tangis.

Hidup Riyanto semakin hari semakin tak tenang saja, dengan hadirnya musuh yang selam ini ia cari, bukan semakin bisa melampiaskan kemarahan, tapi justru semakin dia harus menahan setiap amarah yang tiba-tiba keluar. Karena musuh yang selama ini dia cari, sekarang menjadi ratu dalam istananya. Serorang ratu yang kecantikannya tak berarti apa-apa baginya. Seorang ratu yang harus ia hormati dan turuti setiap keinginannya selama ia mampu. Begitulah tradisi dalam rumahnya secara turun temurun.

Hal yang sama dirasakan Aulia. Bayangan indah yang selama ini ia dambakan tak berjalan dengan baik. Ia bisa mendapatkan maaf dari kakak Riyanti dan kembali ke kota menjalani kehidupannya dengan normal kembali. Namun justru tekanan yang begitu kuat, lebih kuat dari hantu yang selalu hadir dalam mimpinya.

“Aulia, tolong kirimkan makanan ini ke sawah yang kemarin kita kunjungi, bapak dan Riyan sedang memanen cabai. Tidak ada salahnya juga kamu membantu mereka memetik, setidaknya bisa menjadi cerita saat kau kembali ke kota nanti”.

“Baik bu”.

Dengan semangat penuh harap, ia bawa rantang-rantang itu ke sawah. Namun perjalanan yang kemrin dirasa cepat, kali ini terasa lebih lama, bahkan lama sekali. Sampai-sampai bayang langkahnya tak terlihat lagi. Karena kepanasan ia berhenti disebuah gubuk sambil mengingat-ingat arah langkahnya.

Disisi lain, Riyanto, ibu dan bapak sedang bingung memikirkan kemana Aulia nyasar.

“Pak, cobalah ke sawah, cari anak itu, ibu takut kalau kesasar atau kenapa-kenapa”. Ibunya meminta.

“Gak usah. Bencana tetaplah bencana. Kemana-mana juga akan membawa benca”. Dalam kerisauan ibunya, Riyanto masih saja menyimpan dendam kesumat yang semakin membesar saja.

Belum ada jawaban, Ibu Riyanto beranjak dari rumahnya mengambil caping dan bergegas menuju sawah. “ biar Riyan saja yang pergi mencari. Ibu dan bapak di rumah saja. Doakan semoga Riyan tidak menjadi korban selanjut dari perempuan jahat itu”. Cegah Riyanto.

Rasa lapar, terik siang yang menyengat, dan Dendam yang membara seakan memberi energi khusus kepada Riyanto untuk berjalan. Entah berapa puluh petak sawah yang sudah ia lewati, namun tak kunjung juga ia temukan perempuan laknat itu. Ia hentikan langkahnya dibawah pohon kepoh ditengah sawah itu sekedar untuk minum dari air sumur dibawahnya. Namun disaat hendak jongkok mengambil air, ia mendengar sebuah perdebatan yang begitu menggebu yang salah satu suaranya kental dengan suara perempuan. Ia lanjutkan untuk menggayung air yang tidak begitu dalam, namun suara itu semakin keras dan lekat ditelinganya. Hatinya tergugah, ia urungkan niatnya untuk mengambil air, dan berdiri mencari sumber suara. Terlihat perempuan disamping sebuah gubuk pinggir jalan sedang berdiri, tidak sendiri, ada sosok laki-laki terlihat sedang membicarakan sesuatu. “ternyata dia sudah mendapat korban lain”. Lenguhnya sambil meninggalkan tempat sejuk itu. Riayntopun masih sempat memikirkan bagaimana nanti Aulia pulang, “ kalau memang itu Aulia dan ada orang yang ingin membunuhnya, atau dalam perjalanan pulang ada ular yang menggigitnya, biarlah. Anggap saja itu sebagai imbalan dari kejahatan yang pernah ia perbuat”. Dendam hatinya berbicara.

“Kamu bilang sakit hati sama Aulia karena menjadi penyebab kematian adikmu, tapi kau tinggalkan seorang perempuan lemah dipematang sawah dengan seorang laki-laki yang tidak kamu tahu apapaun tentangnya. Ya kalau itu orang baik. Bagaiaman kalau dia itu ternyata penjahat dan akan memperkosa Aulia, atau mungkin membunuhnya?. Dimana hati kamu sebagai seorang manusia, nak?”.

Ibunya lemas, terduduk dilantai rumah sambil menyeka air matanya yang begitu deras mengguyur hati-hati yang sedang mati dan kering. Tak pernah ibu semarah ini. Hati Riyan tergerak untuk kembali ke sawah, dan pulang membawa Aulia untuk ibunya.

“Tak perlu Nak, biar ibu saja. Kamu tunggu dirumah. Bila ternyata ibu tidak kembali karena dibunuh oleh laki-laki itu, cukup kuburkan ibu dengan layak dan tak perlu kau benci dirimu sendiri. karena itu akan lebih menyakitkan”.

Langkah wanita kampung empatpuluh tahunan itu tegap meninggalkan rumah. Namun sebelum memasuki pematang sawah, dengan lari secepat kilat, ia hentikan langkah ibu sembari berlutut di kakinya. “Biar Riyan saja bu yang membawa pulang Aulia untuk ibu. Kali ini mohon percaya niat tulus anakmu ini, ibu”. Ibunya ikut terduduk. Dera air matanya masih saja mengucur. Dengan satu anggukan dari ibunya, ia kecup tangan suci itu, lantas berlari kencang menuju gubuk kecil dipinggi sawah.

Dari kejauhan ia lihat Aulia sudah sendiri berdiri di bawah gubuk. Semakin Riyan kencangkan larinya, meski sesekali terpelanting jatuh ke sawah. Sakit sudah pasti, karena ini musim kemarau. Namun tak menciutkan niatnya untuk menemui nadia.

“Kamua tak apa-apa Aulia?” dengan suara gemetar dan ngos-ngosan penuh kekhawatiran, tak sadar kedua tangannya telah melingkar di leher Aulia. Tak ada jawaban dari Aulia, karena mulutnya tertutup dada Riyan yang sedang memeluknya. Entah apa yang dihembuskan angin, yang pasti melalui terpaannya doa ibu di rumah sedang didengar oleh Tuhan. Pelukan dilepas dan mereka berjalan pulang dengan rantang yang masih penuh.

Diperjalanan, Aulia menjelaskan bahwa laki-laki tadi adalah mantan pacarnya di kota yang meninggalkannya untuk perempuan lain dan bermaksud untuk kembali. Riyanpun meminta maaf akan sikapnya selama ini. Ia tidak bisa menjelaskan dari mana benci datang dan semakin menggunung tiap harinya, bahkan sampai berimbas pada mimpi Aulia. Kemarahan itu sudah berubah jadi gurauan. Tak ada lagi dendam. Keceriaanpun terlihat kembali dirumah Riyanto. Bahkan hari itu mereka sekeluarga masih bergura sampai tengah malam.

Sarapan sudah siap dengan lauk dan minumnya. Meski baru belajar beberapa hari dari ibu, Aulia memberanikan diri untuk memasak. Setidaknya bisa menjadi salam perpisahan yang manis. Sebab tepat hari ini jemputan dari kota akan datang. Bukan karena sudah mendapat maaf dari Riyan dan keluarganya dia langsung pulang, tapi dua hari lagi dia harus mengikuti wisuda pendidikan yang diambilnya.

Satu persatu dari mereka bangun, dan kaget melihat kondisi rumah dalam kondisi bersih dan rapi. Ditambah sarapan sudah tersedia di meja dengan desain cantik. Tak lama mereka segera memulai sarapan masih dengan candaan renyah yang terbagung baru kemarin siang. Tapi ada tangis yang tertahan dari peserta sarapan ini. Ya, Aulia. Ia tidak bagaimana harus membuka kalimat perpisahan yang pasti akan menghancurkan ketegarannya selama ini. Sepertinya daun sawi dan ketela yang ia masak tadi ikut berdoa atas keresahan hati yang ia rasakan. Suara mobil berhenti tepat didepan rumah dan mematikan mesinnya. Riyantopun segera menghabiskan makanannya dan menemui pemilik mobil didepan rumahnya. Sementara ibu dan Aulia membersihkan piring di dapur. Disitulah Aulia berpamitan dan menceritakan alasannya.

Auliapun segera mengambil semua barang di kamar yang sudah ia kemasi semalam. Tangis haru mengiringi perpisahan mereka. Dan untuk pertama kalinya, tangis Riyanto tertumpah bukan karena dendam, tapi kebahagiaan yang telah begitu lama tertimbun abu amnesia.