Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Bloklimasatu.com - Rahmad adalah Pegawi Negeri Sipil yang harus meninggalkan rumahnya untuk merantau demi masa depan yang lebih cerah. Liburan kali ini dia putuskan untuk tidak pulang karena malam lebaran ke tiga nanti akan ada satu acara yang tidak bisa ia tinggalkan.

Malam yang dingin diantara rintik hujan yang semakin lebat. Rahmad masih terdiam dalam ruang gelap kantornya. Bukan karena ingin menikmati kesendiriannya, karena memang lampu kantor sedang rusak dan belum ada yang memperbaikinya.

Ini adalah malam pernikahan teman baiknya, Lukman yang biasa menemaninya menghabiskan malam maupun siang dengan secangkir kopi dengan setengah bungkus rokok hasil beli di warung mbah Sri.

Lama ia menunggu Nasir datang menjemputnya, dan hujanpun tak kunjung reda. Samar-samar terlihat jam dinding menunjukkan arah 9, dan itu berarti acara sudah setengah jalan. Pikirannya semakin kacau, pesan singkat yang ia kirimkan selepas maghrib belum ada balasan.

Ingin ia rebahkan tubuh dan pejamkan mata sembari menunggu Nasir datang dan gelembung-gelembung langit memudar. Namun ia takut sahabat karibnya itu nantinya datang dan tak melihat batang hidungnya yang sedang terbaring. Ia urungkan hasratnya.

Matanya tertuju pada sofa yang tak jadi ia gunakan tidur yang justru mengingatkan pada kenangan beberapa tahun lalu ia habiskan malam dengan bidadari yang sayapnya mulai menghitam, Aliya.

Perasaannya semakin kacau, kenapa dia harus mengingat pada sosok yang telah berkali-kali ia lupakan dengan begitu beratnya. Bayangan Aliya semakin tercetak jelas dipelupuk mata. Setiap kedipnya bukan gelap dan hitam yang ia lihat, tapi justru senyum dan canda tawa Aliya di masa lalu.

“Iblis sedang bergerilya memberi pekerjaan kepada tukang ruqyah di malam dengan rintik hujan seperti ini. Jangan dalam-dalam memikirkannya. Toh nanti juga bakalan ketemu”.

Suara Nasir menghentikan jelajahku ke masa lalu. Aku masih belum menjawab sapanya, lilitan benang penjahit samping rumah serasa melilit-lilit dalam otakku. Aku lupa kalau calon istri Lukman adalah teman sekelas Aliya. Sudah pasti dia akan datang ke resepsi malam ini. Aku bingung, aku takut dia datang. Dan itu berarti usahaku beberapa tahun terakhir untuk perlahan menghapusnya dari ingatan akan sia-sia.

“Kita berangkat besok pagi aja, toh hujan juga belum reda. Lukman pasti akan mengerti.” Jawab Rahmad yang telah begitu lama ditunggu Nasir.

“Mbah Sri yang bukan siapa-siapamu saja setiap hari kau kunjungi. Ini teman dekatmu, bahkan bukan teman dekatku, pernikahan yang sekali seumur hidup mau kau urungkan menghadirinya?” Ucap Nasir seperti sedang berpidato tujuhbelasan.

Dengan lemas dan berat hati ia turuti keinginan Nasir. Toh itu juga sudah menjadi kewajibannya menghadiri undangan teman karibnya.

Sepanjang jalan tangannya menengadah memohon kepada Tuhan agar tak Ia pertemukan dengan belahan hati amnesianya itu. Bukan karena ia sudah tak cinta lagi, cintanya masih teramat dalam, bahkan melebihi dari separuh hatinya. Tapi rasa sakit harus menghadapi kenyataan kisah cintanya tak akan berakhir seperti Lukman. Orang tua Aliya menghendaki menantu yang pinter baca kitab dan bertani. Cukup realistis memang melihat Pak Habibi, ayah Aliya yang seorang kiyai dengan sawah berhektar-hektar.

Dengan melipat tangan dengan lipatan celana dibawah lutut Rahmad mulai menyususri rumah istri Lukman yang memang harus melewati gang kecil dulu sebelum sampai ke rumahnya. Baru beberapa langkah turun dari boncengan Nasir, dari belakang terdengar suara lirih menyapanya. Rahmad menggigil mendengar suara itu melebihi biasanya, ia tak sempat menengok, bukan takut dengan pemilik suara, karena itu hanyalah suara Nurul, tapi lebih pada teman dekat Nurul, Aliya. Lehernya kaku seperti terganjal balok terbesar di perhutani Jatirogo. Ia takut Aliya benar-benar datang malam itu, meski kemungkinan datang sangat kecil karena rumahnya yang sangat jauh.

“Iya Nurul” sambil ia gerakkan tubuhnya menghadap Nurul. “sudah mau pulang?” sapa Rahmad dengan getar bibir layaknya mesin diesel.

“Tak kira gak datang kak, dari tadi ditanyakan terus sama orang dibelakang kakak”. Sontak ia menengok ke belakang. Dan benar saja Aliya berdiri tegap dengan senyum tersunggingnya.

“kok baru datang, mas? Kita pulang dulu ya” sapa Aliya yang tak sempat Rahmad jawab.

Malam yang menakutkan itu terjadi juga, doanya sepanjang perjalanan tidak manjur. Acara Resepsi memang sudah selesai. Lukman sudah berganti pakaian dan menemui kami berdua. Tak terjadi banyak perbincangan karena memang waktu sudah larut dan acara sudah selesai.

Selepas makan Rahmad segera berpamitan karena tiba-tiba perutnya sakit.

Baru saja ia menaiki kendaraan, ada sebuah pesan singkat masuk, dan itu dari Nurul. “ Kalau sudah pulang, kabarin ya, Aliya mau bicara sesuatu”. Sakit perutnya semakin parah dibarengi dengan sakit kepala yang mulai menusuk.

Sesampainya di rumah Rahmad langsung menumpahkan hasrat perutnya supaya pertemuannya dengan Aliya cepat terlaksana dan terselesaikan.

Rahmad menuggu di dalam kantor dimana dia tadi menuggu Nasir. Pikirannya kembali berkecamuk, ada rasa takut yang mendalam, ada harapan besar pula yang ia rapalkan ditengah gigilnya.

“Silahkan diselesaikan kak, biar tidak saling memendam”. Lalu Nurul meninggalkan mereka berdua.
Seperti pemuda yang baru saling mengenal dan sedang dimabuk asmara. Tak ada sepatah kata yang terucap sampai hampir setengah jam. Sampai Nurul kembali masuk dan membantu Aliya menyampaikan unek-unek-nya.

“Aliya sudah selesai skripsi kak, mungkin ini waktu yang tepat untuk menunjukkan niat tulus kakak. Silahkan dilanjutkan, tapi jangan terlalu lama, tidak enak bila dilihat orang. Sudah terlalu malam”. Nurulpun kembali pergi meniggalkan mereka.

“aku masih Rahmad yang sama, yang selalu ingin memilikimu seutuhnya. Jika kamu siap berkomitmen, kita jalani dan lewati semuanya. Aku siap menjadi kaki kiri tanpa alas untuk menapaki bara, asal ada kaki kanan yang selalu mengiringi dengan alas berhias permata, dan itu kamu.”

Dan sudah bisa ditebak, suasana kembali hening tanpa jawaban. Tak ada penolakan ataupun jawaban sampai Nurul datang lagi.

“gimana kak, sudah selesai?”

“sudah, silahkan kembali.” Jawab Rahmad dengan senyum yang sangat dipaksakan.

Sembari memandang langit-langit ruangan ia rebahkan badan lusuhnya di sofa kecil penuh debu itu. semua ketakutan-ketakutannya berjalan dengan rapi. Dengan akhir yang sama. Ia putuskan untuk memejamkan mata dan tidur.

Baru sesaat ia penjamkan mata, handphonenya berdering.

“Mas, bisa pinjam charger?, dari tadi handphoneku mati. Tolong diantar sampai depan rumah ya. Sangat berharap.” Demikian isi pesan pendek yang terkirim dari nomor Nurul.

Ingin ia tidur saja, dan mengabaikan semuanya. Karena akhir dari hubungannya dengan Aliya sudah bias ditebak akhirnya. Namun semakin ia pejamkan mata, semakin tidak bisa tidur dan tidak tenang pikirannya. Ia putuskan untuk berdiri mengambil charger seadanya dan mengantarkannya.

Didepan rumah Nurul sepi, tidak ada Aliya disana. Hampir saja Rahmad kembali pulang, karena malam sudah terlalu larut, ia takut ada kejadian yang tak diinginkan. Belum sempat ia nyalakan motornya, suara Aliya memanggil dari tangga samping rumah Nurul. Ternyata mereka berdua tidur di rumah lantai atas.

Aliya tidak mau turun, dan menunggu ditangga. Rahmadpun menaiki tanggal untuk memberikan charger dan langsung meninggalkan Aliya.

“Udah, gitu aja?” suara Aliya yang sontak menghentikan langkah Rahmad. Ia balikkan badannya dan kembali mendekati Aliya. Dan lagi tak ada kata terucap.

Aliya memegang tangan Rahmad. Hal yang sebenarnya biasa bagi mereka berdua, tapi itu dulu. Rahmad lemas, tak mampu membalas genggaman Aliya. Hati dan pikirnya seperti tak ada desiran darah yang mengalir. Perlahan genggaman itu terlepas. Bukan untuk pergi dan meninggalkan Rahmad, tapi justru berpindah melingkari tubuh lemasnya. Pelukan yang semakin lama semakin erat, dan Rahmadpun membalasnya.

Rahmad melepaskan pelukan Aliya yang seperti orang sedang tertidur.

“tidurlah, agar besok tidak pulang kesiangan.” Pinta Rahmad sembari melepaskan pegangan dibahu Aliya. Entah apa yang dirasakan dan diinginkan dalam benak Aliya. Nyatanya tak sejengkalpun langkahnya bergeser. Dan dalam lubuk terdalam Rahmadpun tak ingin segera mengakhiri saat-saat yang sudah sangat lama tak ia rasakan. Dengan kecupan dikening Aliya, Rahmad meninggalkan tangga dan malam yang kian menggigil.


Bloklimasatu.com - Senja itu telah memudar, dan dunia kunang-kunang perlahan menampakkan eksistensinya. Desiran angin gunung semakin memanjakan setiap hembusan penghuni lembah cinta. Aroma khas belerang seperti obat nyamuk yang memeluk kulit-kulit yang semakin menggigil, tak terkecuali Blind yang semakin akrab dengan tempat tidur barunya. Beralaskan klaras dan berselimut pandan wangi mengantarkannya semakin pekat dalam mimpi. Gesekan-gesekan bulu jangkrikpun serasa violist sedang asyik memainkan nada pengantar tidur, nikmat sekali rasanya. Oh tidak, tidak senikmat itu rupanya. Sedikit demi sedikit langit mulai mengencingi ibu jari kakinya yang terlewat dari daun pisang kering yang menyelimuti tubuhnya. basah, dan semakin menjalar hingga membasahi pantatnya. Sepertinya langit malam sedang kesepian, ia tahu ada seonggok daging bernafas sedang memamerkan kenyamanan di tengah kerja kerasnya memikul jutaan manik-manik malam.

“Oh, jahat sekali kau malam, tak tahukah sepanjang langkahku habis untuk menjaga kenyamanan tuanku menghamburkan uang untuk lampu hias, taman bunga, monumen-monumen nirmakna, atau sekedar mengecat ulang patung pria yang dianggapnya ayah, dan tahukan kau, itu palsu. Biarkanlah aku sejenak bernafas normal.” Kesalnya sambil ia nayalakan sebatang rokok dan bersandar dalam apitan akar kepoh sambil menikmati sisa-sisa mimpinya.

Sepertinya langit sedang anyang-anyangan, tak hentinya ia mengencingi beberapa bagian tubuh Blind yang semakin tersudut tanpa bisa menghindar alirannya. Dan di tengah-tengah himpitan air, suara jangkrik, dan gesekan daun ploso yang tersapu angin terdengar sayup-sayup teriakan perempuan dari gubuk seberang. Secepat kilat ia singkirkan daun-daun yang menali simpul tubuhnya, ia lempar rokok di jari yang baru terpakai beberapa hisapan, dan berlari tunggang langgang menghampiri sumber suara tadi.

“Bangsat kau Haikal! kau memang kotor, tak seharusnya kau menodai air lembah cinta ini dengan bau busukmu itu, menjijikkan!” bentaknya sambil menendang pantat Haikal sekuat tenaga tanpa memberi kesempat untuk menghindar, dan Haikalpun terjengkal dan jatuh dari atas gubuk bersimbah lumpur. Hampir saja Blind turun dan menenggelamkan tubuh cungkring itu ke dasar bumi jika Meylinda tak melarangnya.

“Sudahlah Blind, tak perlu kau benamkan ia ke dalam lumpur itu, ia sudah terlalu jauh terbenam dalam imaji atas nikmati kulitku, dan aku masih baik-baik saja selain bercak liur yang dulu sempat ku bayang madu.” Sengguknya seraya menenangkan Blind yang masih menggetar kepal dengan sejuta amarah.

Keheningan dalam gubuk terasa makin menyuntuk kala tak sepatah kata terletup dari mulut Blind, dan Maylinda masih sesenggukan dalam getar sembari membenahi rambut yang sempat berserakan.

“Kau masih seperti biasanya saja, tak adakah sedikit welasmu untuk wanita yang tersungkur dalam temaram ini? Tak ada tuanmu disini, dan kau tak perlu lagi bersikap seperti paspampres yang sedang mengawal ndaranya.” Hanya suara korek api yang membakar lintingan tembakau sambil melenturkan kaki Blind menggantung dari atas gubuk.

“Jika hanya tubuh dan bau asap rokokmu itu yang menemaniku, apa bedanya dengan mayat, hantupun tak akan tertarik untuk mendekatimu”. Sambil menggeserkan posisi duduknya ke pojok bangunan reot berkaki empat itu.

“Sepertinya memang kau tak pernah teratarik dengan lawan jenis, atau mungkin mungkin hanya menjadikan kami para wanita ini sebagai gula dalam kopimu yang memang hambar atau mungkin pahit, sma seperti tuanmu? Entahlah, memang aku tak pernah merasakannya. Bedanya dia punya puluhan bahkan mungkin ratusan toples gula yang menjadikan wedangnya manis, dan kau apa? Menjadi seperti Haikal aja tak mampu.” Masih tak ada gerakan dari mulut Blind, dan Meylinda mulai melepaskan kebayanya yang sempat basah.

“Jangan kau paksa aku untuk mematahkan sayap bidadari yang sempat baku berikan padamu, aku tak akan pernah menjadi anjing lapar yang merampas makanan tuannya di atas meja. Jadi, rapikan kenakan kembali kebaya itu, setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan.”

“Oh, suci sekali kau ini. Aku tak tersanjung, ini hinaan terdahsyat yang pernah terucap dari mulut berasapmu.”

“Turunlah, mari tinggalkan tempat keparat ini. Kereta api menuju Jatirogo akan lewat sebelum jam 7 pagi jadi jangan sampai tertinggal, atau aku tak sempat membelikanmu baju baru, dan arwahku akan bertemu dengan hantu-hantu sebelumnya.”

Perjalananpun dimulai melewati gerumbulan hutan dan petakan sawah-sawah yang tak terurus, licin, dan tentu banyak hewan melata berkelian. Sepertinya angin memang tak mau diajak berkawan, deburan kabutpun terusir angin utara yang semakin menusuk tulang dinginnya.

“maukah kau menggendongku? Sendi-sendiku terasa beku, aku tak sanggup melanjutkan perjalanan ini. Dan jika kau masih bertahan dengan egomu, tinggalkanlah aku disini dan pergila dengan kereta pasir itu sendirian. Meski anjing-ajing yang mulai berkeliaran itu mencabik-cabik tubuhku, atau ular-ular lapar itu mematuk kaki, aku tak peduli. Karena satu-satunya manusia yang mengagumiku sudah kau hempaskan dan tau sudah berapa anjing yang siap menerkamnya. Dan kau, sepertinya juga tak jauh beda.” Dan tanpa basa basi Blindpun membopong keri kecil itu dari belakang yang memang sedari tadi membuntuti dari belakang, dan Meylindapun tertidur.

Bersambung.....

Bloklimasatu.com - Mentari belum sepenuhnya memancarkan sinarnya, Namun kicau burung sudah saling bersautan menemani ibu-ibu mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suami mereka. Jalanan yang masih pekat dengan embun samar-samar mulai pudar seiring hentakan sepatu pegawai dan anak sekolah, para mahasiswa dengan roda duanya.

Tak akan ada yang menyangka bagaimana dulunya kota kecil nan jauh dari hiruk pikuk ibu kota ini bisa lebih maju dan higienis dan seluruh kota di dunia. Bagaimana tidak, hampir tidak ada polusi dudara ataupun limbah di tempat ini, pun dengan pengangguran. Setiap tenaga manusia tercurah untuk setiap industri yang dikerjakan, semua menggunakan tenaga manusia dan bahan-bahan dari alam yang tidak memiliki dampak berbahaya untuk masa depan. Tak ada deru mesin jalanan yang menyaingi suara guru sedang memberi penjelasan kepada siswanya, hanya andong yang sesekali lewat, tidak untuk mengambil sampah dari depan rumah warga, tetapi petugas kecantikan taman, yang merapikan atau mengganti tanaman atau bunga yang mulai tua di sepanjang jalanan kota.

Pemerintah kota tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi dan insutri mekanik, bahkan banyak dari tim ahli di perusahaan-perusahaan besar di di negara lain menginjak tanah pertama kali di kota ini, akan tetapi kesadaran warga yang sudah dipupuk dengan sistem kepemimpinan yang sudah berjalan secara turun temurun.

Ya, kemajuan kota dari sisi ekonomi, teknologi, manusia, maupun alam yang selalu dijaga ini tidak lepas dari sosok Karna. Sosok pria sederhana dari keluarga yang tak seorangpun mengira akan menjadi pencetus sistem pemerintahan terbaik di dunia. Bagi penduduk kota ini, Karna adalah manusia terbaik yang tumbuh dari keluarga terbaik yang dikirim Tuhan untuk memberi tanda kuasa Tuhan tidak diberikan berdasarkan keturunan saja. Kerja keras, ketaatan, doa, dan usaha orang tuanya.

Bagi Karna ketaatan adalah pegangan utama untuk menjadi manusia sesungguhnya. dan itu dibuktikan dengan sabar dan taatnya dia mengikuti perintah eyang guru. Delapana tahun tidak sedikitpun mendapat pelajaran kanuragan dari sang eyang. Ilmu yang didapat hanyalah mengambil air di belakang padepokan Wilujeng Raharja untuk mandi para murid dan mengurus tanaman di sekitar padepokan.

Langkahnya untuk memajukan kota menjadi pusat belajar dan perekonomian negara tidak serta merta jadi. Halangan yang begitu besar datang silih berganti.Setelah Eyang guru meninggal, wasiat terahirnya adalah Karna sebagai pewaris padepokan yang setiap titahnya wajib ditaati setiap penghuni kota. Pimpinan padepokan adalah pemimpin kota. Empat puluh hari berlalu, padepokan dan sekitarnya terlihat seperti kota mati, sampai segerombolan orang datang dengan pakaian dan kendaraan serba mewah yang dipimpin seorang wanita mengaku sebagai anak eyang guru dan menagih warisan dari ayahnya.

Memang berdasarkan cerita, eyang guru memiliki sepasang putra putri, namun setelah dewasa dengan ilmu kanuragan yang cukup muncul rasa jumawa dan meninggalkan padepokan, karena baginya sudah tidak ada lagi tantangan di kota kecil dengan bau belerang dimana-mana.

Seluruh warga bingung dengan kondisi ini, "Bagaimana mungkin seorang perempuan akan memimpin kota yang pernah ditinggalkannya, sementara dia pergi saja karena jijik dengan kota ini, bisa-bisa nanti kota ini dijual dan kita akan merasakan yang namanya menderita". ujar Munir yang memang didakwa sebagai lurah.

Munirpun berinisiatif mengumpulkan seluruh pimpinan desa dan pemuka agama untuk mencari solusi dari benih pertikaian yang mulai tumbuh, dari hasil musyawarah, Karna adalah pewaris sah padepokan Wilujeng raharja dan berhak memimpin kota sementara keturunan laki-laki dari eyang guru tidak tahu kemana. Namun baru saja keputusan itu dibacakan, datang seorang pria setengah baya dengan wajah mirip eyang guru. semua terperanjat, takut, kaget, bahkan ada yang menyangkan eyang guru terlahir kembali dengan sosok yang lebih muda.

"Aku Ludira, pewaris utama eyang guru. aku kesini tidak untuk mewaris kepemimpinan atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin mengambil pusaka pedang catur jiwo milik bapakku".

Tak seorangpun berani berbicara kecuali pria setengah meter dengan rambut yang lebih panjang dari ukuran tubuhnya, Munir. "Mari ku antar ke padepokan, mungkin Karna bisa mebberi penjelasan" ujarnya.

Ludira pun bergegas menuju padepokan dengan kuda hitamnya yang gagah.

Tanpa basa basi langkahnya tertuju ke saung utama dimana eyang biasa merebahkan badan dan menemui para tamunya yang Ludurapun sebenarnya belum pernah memasuki ruangan itu. Ia terheran dengan pemandangan yang dilihatnya, tak ada aroma mistis ataupun senajata pusaka, hanya buku-buku tebal tertata rapi dari ujung pintu satu ke ujung pintu lainnya. "Kang Ludira, ada yang bisa saya bantu?" sapa Karna.

"Kau pasti karna. Tenang, aku kesini tidak untuk merampas kepemimpinan yang diberikan bapak kepadamu atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin pusaka bapakku, kau tentu tau yang aku maksud." sergah Ludira.

Karna mulai bingung bagaimana memberikan jawaban yang tepat agar tidak tersinggung dan marah. Sementara ia tahu dari eyang guru pusaka pedang carur jiwo hanya sebuah istilah, bukan sebuah benda.

"Aku mengerti kakang, benda itu disimpan eyang di dalam ujung goa bawah air terjun belakang padepokan. untuk memasukinya kau harus bertapa empat puluh hari empat puluh malam, dan kau hanya boleh makan saat matahari itu tak terlihat. Tentu kau mengerti maksudku". Jelasnya.

"Oh, ternyata begini caramu Dira. kau masih saja bodoh dan tidak bisa bermain cantik untuk mendapatkan yang kau inginkan, kau tetaplah pria bodoh Ludira. Dan kau Karna, kau tidak sopan memberikan rahasia bapak kepada anak ingusan ini tanpa membertahuku dulu sebagai keturuanan pertama bapak." potong Minawati yang sedari tadi mengintip dari luar.

Hampir saja pertikaian besar terjadi, karena Ludira menjawab hinaan kakaknya dengan kilatan pedang yang siap menebas leher kakaknya itu. pertikaianpun terjadi. Saling adu kanuragan tak bisa terelakkan. Ditengah perkelahian satu darah itu Krna berujar, "Teruslah berkelahi dan saling bunuh, karena 40 hari ke depan aku yang akan mendapatkan pusaka itu tanpa halangan berarti." dan merekapun menghentikan perkelahian yang sedang seru-serunya dan beralih beradu cepat menuju bawah air terjun yang sedang deras-derasnya, dan mereka mulai membuat tempat pertapaan.

Baru tujuh hari merasa tenang dari gangguan anak-anak eyang guru, berita duka datang dari kampung halaman Karna, kedua orang tuanya ditemukan meninggal bersimbah darah dirumahnya. emosinya memuncak, tiraninya berkuasa, ingin rasanya ia membunuh pemilik gelang emas yang ditemukan dalam genggaman ibunya, dan semua orangpun tahu siapa pemilik perhiasan itu.

pikirannya berkecamuk, antara air mata dan dosa, antara dendam dan balas jasa. hampir setiap jam ia memantau perkembangan dua gubuk kecil di samping air terjun, dan memang minawati memiliki strategi yang cerdik, bahkan licik dibanding adiknya, Ludira. Ia memilih tempat teraman dan terdekat disamping mulut goa, sementara Ludira tepat dibawah aliran terjun, yang jika terjadi banjir bandang, ia akan karam bersama gubuknya.

Tepat seminggu sebelum empat puluh hari sepeninggal orang tuanya, karna dikagetkan dengan ramai sorak sorai warga dari arah air terjun. Ia pun bergegas kesana, dan puluhan warga sudah berkerumun menonton pertunjukan yang tidak wajar. Sepertinya Karna datang terlambat, sesampainya di air terjun kedua anak eyang guru itu telah terkapar dengan pedang tertusuk di ulu hati masing-masing.

Warga yang tadinya tak berani mendekat, karena kedatangan Karna segera menolong mayat keduanya, namun belum sampai mayat dipegang, terdengar gemuruh yang begitu dahsyat yang diketahui warga sebagaia tanda datangnya banjir bandang kiriman dari kota sebelah. Wargapun berhamburan meningalkan lokasi. Benar saja, air bah menggerus gubuk dan dua tubuh tanpa nyawa tanpa tahu dimana bermuara.

Bloklimasatu.com - Apa yang terjadi malam itu seperti tumpukan sampah. kotor, bau, berantakan. setiap hisapan nafas yang ada hanya sesak, pusing, ingin muntah. Pun begitu dengan apa yang berkecamuk dalam dadaku, dalam kepalaku.

Dua pasang bola mata yang selalu meneduhkan, bibir tipis yang menggumamkan rindu itu kembali datang mengusik. Ya, kedipan-kedipan teduh itu tak terlihat lagi, hanya rintikan air yang tak lagi mampu terbendung. Bibir tipis yang selalu mengungkapkan kemanjaan, lenguhan, bahkan ketusan itu tak lagi tersungging.

Aku duduk di kursi sofa ruang ini. Hampa, berantakan, dengan meja-mejanya yang tak lagi terkemoci, lantai putih yang tak lagi terpel dengan aroma terapi yang biasanya kau sempatkan waktu untuk membasuhnya sebelum tapak-tapak bising berdasi menggenggam kayu bertulis 1 sampai 100. Di meja baris ke dua itu aku biasa menumpuk buku-buku dan pena merah. Dan setiap jam 20.30 aku mengencaninya untuk sekedar memberikan kenang-kenangan bertulis jayyid, jayyid jiddan atau bahkan mumtaz. sebuah tanda yang nanti akan mejadi nostalgia dua atau tiga tahun yang akan datang seperti yang kau cubitkan di pinggangku malam ini. Sebuah cubitan atas godaku dengan nilaimu yang tak menyentuh angka maksimal, meski hanya tertuang dalam satu atau dua kata berbahasa arab saja.

Aku tak begitu mengenalmu sebelumnya, apa lagi memperhatikan terlalu jauh, karena yang ku tahu kau adalah bayangan dari kerudung merah yang selalu tersenyum untuk setiap tamu yang datang. Kau adalah telik sandi saat baju biru tertangkap segerombolan pasukan istana. Aku tidak gugup apalagi takut. Bahkan aku menikmati setiap kekhawatiran akibat dari tindakanku malam itu, dan aku lupa bahwa kau hanya sebuah bayangan si hidung tungku.

Kau laksana operator seluler yang selalu mengingatkan isi perutku sudah mulai kosong. Kau adalah sapu tangan saat jari-jariku mengiramakan piano kesedihan, dan kau menyeka rintikannya. Aku tidak risih meski ratusan pasang mata mengintip dari sela-sela cendela kaca yang seakan menutupi. Tapi itu bohong, macam bohongku atas rasamu yang tertutup kerudung merah.

Ku rebahkan tubuhku di sofa panjang dimana kau memelukku erat di keremangan malam, saat hanya satu atau dua pasang kaki yang sesekali melintasi. Malu rasanya bila sampai anak-anak baru yang tiba-tiba memenuhi ruangan ini melihat kesembaban mataku.

Ku pejamkan mataku dan mulai ku dengarkan lagi kesukaanmu, dan aku tertidur. Samar-samar aku mendengar dering telepon; kau jatuh di depan rumah seorang kawan lama. banyak darah kau terpejam, dan sesekali kau lontar senyum dalam boponganku. Pekat sekali mata ini, sepertinya kopi mak Konah tadi pagi tidak begitu berimbas pada begadangku semalam. Ku hubungi orang tuamu, ku pastikan semua baik dan aku terbangun. Aku bermimpi, mimpi pada masa lalu yang kembali muncul dalam desktop otakku.

Kita sudah sangat sering bertemu, saling curi pandang, saling ejek, dan kita kenal, sampai semua sesak di dadamu tak lagi mampu kau tahan. Dalam derai bahagia kau curahkan rasa, aku tak peka. Diruang kecil samping toilet itu aku lupa telah berani memelukmu, menciummu, mengusap setiap peluh yang membasahi serakan buku laporan yang baru saja kau rapikan. Aku menangis, tapi itu bahagia.

Satu setengah tahun nuansa bening berhias pelangi itu ku sadak. Sampai beruang berbulu ungu itu kau bakar dan kau tulis surat terakhir dalam gerimis tahun baru cina dua tahun silam, dan kau tetap ada. Ada dalam setiap kuncup padi yang menanti mentari dalam petak sawah hatiku.

Bloklimasatu.com - Langkah-langkah polos bergandeng tangan-tangan lekat kerutan berderap meninggalkan aula sekolah. Dengan seragam hitam putih berikat dasi kupu-kupu terpercik linang kebahagiaan. Ku peluk Aila erat-erat.

“Kita akan sangat lama tidak bertemu setelah ini”. Ucapku.

Ia segera melepaskan pelukan eratku. Sorotan mata tajamnya serasa memecah korneaku untuk lebih deras lagi mengalir.

“Kenapa?” tanyanya seakan mengintimidasiku untuk cepat memberi penjelasan.

Wajahku tertunduk. Tak ada kata yang mampu ku ucapkan seperti saat kita biasa bersendau gurau di atas sepeda mini menyusuri jalanan menuju sekolah. Entah apa yang mengunci mulutku sehingga sepatah katapun tak mampu terucap dari bibirku.

Ia tarik tanganku keluar halaman sekolah. Hampir saja aku terjatih karena kencang dan erat tarikannya. Ia hadapkan aku ke arah patung besar bergenggam pedang di perempatan kota dekat sekolah kami.

“Lihatlah punggung pahlawan itu. Ia tak pernah lelah menjinjing besi tua untuk menakut-nakuti setiap yang datang dari hadapannya. Kau di belakangnya sekarang. Tak perlu takut untuk menceritakan kekesalah-kekesalan hatimu”. Dengan wajah belepotan tebal yang tersiram air mata, ia mencoba menenangkanku.

Memang, sebelum pulang sekolah aku sering menghabiskan waktu di samping pagar sekolah ini hanya untuk mengumpat, mencaci, bahkan meneriaki setiap orang yang menjadikan masalah di benakku. Dan tanpa sadar bibir inipun mulai menguntai kata-kata dengan begitu mudahnya.

“Mungkin tidak akan ada lagi yang mengumpatmu setelah ini, pak. Ini terakhir kalinya aku berbicara padamu meski tak akan pernah engkau jawab”. Ku lihat kanan kiri truk-truk besar berlalu lalang menggilas aspal dan tak pernah ku tau apa isinya.

“Nah, bibir bebek kayaknya sudah mulai rusak kuncinya”. Ledeknya.

Aku hanya tersenyum.

“Ketahuilah, setelah fajar menawarkan sinar mentari, aku tak akan mampu lagi mencium sejuknya. Mungkin mentari juga tak akan melekukkan bibirnya ke atas lagi sama seperti saat kita biasa menjemputnya di menara masjid dekat rumahmu”. Awan pekat mulai berkumpul di pelupuk mataku.

“Janganlah kau bikin aku malu pada bapak ini jika harus menangis dua kali. Aku takut jika nanti dia menengok”. Kental sekali logat batak itu terlontar, mungkin pengaruh film yang kita tonton semalam.

Aku mengajak berjalan sambil menuntun sepeda.

“Besok pagi-pagi sekali, aku akan di antar ke desa S untuk melanjutkan sekolah sekalian mondok di pesantren. Dan bapakku bilang, sesampainya di sana aku akan langsung mengikuti aktifitas yang ada dan setahun kemudian baru pulang. Dan mungkin hari libur kita tak akan sama”.

“Aku sedih karena kita tidak akan bertemu lagi. Namun aku juga bahagia karena sahabatku sendiri yang akhirnya mampu mewujudkan cita-citaku”.

Memang Aila punya cita-cita kuat untuk melanjutkan belajar ke salah satu pesantren terbesar di jawa tengah. Namun kondisi keluarganya yang kurang mengenal agama membuatnya memupus angan itu. Sementara aku yang anak seorang pemuka agama di desaku, tak punya sedikitpun cita-cita untuk mondok. Aku sudah cukup terkungkung dengan peraturan-peraturan yang diterapkan orang tuaku yang sama-sama lulusan pondok. Film korea yang hanya sekali seminggu tayang di tivi pun tak pernah aku tonton sampai tuntas setiap episodenya. Novel-novel terjemahan dari korea yang aku belipun tak bisa tenang aku membacanya. Api dapur akan menjadi pelabuhan terakhir jika sampai bapak ku menemukan novel-novel itu.

Sengaja pagi ini aku tak ke masjid. Aku ingin sakit saja agar rencana bapak itu tak terlaksana. Namun keinginku untuk bertemu Aila memaksaku keluar dari rumah. Namun Monster merah bernama Sedan tua milik pamanku sudah menunggu di halaman rumah. Aku sangat benci melihatnya. Ku urungkan niatku untuk berpamitan ke rumah Aila.

Perjalananpun dimulai. Aku harap mulai diperutku ini segera timbul seperti biasanya aku menaiki kendaraan. Tapi entah mengapa kondisi tubuhku baik-baik saja. Tak ada mual ataupun pusing. Aku pasrah saja diperjalanan. Tak ada pertanyaan dari bapak ataupun ibu yang aku jawab. Dan aku tertidur.

“Bangun nduk, turun. Kita makan siang dulu”.

Terlihat semburat kebahagiaan di wajah bapak dan ibuku. Mungkin baginya senyumku adalah jawaban setuju atas keinginannya, sama sekali tidak.

Di tengah-tengah kami makan, bapak membicarakan sungai yang mengalir di pinggir warung.

“di sungai seperti ini lah tempat bapak mandi waktu mondok, nduk” kenangnya.

Aku tak tau apa maksudnya, jika ingin menghibur tidaklah seperti itu caranya. Itu jorok dan menjijikkan.

Aku hentikan makanku dan menuju ke luar warung. Aku lihat kanan kiri jalan begitu ramai lalu lalang orang membawa belanjaan. Sesekali masih ku lihat kereta kuda dengan pak kusir tua membawa ibu-ibu dan belanjaannya ke arah kiri.

“kita mampir ke balakang dulu nduk. Kata bakul bakso ini, gerbang yang mirip prasasti di Kediri itu juga tempat anak-anak seusiamu mondok”. Rayunya sambil menggandengku menuju bangunan yang terlihat tak begitu megah sebagai sebuah pondok dalam bayanganku.

Kami tidak bisa langsung menuju gerbang itu, karena tidak ada akses jembatan yang menghubungkannya. Dan harus memutar ke kanan atau kiri untuk melaluinya.

Aku berjalan memasuki gerbang. Pohon-pohon jambu yang rindang. Buah nangka yang harumnya mulai menusuk. Perempuan-perempuan kecil yang menyapu halaman, dua pria berjenggot bermain tenis. Ada kemesraan terbangun antara kebebasan yang ku inginkan dengan area ini.

“Assalamu`alaikum. Mohon maaf bapak, ada yang bisa kami bantu?”. Tanya seorang pria berjenggot yang terlihat lebih tua dari satunya.

“wa`alaikumsalam. Apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat dan bertanya kepada kang santri tentang pondok ini? Siapa tahu gadis kecil kami ini bisa nyantri dan kerasan mondok disini”.

“dengan senang hati bapak. Mari”.

“Adek tidak ikut bapak dan ibunya keliling pondok?”. Tanya pria berjonggot satunya memecah lamunanku.

“Tidak kang, aku menunggu disini saja” jawabku menirukan bapakku.

“Ya sudah, saya tinggal dulu. Kalau butuh bantuan, tanya saja kepada mbak atau mas yang jaga pendaftaran di dalam”.

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih wajah tampan itu sudah berbalik meninggalkanku. Langkahnya begitu cepat dan begitu saja hilang tertelah ruang kecil di timur pohon jambu air yang menjulang. Notasi senyumnya, kedipan matanya, langkah kakinya, seakan tercetak tegas di pelupuk mataku. Sampai seorang perempuan dengan jas biru dongker memecah harmoni menawarkan selembar prosur.

Ku buka lembaran lebar dan ku baca isinya. Aku makin jatuh cinta dengan tempat ini. Di samping ada jenjang sekolah yang aku inginkan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas, kegiatan luar sekolahnya mampu menghipnotis anganku.

“Ayo nduk, kita lanjutkan perjalanan”. Kenapa bapak cepat sekali keliling pondoknya. Padahal aku belum selesai membayangkan kegiatan yang tercetak dalam brosur ini.

“Aku mondok di sini saja pak”.

Gurat heran jelas terkerut dari dahi bapak dan ibu. Dengan diskusi singkat, akhirnya mereka menyetujui usulanku. Dengan syarat, jika dalam sebulan aku tidak kerasan, mereka akan memondokkanku ke pesantren yang lebih jauh dan tidak boleh pulang sebelum lulus.

Tidak ada perasaan takut. Justru tantangan dan ancaman bapak ibu aku jadikan penyemangat dan dorongan untuk lebih kerasan.

Setelah proses pendaftaran kamipun diijinkan pulang kembali, karena pembelajaran belum dimjulai.

Seminggu kemudia aku memulai petualangan baruku. Hari-hari yang ku lalui begitu ceria, tidak ada hal yang ku takutkan dan ku hawatirkan sebagaimana ayahku memperlakukanku di rumah. Terlebih, sosok pria bertubuh tegap dengan kacamata hitam itu selalu mengintruksikan kepada para santri untuk cinta membaca. Sangat singkron dengan kegemaranku.

Dalam satu sesi acara aku melihat pria berjenggot tempo hari sedang berdiri di depan para santri. Dengan celana hitam, baju ungu, songkok, dan lengkap dengan dasi putihnya terlihat serasi dengan warna kulitnya yang tak begitu putih. Aku bisa menebak apa jabatannya di sini.

Sebulan sudah aku disini, dan bapak tidak menjengukku.

“Pak Rey, tolong ambilkan bungkusan di lokerku dan kasihkan ke mbak Vara. Aku mau keluar sebentar”. Aku menunduk saja dan tidak berani menoleh kemana-mana. Apalagi harus menatap matanya. Sampai ada suara memanggilku.

“Dek, ini bungkusan dari bapaknya”. Suara renyah itu tiba-tiba menyejukkan kepalaku yang sudah mulai panas menunduk di depan kantor ini. Ku terima bungkusan itu dan senyum mentari itu masih ada. Bahkan lebih indah dari yang ku lihat dari menara samping masjid dekat rumah Aila.

“Terima kasih mas. Eh Pak”.

“iya, sama-sama”.

Aku seperti sudah sangat dekat dengan dia. Bahkan sesekali aku tak takut untuk mengajaknya bergurau di sela-sela aku menerima kiriman dari bapak yang dititipkan ke pak Yumna. Dan entah disengaja atau tidak, pak Yumna sering menitipkan kepada pak Rey.

Mungkin benar aku mengagumi sosok mereka sebagai guru. Tapi kekagumanku sedikit berbeda. Mereka seperti tak jauh beda dengan usiaku sekarang.

Aku mulai tidak tahan dengan gemuruh dalam fikiran dan hati. Pada kesempatan aku dipanggil pak Yumna, sengaja aku perpanjang bicaraku. Dan benar saja tak lama kemudian pak Rey keluar dari ruangnnya.

“Ini yang liburan kemarin ketemu kita kan pak?”

“Iya pak”. Jawab pak Yumna.

“Siapa namamu?”

Ini petir atau angin surga? Kalau petir kenapa aku tak merasa sakit. Namun jika ini angin surga, kakiku masih menapak tegap di lantai. 

Karena aku terlalu lama tidak menjawab, akhirnya pak Yumna yang menyebutkan nama lengkapku.

“Waduh, nama kok panjang banget toh dek?. Tak panggil Vee saja ya?”. Dibarengi dengan tawa kecil lalu pergi.

Mataku tertuju pada sebuah gambar kartun bebek yang menggoyangkan lidahnya di depan warung bakso. Aku tersenyum sendiri mengingat bagaimana Aila sering mengejekku.

Aku tak ikut bapak dan ibu berkeliling pondok. Aku duduk di depan sebuah kelas yang disulap menjadi kantor pendafataran.

Aku dipanggil ke ruang guru untuk menemui Yumna. Akupun bergegas ke kantor. Dipintu ruang yang sempit itu sudah menunggu pria berjenggot yang dulu menemani bapak dan ibu keliling pondok.

Selalu begitu. Mengisi air pada ember yang berlubang dan meninggalkannya. Dan aku masih selalu membutuhkan air itu, selalu.

Bloklimasatu.com - Udara terasa lebih sejuk pagi ini. Embun yang menutupi senyum mentari merapatkan pekatnya. Kicauan burung cendetpun terdengar lebih merdu dari biasanya. Namun semua itu tak menyurutkan keinginan Riyanto untuk pergi ke kantor pos dengan mengayuh sepeda jengki biru warisan kakeknya. Tidak jauh memang, hanya 3 kilometer saja. Tapi dengan sepeda ontel yang telah usang tentu beda tenaga yang harus dikeluarkan untuk menempuhnya.

Dengan semangat empat lima, Riyanto mengeluarkan si jengki dan sedikit memberi tambahan angin pada kedua rodanya, dan perlahan mulailah ia mengayuh sepedanya itu. Jalanan kampung memang tidak bersahabat, namun jalanan ini sudah menjadi sahabat dekat yang selalu menemani dan menjadi tempat curhat kala masalah melanda. Tak terasa sumur waru telah dilewatinya, itu berarti tidak lama lagi kantor pos sudah bisa dia masuki. Sesampainya di kantor pos riyanto dapat urutan pertama, itu berarti ia bisa langsung mengambil kiriman uang dari sudara kembarnya Riyanti yang bekerja di kota.

Selepas lulus SMP Riyanti memutuskan untuk mengadu nasib di kota, sementar Riyanto menjaga rumah sambil sesekali membantu bapak bekerja di sawah. Dengan modal ijasah SMP, tentu tidak banyak yang bisa dilakukan Riyanti selain menjadi asisten rumah tangga. Dan untung nya dia mendapat majikan yang kaya raya dan baik hati. Sudah hampir lima tahun terakhir ini Riyanti rutin mengirim uang ke kampung tiap dua bulan sekali, dan hasilnya pun sudah bisa memberi pembeda secara ekonomi dibanding tetangga sekitar.

Perasaan yang sumringah dan terkadang senyum dari bibirnya tak mampu disembunyikan sepanjang perjalanan pulang. Ia kayuh sepedanya dengan sangat kecang karena ingin segera memberikan uang dan membacakan sepucuk surat dari Riyanti kepada kedua orang tuanya. Karena terlalu semangat, ditikungan sebelum sumur waru Rianto terjatuh karena akan menabrak ayam dan terlemparlah tubuh wanginya itu ke selokan air kencing sapi dari kandang milik warga sekitar. Mau marah tapi tak tahu kepada siapa dia harus marah, namun secepat kilat segera ia lepas baju dan sarungnya untuk diperas dan dikenakan kembali, mumpung belum ada orang dikayuhnya kembali sepeda jengki agar segera sampai rumah.

Setelah mandi dan mencuci pakaiannya, ia segera memanggil ibu dan bapaknya untuk membacakan surat dari Riyanti.

Assalamu`alaikum

Mak, pak, kak Riyanto semoga kalian tetap dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa. Kali ini riyanti sangat bahagia, karena sebentar lagi emak akan mempunyai seorang menantu, itupun jika emak, bapak, dan kak Riyanto menyetujuinya. Riyanti sudah dikenalkan dengan kedua orang tuanya diantar oleh pak Patmo majikan Yanti, karena dia ini anak dari rekan bisnisnyai. Balasan dari rumah nanti akan menentukan bagaimana kelanjutan hubungan ini. Karena jika emak, bapak, dan kak Riyanto menyetujuinya, mereka akan mangsuk bertolak ke kampung untuk berbicara lebih lanjut. Oh iya sampai lupa mak, laki-laki yang melamar Riyanti ini namanya Ikal, dan fotonya sudah ada di dalam amplop.

Ya sudah ya mak, pak, kak, mohon segera dibalas.

Peluk rindu dari Riyanti.

Wassalamu`alaikum.

Setelah membacakan surat, Riyanto memberikan foto laki-laki yang dimaksud, tapi justru semua tertawa geli menghirup bau dari foto itu.

“sudah To, ndang ditulis. Bilang sama adikmu kita sekeluarga setuju”. Wajah ibunya begitu sumringah, meski tak bisa melihat dengan jelas kegantengan wajah Ikal karena sedikit rusak terkena air kencing sapi. Riyanto tidak segera menulis tapi membawa ibu dan bapaknya ke rumah pak kades untuk telpon secara langsung. Namun ternyata menelpon tidak semudah yang dibayangkan. Karena beberapa kali dicoba baru bisa menyambung.

“Halo, apa benar ini rumah pak Patmo?” dengan perasaan senang dan gemetar ibu membuka pembicaraan.

“Iya benar, ini dengan ibu Patmo, apa ada yang penting?, jika tidak penting, silahkan tinggalkan pesan saja”. Lirih terdengan suara perempuan seperti menahan tangis.

“Iya ndoro, begini, ini ibunya Riyanti yang bekerja di rumah ndoro, apa saya boleh bicara sebentar dengan Yanti?” jawabnya gugup.

Dari dalam telepon samar-samar terdengar suara teriakan bu Patmo memanggil suaminya. Dan tak lama dengan nada tegas namun lembut pak patmo berbicara.

“Begini ibu, tadi pagi Riyanti diajak anak saya Aulia ke villa dipuncak untu mempersiapkan pesta ulang tahunnya, namun dalam perjalanan ban mengalami slip ditikungan yang menyebabkan mobil terpental ke jurang. Dan dengan berat hati kami sampaikan bahwa Riyanti meninggal dalam kecelakaan itu”.

Seketika gagang telepon lepas dari pegangan, badannya lunglai, seperti petir menyambar di terik siang, seperti matahari gerhana pada puncaknya. Riyanto membopong ibunya pulang. Suasana bahagia itu berubah menjadi kacau balau, berantakan.

Tepukan halus dipudak Riyanto menyadarkan lamunannya. Ingatan akan kematian Riyanti selalu muncul disela lamunnya. Memang ia sudah mengikhlaskan kepergian adiknya, namun ada sakit hati dan dendam yang masih tertinggal begitu banyak dalam amarahnya. Bagaimana tidak, perempuan yang lahir sekian menit sebelum kelahirannya harus mengakhiri hidup menjelang saat bahagianya.

“Permisi mas, apa ibu ada?” suara lirih sedikit gemetar itu memecah keheningannya.

Dengan pandangan nanar ia tengokkan lehernya menatap wajah yang selama ini ingin ia temui. Perempuan yang selama ini laknat itu hadir sekian senti dihadapannya.

“perempuan laknat, perempuan bangsat, kau renggut nyawa adikku disaat bahagianya menjelang. Perempuan macam apa kau ini, hah?! Kenapa tidak kau saja yang mati bersama mobil terkutukmu itu orang kota?! Atau kau tak sendiri saja yang terjun bebas ke lembah berdarah itu, tapi kenapa malah kau jadikan adikku tumbal dari dari takdir kematianmu yang sudah mengintip?!.
Cercaan pertanyaan penuh kemarahan itu ia dengarkan dengan seksama. Uraian air mata sengaja tak ia hapus agar semua rasa bersalah itu ikut keluar bersama hujan yang semakin membanjiri pipi yang terawat indah.

“Apa jangan-jangan sebenarnya kau mencintai Haikal? Anak rekan kerja ayahmu yang lebih memilih adikku, dan kau iri? Dan kau sengaja menyingkirkannya dengan cara picikmu?”

“Cukup nak! Adikmu sudah tenang di alam sana. Bukankah sudah kau bilang sudah mengikhlaskannya?”. Dengan pelukan erat kepada Aulia berusaha menengahi dan membelanya yang seakan sudah tak berdaya dengan berondongan pertanyaan kemarahan Riyanto.

“Ibu yang mengizinkan Aulia kesini. Memang awalnya ibu menolak ketika Aulia ingin kesini untuk meminta maaf kepadamu, karena dalam tidurnya kamu selalu hadir, terus menerus mendoktrinnya sebagai penjahat, sebagai pembunuh adikmu. Setelah ibu fikir, tidak ada salahnya untuk mendamaikan kalian berdua.”

“Selamanya aku tidak akan pernah memaafkan pembunuh picik ini. Hah!”. Dengan teriakan kemarahan yang ditahan, ia tinggalkan Aulia dan ibunya yang masih berpelukan di emperan rumah dengan isak tangis.

Hidup Riyanto semakin hari semakin tak tenang saja, dengan hadirnya musuh yang selam ini ia cari, bukan semakin bisa melampiaskan kemarahan, tapi justru semakin dia harus menahan setiap amarah yang tiba-tiba keluar. Karena musuh yang selama ini dia cari, sekarang menjadi ratu dalam istananya. Serorang ratu yang kecantikannya tak berarti apa-apa baginya. Seorang ratu yang harus ia hormati dan turuti setiap keinginannya selama ia mampu. Begitulah tradisi dalam rumahnya secara turun temurun.

Hal yang sama dirasakan Aulia. Bayangan indah yang selama ini ia dambakan tak berjalan dengan baik. Ia bisa mendapatkan maaf dari kakak Riyanti dan kembali ke kota menjalani kehidupannya dengan normal kembali. Namun justru tekanan yang begitu kuat, lebih kuat dari hantu yang selalu hadir dalam mimpinya.

“Aulia, tolong kirimkan makanan ini ke sawah yang kemarin kita kunjungi, bapak dan Riyan sedang memanen cabai. Tidak ada salahnya juga kamu membantu mereka memetik, setidaknya bisa menjadi cerita saat kau kembali ke kota nanti”.

“Baik bu”.

Dengan semangat penuh harap, ia bawa rantang-rantang itu ke sawah. Namun perjalanan yang kemrin dirasa cepat, kali ini terasa lebih lama, bahkan lama sekali. Sampai-sampai bayang langkahnya tak terlihat lagi. Karena kepanasan ia berhenti disebuah gubuk sambil mengingat-ingat arah langkahnya.

Disisi lain, Riyanto, ibu dan bapak sedang bingung memikirkan kemana Aulia nyasar.

“Pak, cobalah ke sawah, cari anak itu, ibu takut kalau kesasar atau kenapa-kenapa”. Ibunya meminta.

“Gak usah. Bencana tetaplah bencana. Kemana-mana juga akan membawa benca”. Dalam kerisauan ibunya, Riyanto masih saja menyimpan dendam kesumat yang semakin membesar saja.

Belum ada jawaban, Ibu Riyanto beranjak dari rumahnya mengambil caping dan bergegas menuju sawah. “ biar Riyan saja yang pergi mencari. Ibu dan bapak di rumah saja. Doakan semoga Riyan tidak menjadi korban selanjut dari perempuan jahat itu”. Cegah Riyanto.

Rasa lapar, terik siang yang menyengat, dan Dendam yang membara seakan memberi energi khusus kepada Riyanto untuk berjalan. Entah berapa puluh petak sawah yang sudah ia lewati, namun tak kunjung juga ia temukan perempuan laknat itu. Ia hentikan langkahnya dibawah pohon kepoh ditengah sawah itu sekedar untuk minum dari air sumur dibawahnya. Namun disaat hendak jongkok mengambil air, ia mendengar sebuah perdebatan yang begitu menggebu yang salah satu suaranya kental dengan suara perempuan. Ia lanjutkan untuk menggayung air yang tidak begitu dalam, namun suara itu semakin keras dan lekat ditelinganya. Hatinya tergugah, ia urungkan niatnya untuk mengambil air, dan berdiri mencari sumber suara. Terlihat perempuan disamping sebuah gubuk pinggir jalan sedang berdiri, tidak sendiri, ada sosok laki-laki terlihat sedang membicarakan sesuatu. “ternyata dia sudah mendapat korban lain”. Lenguhnya sambil meninggalkan tempat sejuk itu. Riayntopun masih sempat memikirkan bagaimana nanti Aulia pulang, “ kalau memang itu Aulia dan ada orang yang ingin membunuhnya, atau dalam perjalanan pulang ada ular yang menggigitnya, biarlah. Anggap saja itu sebagai imbalan dari kejahatan yang pernah ia perbuat”. Dendam hatinya berbicara.

“Kamu bilang sakit hati sama Aulia karena menjadi penyebab kematian adikmu, tapi kau tinggalkan seorang perempuan lemah dipematang sawah dengan seorang laki-laki yang tidak kamu tahu apapaun tentangnya. Ya kalau itu orang baik. Bagaiaman kalau dia itu ternyata penjahat dan akan memperkosa Aulia, atau mungkin membunuhnya?. Dimana hati kamu sebagai seorang manusia, nak?”.

Ibunya lemas, terduduk dilantai rumah sambil menyeka air matanya yang begitu deras mengguyur hati-hati yang sedang mati dan kering. Tak pernah ibu semarah ini. Hati Riyan tergerak untuk kembali ke sawah, dan pulang membawa Aulia untuk ibunya.

“Tak perlu Nak, biar ibu saja. Kamu tunggu dirumah. Bila ternyata ibu tidak kembali karena dibunuh oleh laki-laki itu, cukup kuburkan ibu dengan layak dan tak perlu kau benci dirimu sendiri. karena itu akan lebih menyakitkan”.

Langkah wanita kampung empatpuluh tahunan itu tegap meninggalkan rumah. Namun sebelum memasuki pematang sawah, dengan lari secepat kilat, ia hentikan langkah ibu sembari berlutut di kakinya. “Biar Riyan saja bu yang membawa pulang Aulia untuk ibu. Kali ini mohon percaya niat tulus anakmu ini, ibu”. Ibunya ikut terduduk. Dera air matanya masih saja mengucur. Dengan satu anggukan dari ibunya, ia kecup tangan suci itu, lantas berlari kencang menuju gubuk kecil dipinggi sawah.

Dari kejauhan ia lihat Aulia sudah sendiri berdiri di bawah gubuk. Semakin Riyan kencangkan larinya, meski sesekali terpelanting jatuh ke sawah. Sakit sudah pasti, karena ini musim kemarau. Namun tak menciutkan niatnya untuk menemui nadia.

“Kamua tak apa-apa Aulia?” dengan suara gemetar dan ngos-ngosan penuh kekhawatiran, tak sadar kedua tangannya telah melingkar di leher Aulia. Tak ada jawaban dari Aulia, karena mulutnya tertutup dada Riyan yang sedang memeluknya. Entah apa yang dihembuskan angin, yang pasti melalui terpaannya doa ibu di rumah sedang didengar oleh Tuhan. Pelukan dilepas dan mereka berjalan pulang dengan rantang yang masih penuh.

Diperjalanan, Aulia menjelaskan bahwa laki-laki tadi adalah mantan pacarnya di kota yang meninggalkannya untuk perempuan lain dan bermaksud untuk kembali. Riyanpun meminta maaf akan sikapnya selama ini. Ia tidak bisa menjelaskan dari mana benci datang dan semakin menggunung tiap harinya, bahkan sampai berimbas pada mimpi Aulia. Kemarahan itu sudah berubah jadi gurauan. Tak ada lagi dendam. Keceriaanpun terlihat kembali dirumah Riyanto. Bahkan hari itu mereka sekeluarga masih bergura sampai tengah malam.

Sarapan sudah siap dengan lauk dan minumnya. Meski baru belajar beberapa hari dari ibu, Aulia memberanikan diri untuk memasak. Setidaknya bisa menjadi salam perpisahan yang manis. Sebab tepat hari ini jemputan dari kota akan datang. Bukan karena sudah mendapat maaf dari Riyan dan keluarganya dia langsung pulang, tapi dua hari lagi dia harus mengikuti wisuda pendidikan yang diambilnya.

Satu persatu dari mereka bangun, dan kaget melihat kondisi rumah dalam kondisi bersih dan rapi. Ditambah sarapan sudah tersedia di meja dengan desain cantik. Tak lama mereka segera memulai sarapan masih dengan candaan renyah yang terbagung baru kemarin siang. Tapi ada tangis yang tertahan dari peserta sarapan ini. Ya, Aulia. Ia tidak bagaimana harus membuka kalimat perpisahan yang pasti akan menghancurkan ketegarannya selama ini. Sepertinya daun sawi dan ketela yang ia masak tadi ikut berdoa atas keresahan hati yang ia rasakan. Suara mobil berhenti tepat didepan rumah dan mematikan mesinnya. Riyantopun segera menghabiskan makanannya dan menemui pemilik mobil didepan rumahnya. Sementara ibu dan Aulia membersihkan piring di dapur. Disitulah Aulia berpamitan dan menceritakan alasannya.

Auliapun segera mengambil semua barang di kamar yang sudah ia kemasi semalam. Tangis haru mengiringi perpisahan mereka. Dan untuk pertama kalinya, tangis Riyanto tertumpah bukan karena dendam, tapi kebahagiaan yang telah begitu lama tertimbun abu amnesia.

Bloklimasatu.comPagi itu pak Ngatman berangkat mengajar dengan semangatnya. Dengan peci sedikit miring, baju licin bekas setrika tempo hari. Perawakannya begitu gagah dan necis dengan baju masuk dan dasi usang warisan sang kakek. Dikayuhnya sepeda onta tua yang dicat dengan warna merah muda matang, bukan karena apa, kecuali menuruti keinginan adik perempuan kecilnya yang memang menjadi penyemangat hidupnya. Tidak lebih dari satu kilometer dia sudah sampai pintu gerbang sekolah yang terlihat lusuh dengan lumut dan semaian beringin yang masih kecil. Sesekali ia lontarkan senyum kepada siswa yang sedia menunggu pintu gerbang sekolah hanya untuk mengingatkan untuk turun dari kendaraan ketika memasuki area surga itu, begitu para siswa istimewa menyebutnya.

Di dalam kantor tak banyak yang diucapkan, duduk dengan tegapnya dengan buku ditangan. Entah apa yang dibacanya tak banyak yang tahu, karena memang tidak banyak berani memulai interaksi dengannya, bukan karena dia seorang pemarah atau sosok yang perlu ditakuti, mungkin kewibawaan yang secara tidak langsung mempengaruhi sikap orang disekitar kepadanya, semua menaruh hormat. Disamping kewibawaan yang dimilikinya, sikpanya yang unik kadang mampu memecah kebuntuan kala bapak kepala sekolah dan istrinya banyak mendekte para guru junior dengan tugas-tugas yang terkadang serasa tidak masuk akal. “8 dibagi dua jadi berapa?” satu pertanyaan mudah yang sebenarnya mampu dijawab oleh anak kelas satu atau dua sekolah dasar. Tapi tidak tahu kenapa, ketika pak Ngatman yang bertanya seluruh isi kantor terbawa arus untuk berfikir keras untuk menemukan jawabnnya. Pasalnya pertanyaan-pertanyaan ia sering membuat isi kantor berfikir keras dengan akhir jawaban yang memingkalkan.

Teng teng teng. Bunyi lonceng dari potongan rel kereta api bekas peninggalan belanda itu menandakan bahwa jam pelajaran pertama siap dimulai. Pak Ngaatman berdiri dan berjalan menuju pintu kantor, di hadapan cermin usang di balik pintu itu ia rapikan kembali baju dan dasinya, dan yang tak pernah lupa adalah memeriksa resleting celananya. Ia jinjing tumpukan buku di tangan kanannya dan beberapa alat peraga ditangan kirinya. Dengan langkah tegap ia menuju kelas ujung bangunan tanpa tengok kanan kiri dan sepatah katapun tak keluar dari mulutnya. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas dan masuk dengan tenangnya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut siswa sampai ia mengucapkan salam bahwa pelajaran siap dimulai. Selama pejalaran berlangsung serasa kursi guru tidak ada fungsinya, karena dalam penyampaian pelajaran ia lebih seirng berdiri dan mondar mandir di dalam kelas guna tercapainya materi yang telah ia siapkan semalam suntuk.

Potongan rel kereta api itu berbunyi lagi menandakan jam pelajaran telah usai. Sebelum meninggalkan kelas dan mengucapkan salam, ia akhiri pelajaran dengan beberapa nasihat dan memotivasi siswa untuk lebih memacu semangat belajarnya dan untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma. Sosok berdasi usang itupun keluar kelas. Di dalam kantor guru-guru muda yang memang tidak banyak tugas selain menjaga kantor agar tidak curi orang itu sudah menantinya. “pak aku sudah tau jawabannya” Aisyah yang duduk dipojok kantor membuka pembicaraan. Pak Ngatman melepas kacamata tebal yang membebani hidung mancungnya seraya tersenyum. “jawabannya 4 pak” begitu Aisyah menjawabnya diikuti Ainiyah dan beberpa guru muda lainnya. Lagi-lagi hanya senyum simpul yang diberikan pak Ngatman, “kurang tepat, jawabannya adalah nol”. Semua isi kantor bingung, dan saling bertanya dimana telat kesalahannya. Dengan melingkarkan jari-jari tangannya bertemu ibu jari dan mempertemukan kedua tangannya sehingga membentuk angka 8 ia menunjukkan kepada isi kantor. Cicak di belandar bangunan kantor tepat disamping lampu itupun seakan ikut menunggu penjelasan pak Ngatman. Dari dua lingkaran jari tangan kanan dan kiri itu ia memisahkannya, maka tinggallah angka nol. Sontak seisi kantor tertawa. Susasana seperti inilah yang selalu ditunggu dari pak Ngatman.

Pak kepsek dan istrinya yang kadang ikut-ikut untuk mengajar itu masuk kantor dan memecah canda tawa menjadi susasana yang mencekam. Dengan bedak setebal tembok Cina dan lisptrik semerah darah kurban itu memanggil Aisyah. Dengan sigap namun dengan raut muka dan senyum penuh malas itu aisyah duduk didepan istri pak kepsek. Sekilas apa yang diperagakan Aisyah seperti mbok mban yang menghadap kepada ratunya sehingga dia harus berjalan berjongkok seratus meter sebelum sampai dihadapan sang ratu. Dan semua sudah bisa mengira apa yang akan terjadi. Cercaan dan paparan kesalah dari tugas yang diberikan kepadanya tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Aisyah adalah tangan kanan Istri pak kepsek yang merangkap sebagai sekretaris, bedahara, maupun seksi-seksi lain di sekolah ini.

Dari kejauhan pak Ngatman meraba dadanya. Kejadian itupun pernah menimpanya yang notabene punya usia lebih dewasa. Sehingga pemandangan buruk itu ia berasaha mengabaikannya. “Pak Ngatman, kalau dulu mau mengambil pelajaran lain untuk diajukan ke Pemkab kan bapak sudah jadi PNS seperti yang lainnya.” Pak kepsek yang duduk di depannya membuka pembicaraan. “yang sudah ya biarlah pak, mungkin belum rejekinya. Kalau nanti ada pengajuan lagi mohon dengan sangat untuk mengabari saya”. Dengan senyum ia menjawabnya. Namun dari senyum itu terjadi perang di altar luka dua belas tahun silam yang hampir sembuh. Ia jadi ingat kembali pada peristiwa dimana dia hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan surat untuk mengajuan ke Pemkab, tanpa kesalahan semua surat itu ia persiapkan, mulai dari foto, copy ijasah, dan beberapa surat penunjang.

Masih sangat jelas dalam ingantannya, tepat pukul sebelas malam Aisyah yang malam itu membantunya menyiapkan berkas-berkas mendapat telpon dan bergegas meninggalkannya. Sebelum pergi Aisyah mohon ijin karena dipanggil istri pak kepsek. Pak Ngatman menahannya dan menitipkan beberapa berkas untuk besok di tanda tangani pak kepsek. Pintu kantor ditutup dan ia bergegas ke desa seberang, karena nenek satu-satunya meninggal dunia. Tepat jam delapan pagi dimana mayat neneknya akan diberangkatkan ia mendapat telepon dari pak kepsek yang memeberitakan bahwa setelah dirundingkan dengan dewan guru senior dia tidak bisa meloloskan berkasnya. “terserah anda pak”. Terlihat jelas keputus-asaan dan kekalutan yang sedang melandanya, dan tak banyak orang tahu apa yang sedang ia rasakan. Dengan jiwa besar ia berusaha merelakan.

Pak Ngatman bertahan dengan ideologinya. Karena baginya tak ada alasan pelajaran yang sudah diampunya puluhan tahun harus dilepaskan dan berpindah dengan pelajaran lain. Dan belum tahu siapa nantinya yang akan memegang pelajaran itu. Sementara dalam waktu semalam tidak akan mungkin merubah berkas yang sudah ada sejak puluhan tahun silam yang melibatkan tanda tangan banyak orang pula. Baginya Ideologi adalah nilai diri dan melacurkan ideologi adalah awal perbudakan.


Bloklimasatu.com Hamparan luas persawahan dan tingginya ilalang yang biasa digunakan oleh murid-murid untuk bertapa ringan, atau sekedar melatih ilmu kanuragan yang telah diajarkan oleh eyang guru kini sudah berangsur mengering dan punah, hilang. Kicauan pipit yang biasanya menjadi alarm secara perlahan meninggalkan cemara-cemara yang menjadi pagar padepokan. Tempat ini sudah tak seperti dulu, dimana burung-burung bebas beranak pinak, ilalang yang siap menjadi tempat berbicara para siswa dikala rindu orang tuanya, atau air terjun belakang padepokan yang siap mengairi dahaga setiap tenggorokan yang mulai mengering, rasanya sudah pantas menjadi situs peninggalan sejarah.

Pagi itu seperti biasa Karna hanya menyiram tanaman pohon jambu dan nangka disekitar padepokan, sesekali membersihkan rerumputan disekitarnya yang yang sudah mulai rimbun. Tugas ini terasa aneh, karena dia pergi ke tempat ini untuk mencari ilmu kanuragan yang menjadi andalan Padepokan Wilujeng Raharjo, tapi justru ia mendapat tugas yang sangat berbeda dengan murid lainnya. Sesekali ia lelah menjalani tugas ini ketika melihat beberapa teman lain beradu kanuragan atau bela diri yang dipraktekkan dihalaman padepokan. Namun secepat kilat ia menepis bisikan iblis yang datang tanpa bisa disangka.

Sudah hampir delapan tahun dia menghabiskan waktunya untuk mengurus tanaman-tanaman disekitar padepokan, dari phon jambu dan nangka yang dulunya setinggi jari telunjuk, kini sudah tiga kali lipat dari tinggi badannya. Namun ada hal aneh yang ia rasakan, sudah hampir satu tahun terakhir ini tidak ada teman-teman yang berani mengganggunya seperti dulu. Dimana dia harus kebingungan mencari ember yang biasa digunakan mengambil air dari air terjun belakang padepokan yang memang menjadi sumber air bagi seluruh isi padepokan dan masyarakat dilereng gunung. Atau keusilan-keusilan lain yang biasa ia rasakan. Meski terkadang mengesalkan, tindakan-tindakan seperti itu justru membuatnya rindu, rindu akan rasa kesal, rasa capek, bahkan rasa ingin marah yang biasa ia terima selama ini.

Sesaat ia berfikir tentang keanehan-keanehan ini, apakah semua ini terjadi karena mereka sudah lelah mengerjainya, atau mereka di marahi oleh eyang guru, melihat tugas mengurus tanaman ini datang langsung dari eyang. Sampai akhirnya dia memberanikan diri menemui eyang guru di ruang inti padepokan. Tidak lama ia menunggu sang guru menemuinya dengan wajah memerah, sepertinya akan marah. Rasanya ingin segera lari, namun sudah kepalang tanggung, melihat sangat sulitnya bisa bertemu dengan eyang guru. “pulanglah, dan bawa orang tuamu kesini”. Bagai petir yang sedang menyambar, desiran darah ini serasa ingin berhenti. “Ada apa gerangan sampai-sampai eyang guru menyuruhku pulang, bahkan sampai menyuruh orang tuaku kesini. Apa mungkin karena kejadian kemarin, dimana cucu eyang guru, Aisyah yang menjerit sekencang-kencangnya di airu terjun karena diganggu oleh teman-temanku. Tapi aku akn tidak ikut mengganggu, bahkan aku yang menolong dan emngantarkannya pulang”. Seribu tanya berjalan begitu cepat dalam angannya, sampai-sampai dia lupa bahwa didepannya sedang duduk eyang guru yang menunggu jawabannya. “sendiko dawuh guru”. Hanya itu, dan ia bergegas pergi meninggalkan padepokan tanpa banyak persiapan.

Perjalanan panjang ia tempuh selama beberapa hari itu seakan tanpa ada rasa lapar dalam perutnya, pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya yang semakin lama semakin mengakar panjang rasanya sudah cukup untuk mengisi perutnya.

Tak terasa aroma belerang sudah mulai tercium begitu kental, dan itu menandakan tak lama lagi ia akan segera bertemu orang tuanya. Ia lihat wajahnya di belik seberang sungai depan rumahnya. Kusam, lusuh, tanpa gairah. Satu sampai lima guyuran sudah cukup untuk membohongi orang tuanya akan perasaannya.

“Assalamu`alaikum ibu, bapak”. Ada getaran-getaran tak jelas yang berdesir dalam dadanya. Namun ia berusaha menenangkan. Ibu dan bapaknya menjawab dan segera mengajaknya makan. Semakin banyak saja tanya dalam otaknya. “ternyata mimpi ibu jadi kenyataan. Dan itu ada satu sak beras sudah bapakmu siapkan untuk kamu bawa ke padepokan. Besok bapak dan ibu akan menyusul”. Iapun segera menghabiskan makanan dan segera berpamitan untuk kembali.

Dalam perjalanannya kembali, ada rasa frustasi yang sesekali menghinggapi, untungnya ia sudah sangat terlatih dengan kondisi seperti itu. Tapi menyimpan ribuan pertanyaan adalah hal baru baginya. Karena selama ini pertanyaan-pertanyaan itu hanya datang dari pohon-pohon yang bisa ia dapatkan jawabannya dengan mudah, karena yang menjawab juga dia sendiri. Tapi ini beda. Ada sosok-sosok yang tak mampu ia paksa, bahkan menatap wajahnya terlalu lama saja tak berani.

Bersambung…

Bloklimasatu.com - Kopdar Blogger Jatim yang diadakan oleh Blogger Bojonegoro dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Go Fun Bojonegoro, dan Realfood siang nanti sudah terasa atmosfirnya. Mentari yang bersinar terang pagi ini memberi semangat tersendiri untuk saya. Saling memberi kabar antara beberapa peserta dari group Facebook yang dibuat oleh panitia sudah ramai dengan beberapa info. Mulai dari memberikan kondisi terkini lokasi kopdar, sampai yang memberi jasa penjemputan dari stasiun kereta api maupun terminal Bojonegoro. Ini bisa dimaklumi, karena peserta yang hadir tidak hanya dari Bojonegoro, seperti halnya saya yang dari pojok barat kabupaten Tuban, acara ini juga dihadiri oleh peserta dari kota-kota besar lain di Jawa Timur seperti Ngawi, Jombang, Madiun, Lamongan, Gresik, Surabaya, maupun Sidoarjo.

Tepat pukul 11.00 wib saya mulai perjalanan dari Bangilan, Tuban menuju Kabupaten Bojonegoro dengan Yamaha Mio M3 kesayangan. Tidak ada halangan berarti perjalanan yang saya alami selain GPS dari HP teman saya yang tidak berfungsi dengan baik. Karena mengarahkan Pendopo Bojonegoro ke Rumah sakit Ibnu Sina.

Di lokasi kopdar kami disambut dengan baik oleh panitia dan diarahkan ke lokasi acara. Saat penantian dimulainya acara, kami bertemu dengan Ustadz Novianto Puji Raharjo yang dulu pernah bertemu dalam acara RTIK di ponpes Langitan.

Acara dimulai oleh pembawa acara yang dilanjut dengan sambutan ketua Blogger Bojonegoro dan dibuka oleh Ustadz Novianto Puji Raharjo dan dilanjut dengan acara ramah tamah. Dalam acara ini pula dibuka live tweet dengan tagar #kopdarbloggerjatim, #duniagofun dan #jatimproduktif.

Selesai acara ramah tamah, semua peserta diarahkan ke gedung baru kota bojonegoro untuk melihat dan mendengarkan penjelasan ibu Rizki dari Dishub Kominfo Pemkab Bojonegoro mengenai Open Government. Di dalam gedung berlantai 8 ini kami mendapatkan banyak pengetahuan mengenai menejemen terbuka yang dipraktekkan oleh Pemkab Bojonegoro. Terbukti dari deretan poster sepanjang gedung menunjukkan betapa mereka sangat sungguh-sungguh dalam melayani masyarakatnya. Ditunjang pula dengan teknologi informasi yang memudahkan penggunanya dalam mengakses setiap informasi maupun data.

Puas keliling dan anik turun kedung berlantai 8 ini, kami sudah ditunggu kang yoto, pangilan akrab Bupati Bojonegoro Drs. Suyoto M.Si. Dalam pidatonya Kang yoto mengapresiasi acara ini. Dan yang tidak bisa lepas dari sosok ini adalah motivasi- motivasinya yang selalu membangun. Sebagaimana slogan dari Kopdar Blogger Jatim ini From Zero to Hero, beliau menjelaskan bahwa perjuangannya dalam memimpin Bojonegoro tidak hanya From Zero to Hero tapi From Minus to Zero dan menjadikan Bojonegoro sebagai percontohan bagi Kabupaten lain di Indonesia bahkan dunia. Yang pasti sangat banyak, memukai, dan memotivasi pidato yang disampaikan beliau dan diakhiri dengan foto bersama.

Selepas sholat asar, peserta diarahkan ke lantai 8 gedung Pemkab Bojonegoro. Di area ini terhampar rumput sintetis, dan sepanjang mata memandang terhampar luas daratan wilayah Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya, mulai dari alun-alun kota, masjid, bengawan solo, dan lain sebagainya.

Turun dari lantai 8 panitia masih memanjakan pesertanya dengan makan dan pembagian tiket nonton konser Raisa di Theme Park Go Fun Bojonegoro. Karena setelah sholat maghrib semua panitia dan peserta akan diarahkan ke sana.

Sebelum konser berlangsung kami dikenalkan dengan beberapa wahana oleh panitia, mulai dari rumah bencana, petualangan hutan fantasi, taman lampu, beberapa area bermain, dan diakhiri stage konser Raisa.

Sungguh pengalaman yang luar biasa. Sekumpulan anak muda dengan ide dan kreatifitas yang cemerlang mampu bekerjasama dengan para sponsor dan mengumpulkan lebih dari 50 blogger sejatim. Dan akhirnya, LAMPAUI BATAS MAKSIMALMU.

Bloklimasatu.com - Kopda blogger. Kalimat ini sudah sangat kental di telinga saya. Tapi entah alasan apa dari beberapa undangan belum ada yang sempat saya datangi. Entah karena alasan kendaraan, cuaca, atau bahkan kondisi fisik yang kurang memungkinkan. Namun kali ini beda, begitu membaca info dari group whatsapp Blogger Tuban yang memebritahukan bahwa akan ada Kopdar Blogger Jatim di Bojonegro, ada dorongan yang sangat kuat dari hati terdalam untuk datang.

Tanpa tunggu lama, link dari whatsapp pun saya arahkan ke laptop untuk lebih memperjelas info yang dibutuhkan. Dan seperti yang saya harapkan, pendaftaran hanya lewat online dan tidak rumit. Ada rasa lega setelah mendaftar, namun ada ketar-ketir juga melihat peserta yang dibatasi hanya 50 orang saja. 

Satu dua hari tidak ada balasan. Dan saya putuskan untuk mencari aktifitas lain. Karena untuk acara sebesar ini dengan kuota peserta yang terbatas dua hari sudah sangat lama untuk memberikan konfirmasi. Tapi diluar prediksi saya, tepat jam 22.30 hari sabtu di saat saya sedang persiapan untuk perjalanan ke kota Kudus, ada rasa ingin membuka handphone yang biasanya memang saya abaikan, karena nada dering itu biasanya kalau tidak dari group whatsapp paling juga dari promosi operator. Ada sebuah sms dari nomor yang tidak saya kenal menyampaikan bahwa registrasi saya diterima dan harus mengkonfirmasi kedatangan dengan balasan YA.

Langsung saja saya hubungi Kafabih dan Adib. Karena mereka berdua adalah teman yang sedianya nanti berangkat bareng dari Bangilan ke Bojonegoro. Mungkin karena sudah tidur, paginya mereka baru membalas di saat saya sudah perjalanan ke Kudus. Namun bukan balasan yang saya harakan, karena mereka berdua tidak mendapatkan sms seperti yang saya terima.

Sepanjang perjalanan fikiran saya tidak tenang, memikirkan bagaimana perasaan mereka dan bagaimana saya harus berangkat sendiri. Akhrinya saya sms nomor call center yang disediakan untuk meninjau ulang pendafataran kedua teman saya ini. Agak lama juga ada respon, karena saat perjalanan pulang dari Kudus sekitar pukul 13.30 baru ada balasan dari whatsapp Terjadi beberapa tanya jawab yang akhirnya teman saya ini diterima. Ada hal unik dalam percakapan ini, karena nama call center yang tadinya saya kira laki-laki ternyata adalah sesosok perempuan cantik yang terlihat galau di konser Raisa.

Bloklimasatu.com - Jam istirahat sekolah telah tiba anak-anak berhamburan ke tempat-tempat favorit untuk menghabiskan waktu istirahat. Ada yang ke taman, perpustakaan, ataupun ke kantin sekolah sekedar untuk membeli makanan ringan. Suasanapun berubah menjadi ramai, riuh, gaduh. Dan itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi di kantin. Saling goda, saling ejek, saling mendahului memesan makan kepada ibu kantin, atau saling goda antara murid laki-laki dan perempuan di sela-sela penantian mereka menunggu makanan.

Keramaian-keramaian yang tadinya terlihat wajar-wajar saja di kantin sekolah dasar itu berubah menjadi tegang ketika salah satu teman mereka Hansamu datang dan duduk di meja tengah kantin dengan seekor anak burung ditangan dan mulut penuh dengan darah. Sontak jeritan siswa perempuan, yang diikuti teriakan siswa laki-laki seraya memanggil nama-nama bapak ibu guru mereka. Rupanya Hansamu memiliki kelainan dalam prilakunya.

Siang itu Hansamu dibawa ke ruang BK dan kondisi anak inipun tak berubah dengan saat di kantin.dia duduk di depan sebuah meja besar dalam ruangan yang sebenarnya sangat menakutkan bagi anak seusianya. Namun berbeda dengan Hansamu, dia hanya diam, tidak terlihat penyesalan apapun dalam dirinya. Karena baginya apa yang dia lakukan bukan hal yang melanggar apapun. Dia hanya makan burung dan anak-anaknya dari pohon belakang kantin dan berusaha menunjukkan di hadapan teman-temannya.

Hansamu memang berbeda dari kebanyakan temannya. Usianya belum genap sebelas tahun, rambutnya selalu dicat dengan warna yang selalu berubah pada tiap minggu atau bulannya. Memang terasa asing dan aneh ketika melihat Hansamu pada pertama kali, namun itu sudah menjadi biasa dihadapan teman dan guru di sekolahnya. Dia bukanlah anak periang yang mudah bergaul dengan teman-temannya, juga tidak banyak guru yang begitu memperhatikannya, Asal tidak melanggar peraturan, itu sudah bagus baginya. Karena dia juga selalu mengerjakan pekerjaan sekolah dan mengikuti pelajaran setiap hari.

Siang itu juga orang tua Hansamu dipanggil ke sekolah untuk diberi tahu diminta keterangan soal kelakuan anaknya. Ibunya datang dengan kepanikan yang memuncak. Bukan tanpa alasan, Hansamu adalah anak satu-satunya hasil pernikahan dengan sahabat dekatnya ketika sama-sama menajdi tenaga kerja di Jepang. Semua orang juga akan mengira bahwa hansamu dan ibunya benar-benar orang jepang. Terlepas dari intonasi bicara yang tidak fasih dengan bahasa Indonesia, warna kulit, gaya rambut dan berpakaiannyapun mencerminkan orang Jepang.

Hansamu hanya diam, tanpa sedikitpun mengangkat wajah. Ibunya berusaha mendekati dan mengajak bicara. Perlahan Hansamupun menoleh dan mulai berinteraksi dengan ibunya meski masih tanpa ekspresi. Namun dengan berbagai cara yang biasa dilakukan dirumah, Hansamu mulai tersenyum dengan pancingan sang ibu yang menjulurkan lidah sembari mengerlingkan satu matanya. Kepala sekolah dan guru BK-pun mulai tenang dan perlahan bergabung dengan Hansamu dan ibunya. Dengan harapan itu mampu merubah kepribadiannya.

.....Hansamu bukanlah anak yang tanpa prestasi. Sejak sekolah dasar, SMP, bahkan sampai kini masuk SMA, dia selalu menjadi juara satu dalam bidang tenis meja dan silat. Belum ada satupun yang bisa mengalahkannya. Terlepas dari fasilitas yang disediakan oleh ibunya, mungkin juga bakan silat didapat dari sang ayah yang sekarang tidak tahu entah dimana. Ayahnya tidak mati atau minggat. Akan tetapi keberadaannya sudah tidak diperdulikan lagi. Terakhir kali Hansamu melihat wajah ayahnya adalah ketika terjadi pertengkaran hebat yang terjadi antara ayah dan ibunya.

Kebiasaan ayahnya yang suka mabuk-mabukan setelah dikeluarkan dari perusahaan dimana dia bekerja. Itu bukan menjadi masalah bagi ibu Hansamu, tapi kepualangannya malam itu membuat murka besar bagi ibu yang selama ini sudah sangat sabar menghadapi tingkah suaminya yang seperti anak kecil lagi. Malam itu ayahnya pulang dengan tangan perempuan muda digenggamnya. Dari balik pintu yang memang langsung tertuju ke ruang tamu itu hansamu dengan jelas melihat bagaimana ibunya ditampar oleh ayahnya demi membela perempuan yang lebih pantas menjadi anaknya itu. Dengan derai air mata dan bengkak di bibir bekas tamparan, ibu mengusir ayah malam itu juga tanpa benda apapun ditangannya.

.....Hari ini adalah pengumuman kelulusan, semua siswa dinyatakan lulus, tinggal menunggu pengumuman siapa yang menjadi siswa terbaik yang akan disampaikan langsung oleh kepala sekolah minggu depan saat pesta perpisahan dirayakan.

Hari yang dinantipun datang, Hansamu memasuki gerbang sekolah dengan ibu kesayangannya, begitupun dengan siswa yang lain. Meski kebanyakan siswa menbawa kedua orang tua mereka, tapi tak jadi masalah bagi Hansamu, karena tidak hanya dia yang datang hanya dengan seorang ibu.

Seperti pesta-pesta sebelumnya, dalam susunan acara kali inipun ditampilkan pentas seni dari adik-adik kelas. Mulai dari menyanyi, drama, ataupun pembacaan puisi. semua terlihat bahagia.

Seluruh rangkaian acara telah selesai, dan tibalah sesi yang ditunggu oleh semua siswa kelas tiga dan semua orang tua yang hadir di halaman sekolah siang itu. Ya, Hansamu menjadi siswa terbaik tahun itu. Pelukan cium dari ibunya dan ucapan selamat dari para siswa, orang tua dan gurupun ia terima dengan senang hati.

Semua orang tua diijinkan pulang, namun para siswa diwajibkan untuk tetap tinggal di sekolah sampai jam sepuluh malam, guna mengikuti rangkaian acara penyerahan hadiah dan pesta kecil lanjutan. Acarapun berlangsung meriah dan pialapun sudah ditangan. Disela-sela acara dia didatangi seorang perempuan cantik yang selama ini menjadi bunga sekolah dengan seikat bunga di tangan mendekatinya. Perempuan itu adalah Meilina. Ucapan selamat disampaikan, dan Hansamupun tersenyum dengan mengucapkan terima kasih. Suasana menjadi datar-datar saja karena Hansamu tidak memberikan respon yang menjadi karapan perempuan ini. sampai sang perempuan pergi meninggalkannya sendirian berdiri di tengah jalanan sekolah menuju gerbang. Namun tiba-tiba dia memegang tangan Meilina dan menghentikan langkahnya. Hansamu memeluk sosok mungil dan mengungkapkan perasaan yang selama tiga tahun ini ia pendam. Gayungpun bersambut dan merekapun menobatkan diri sebagai pasangan kekasih.

Jarak rumah yang lumayan jauh dan biasa ditempuh dengan taksi, malam itu ia tempuh dengan berjalan kaki, tentunya ada Meilina disampingnya. Pembicaraan ngalor ngidulpun mereka lalui dengan tawa dan bahagia dan tanpa terasa sampai didepan rumah Meilina. Iapun diajak mampir untuk dikenalkan kepada kedua orang tuanya. Didepan rumah sudah menunggu ibu Meilina dengan senyum. Diteras rumah itupun terjadi percakapan renyah antara Hansamu dan ibu sambil menunggu Mei ganti pakaian. Tak lama Meilina keluar dari rumah dengan menggandeng seorang pria tinggi besar yang sangat tidak asing baginya. Tanpa berpamitan Hansamu lari meninggalkan rumah Meilina.

Dengan tangisan dan teriakan, sepanjang jalan Samu hanya bisa mengumpat dan mengumpat. Saat memasuki rumah ia ingin bercerita dengan ibunya dengan apa yang terjadi. Namun kejadian lebih buruk terjadi. Ia menadapti ibunya tergeletak di kursi shofa ruang tamu dengan sayatan pisau di pergelangan tangannya. Hidupnya hancur. Tak ada lagi orang yang benar-benar mencintainya. Karena satu-satunya orang yang sangat dia cintai telah pergi untuk selamanya.

Selepas kepergian ibunya, Samu menghabiskan hari-harinya dengan berdiam diri rumah. Ia mulai mengenal minuman keras dan obat-obatan terlarang. Sesekali Mei menjenguknya namun tidak pernah dibukakan pintu.

Sepertinya kenyamanan tidak pernah bersahabat dengannya. Malam itu tiba-tiba sang ayah datang untuk yang kedua kalinya namun dengan kondisi yang sama. Ayahnya datang dengan membawa perempuan cantik seusianya dan memperkenalkan bahwa itu adalah istri mudanya. Wanita ini akan tinggal di rumah Samu menggantikan ibu. Mungkin maksud ayahnya baik, tapi itu justru menjadikan sakit hatinya semakin memuncak.

Hari-hari mereka jalani dengan tidak wajar, karena dalam satu rumah dengan orang yang tidak dikenal sangatlah tidak enak. Bahkan wanita malang ini akan menjadi pelampiasan sakit hati yang selam ini ia pendam kepada ayahnya. Kejadian ini menumbuhkan tabiat buruk yang pernah ia derita saat kecil. Beberapa kali ia berusaha mencelakai wanita ini, namun selaluia urungkan. Hati kasihnya masih berpihak lebih banyak. Sampai suatu malam, ayahnya datang dan bergurau dengan istri mudanya di ruang tamu, dihadapannya, namun satu patah katapun tak terucap dari mulutnya. Bahkan adegan dewasapun tertonton jelas dihadapan Yamu. Hatinya semakin panas dan sakit itu terasa tidak bisa dipendam semakin lama. Sebuah pisau dapur menancap tepat dipunggung ayahnya beberapa kali. Darah dimana-mana. Dan wanita itupun lari keluar rumah. Tak ada penyesalan dalam hatinya, karena ia merasa hidupnya sudah lunas sekarang. Orang yang ia sayangi dan ia benci telah pergi dan hilang dari dunia ini.

Esok harinya ia pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Hidupnya sudah habis. Dimanapun dia hidup akan sama saja. Dia divonis 15 tahun penjara, dan mungkin itu akan kurang lama baginya. Karena setelah ia keluarpun tidak ada tujuan hidup selain kembali ke rumah, menghabiskan harta peninggalan ibunya dengan mabuk-mabukan.

Bloklimasatu.com - Menghafal pelajaran sudah menjadi aktifitas hariannya, bahkan buku-buku yang tidak diajarkan di sekolah pun sudah banyak yang dia hafal diluar kepala. Bahkan kitab-kitab kuning yang mejadi pelajaran kakak kelasnyapun sudah ia kuasai. Tak ayal dia menjadi primadona di sekolah dan asrama dimana dia tinggal.

Usianya baru enam belas, tapi prestasinya sudah dikenal diberbagai sekolah dan pesantren. Di kalangan santri sendiri sudah lima bulan yang lalu ia terpilih sebagai ketua organisasi santri dengan total suara seratus persen. Disamping kecerdasan dan kewibawaannya dihadapan adik maupun kakak kelas, kecantikannya pun mampu menarik perhatian para guru yang rata-rata masih muda dan belum berkeluarga.

Sepulang dari masjid ataupun sekolah, selalu ada surat mengatas namakan sebagai penggemarnya. Surat-surat itupun ia terima tidak dengan cara wajar, kadang di atas almari pakaian, rak buku, bahkan di dalam sepatu sekolah. Hal itu tak mampu mematahkan janji yang ia ucapkan untuk dirinya sendiri, bahwa ia tak akan membukan hati untuk hubungan serius kecuali hanya sekali, dan ia akan membuka untuk pertama kalinya setelah lulus dari pesantren, dan akan memberikan apapun kepada lelaki yang dicinta sesuai yang dicintai lelaki itu dari dirinya.

“Mbak Hin, dipanggil Abah ke ndalem” suara lirih dari Hilda membangunkan tidur siangnya. Hindipun membersihkan diri dan bergegas ke ndalem Abah. “Abah punya kelinci, dan Hindi yang abah beri tugas untuk merawatnya”. Sebagai santri yang baik tentu Hindi tidak akan menolak tugas mulia itu. Ia diantar langsung ke kandang kelinci oleh Abah, karena letaknya yang dekat dengan perkampungan warga dan agak jauh dari pesantren.

Tugas bertambah satu, namun itu tidak menurunkan prestasi dan mengurangi aktifitas yang sudah menjadi kebiasaannya. Dan semakin banyak pula surat tanpa tuan yang ia terima.

Tanpa terasa sudah enam bulan kelinci-kelici ini ia rawat. Dan sudah beberapa kali Abah menyuruh tukang untuk membuatkan kandang tambahan, karena kandang yang lama sudah tidak mampu untuk menampung jumlah kelinci yang semakin banyak.

Pukul tiga pagi, Hindi keluar kamar bermaksud untuk mengambil air wudhu untuk sholat tahajjud, tapi ada selembar kertas diatas sandal yang mengganjal langkahnya. Dan iapun membaca. Bukan surat cinta seperti biasanya, tapi hanya kalimat pendek yang serasa seperti petir baginya. “Selamat, satu bulan lagi kamu sukses menjalani roda kepemimpinan organisasi” hanya itu yang tertulis. Bagi santri lain yang menjadi bawahannya mungkin sebuah kebahagiaan, tapi tidak bagi Hindi. Karena itu berarti akan banyak gangguan dengan tugas yang semakin sendikit, dan yang pasti satu tahun lagi dia harus meninggalkan pesantren ini menjadi seorang alumni.

Kamis sore selepas acara serah terima jabatan dari kepemimpinan lama kepada yang baru, Hindi termenung dan sesekali mengajak bicara kelinci yang selama ini menjadi tempat ia curhat dan tertawa lepas. Kelinci-kelinci itupun seperti mengerti ucapapan dan setiap gerak mulut Hindi selama ini. Tapi sore itu ada satu kelinci yang sepertinya berfikiran sama dengannya. Kelinci itu keluar dari kandang dan berlari jauh ke perkampungan penduduk dan Hindipun mengejarnya. Namun apalah daya, langkah kakinya tak mampu menandingi kecepatan kelinci. Dengan langkah gontai dan tongkat di tangan, setiap semak tak luput dari tongkatnya, setiap orang ia Tanya, namun tak satupun mengetahui keberadaan kelici yang dicari.

Di beranda sebuah musholla ia berhenti sekedar untuk menghela nafas, dengan tatapan mata yang tak jelas arahnya sebuah suara mengagetkan hayalnya. “mbak mencari ini?” seorang pemuda tampan dengan kelici yang ia cari berada di tangannya. Pemuda itupun memberikan kelinci tersebut. Tanpa banyak kata pemuda itupun pergi dan Hindi masih belum tersadar dari lamunannya. Entah karena kelelahan atau pesona pemuda bermatat bulat dan berambut ikal tadi. Namun semua itu berlalu sampai ia memasukkan kelinci itu ke dalam kandangnya dan barulah ia tersadar kalau terima kasihpun belum sempat ia ucapkan, apalagi mengetahui namanya.

Ternyata benar apa yang dia takutkan selama ini, semakin sedikit kegiatan semakin banyak pula godanya. Karena pada kenyataannya Ia semakin sering memikirkan pemuda berkulit kuning langsat itu.

Satu minggu sudah Hindi tak fokus menjalani kehidupannya. Sebenarnya banyak yang heran dengan perubahannya, tapi tidak ada satupun orang yang berani menerkan apalagi mengingatkannya. Tapi karena semakin hari semakin aneh saja, Hilda yang menjadi teman dekatnya memberanikan diri untuk menanyakan hal apa yang menimpa teman baiknya itu. Namun Hindi hanya tersenyum simpul tak memeberi satu katapun.

Timbul fikiran nekat untuk menemui pemuda itu, tapi bagaimana caranya, sementara nama saja tak tahu apalagi rumahnya. Tiba-tiba muncul satu ide gila dan langsung ia kerjakan tanpa berfikir panjang. Ia membuka pintu kandang dan melepaskan tiga ekor yang paling besar. Benar saja, kelinci itu berlari ke kampung penduduk, dan ia menunggu sampai setengah jam baru mencarinya.

Selepas sholat asar, ia kembali ke kandang untuk memastikan kelinci-kelinci itu belum kembali dengan sendirinya, namun tanpa diduga pemuda itu sudah berada didepan kandang dan memberi makan untuk semua kelinci. “Maaf, saya lancang memasukkan kelinci-kelinci ini ke kandang secara langsung, karena tidak ada yang punya kelinci kecuali pak Yai” sang pemuda membuka percakapan. “oh iya mas, terima kasih. Baru saja saya mau mencarinya”. Pemuda itupun berpamitan untuk pulang. Sebelum langkah pemuda itu semakin jauh, Hindi memberanikan diri untuk menanyakan namanya. “ panggil saja Achul”, diikuti dengan lesung pipi yang terpatri indah.

Pagi, siang, sore, malam, bahkan setiap detik hanya senyum mas Achul yang selalu membayangi kelopak matanya. Nilainya mulai menurun, dan omongan orang tentangnya pun tak terbendung lagi. Surat-surat tanpa tuan yang biasanya ia simpan, kini berserakan dan bermuara ditempat sampah. Bahkan sudah ada yang mulai berani menggunjing dan menyebar fitnah seiring menurun kewibawaannya.

“Apa yang terjadi padamu Hin?, maaf jika aku terlalu lancang mencampuri urusanmu. Aku sudah terlalu sakit mendengar fitnah yang dihujamkan mulut-mulut tak bertanggung jawab atas sahabat baikku yang selama ini menjadi idola santri, menjadi panutan santri. Bicaralah Hin, siapa tahu temanmu yang bodoh ini bisa menjadi pengganti kelinci-kelinci kecil yang biasanya menjadi tempatmu berbagi cerita”. Hilda sudah tak mampu menahan dan menampung semua berita yang semakin menyudutkan sahabatnya itu.

“Tenang Hil, semua akan indah pada waktunya. Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam”. Jawab Hindi dengan senyum gembira. Dan menceritakan semua yang terjadi sehingga ia berubah sampai seperti ini.

Hindi semakin tenggelam dalam rasanya yang tanpa rasa, memuncak dalam angannya tanpa laksana. Bagaimana tidak, seseorang yang menjadi pangeran dalam mimpi dan lamunnya belum ia ketahui apakah sebanding dengan yang ia rasakan. Dan lagi-lagi ia lupa akan janji yang pernah terucap untuk dirinya sendiri.

Fikirnya tak menjadi angan lagi, Hindi mencari keberadaan Achul dan semua serba kebetulan, mereka pun bertemu. Mereka tidak saling bicara, sepertinya senyum sudah menjadi bahasa pertemuan. Sampai akhirnya “aku mencintaimu, dan aku tidak ingin orang lain memilikimu. Kalau kamu merasakan hal yang sama, aku tunggu kamu menemui Kiaiku untuk menjelaskan tujuanmu.” Dan meninggalkan Acul dalam kebingungan.

Satu, dua, tiga haripun berlalu, dan tibalah saat yang ditunggu oleh Hindi. Selama tiga hari ini Hindi kembali pada dirinya yang dulu, bahkan lebih semangat, dan senyum tak pernah lepas dari hari-harinya. Semenatara dibalik itu, tiga hari serasa menanti kematian. Surga atau neraka tempatnya setelah kematian nanti. Sementara keluarga sudah mulai bosan dengan jawaban senyum ketika ditanya mengenai calon istri. Dan itu menjadikannya semakin kalut.

“Ini sudah hari yang ke empat sejak pertemuan itu, mungkin aku yang terlalu agresif mengorbankan harga diriku, tapi ini sudah menjadi keputusanku, dan aku akan bertanggung jawab. Meski begitu, aku akan tetap menyimpan rasa ini ke lubuk hatiku yang paling dalam sebagai pangeran tanpa mahkota”. Dengan berderai air mata di pelukan Hilda sahabat dekatnya.

“Assalamu`alaikum” suara yang sangat tidak asing untuk telinganya, suara yang ia rindu-rindukan kehadirannya tiga hari yang lalu, tapi bukan hari ini. Dengan segala kekuatan, ia dan sahabatnya itu mencoba untuk melihat dari candela kamar yang memang lokasinya tepat di depan rumah pimpinan pesantren. Antara sedih dan bahagia, dengan peluh air mata masih membasahi, sebuah kenyataan bahwa sosok yang diharapkan telah datang, datang terlambat, itu sangat bertolak belakang dengan prinsipnya, dan itu menyakitkan.

Abah membuka pintu dan mempersilahkan Achul masuk.

Sudah hampir satu jam Achul tidak keluar, semakin liar penasaran berkecamuk dalam rongga kepala. Sampai akhirnya pintu terbuka. Namun bukan Abah atau Achul yang keluar, melainkan bu nyai. Semakin kemana-mana alur jalan fikiran Hindi. “Hin, tak tunggu di dapur”. Rupanya bu nyai keluar untuk memanggil Hindi ke dapur, itu artinya ia tetap tidak bisa melihat Achul dan mendengarkan percakapan antara keduanya.

Hindi tidak sendirian, ia mengajak Hilda. Dengan langkah kecewa mereka berdua menuju dapur. Tapi sebelum sampai daput, bu nyai menghentikan langkah mereka, dan mengajak masuk kamar bu nyai melalui pintu samping. Dari situ perbincangan antara keduanya seharusnya mulai terdengar. Namun hanya hening yang ada. Tiba-tiba Abah memanggil ketiganya ke ruang tamu.

“Nak Achul datang kesini ingin memintamu, dan tadi Abah sudah menelpon orang tuamu, mereka bilang menyerahkannya kepada Abah. Biar adil, sekarang Abah menyerahkannya kepadamu. Kamu boleh menjawabnya sekarang. Kamu juga boleh meikirnyannya terlebih dahulu. Tapi hemat Abah, lebih cepat lebih baik. Karena sesuatu yang baik kalau bisa dipercepat saja”. Semua tersenyum, begitupun Hindi.

“Sebagaimana yang disampaikan Abah tadi, aku akan menjawabnya sekarang. Tapi ada satu pertanyaan yang harus mas Achul jawab. Apa yang mas Achul suka dari Hindi sehingga mas memberanikan diri datang menemui Abah untuk memintaku?”. Suasana sejenak menjadi hening. Sampai Abah menyambung “Monggo mas Achul dijawab”. Mungkin Achul bingung mau menjawab apa, karena bukan keadaan seperti ini yang ia bayangkan dari rumah. Achul hanyan bisa menundukkan kepala, seakan mau lari keluar dan menyerah. Tapi dia tidak akan mengorbankan harga dirinya dihadapan calon istri yang pasti akan membanggakan keluarganya.

Berat sekali rasanya mengangkat kepala, namun akhir dengan sangat berat, Achul memandang Hindi seraya berkata “pertama yang aku lihat adalah mata indahmu, dan aku jatuh hati karena itu”. Semua tersenyum termasuk Hindi, dan menganggap keduanya sudah menemukan kecocokan tinggal mempertemukan orang tua masing-masing.

Hindi dan Hilda diminta kembali ke kamar. Begitupun Achul mengatur basa-basi untuk bisa undur diri dari hadapan Abah. Dengan beberapa pesan dari pimpinan pesantren itu, Achul pun izin pulang dan diantar sampai beranda.

Tak lama setelah pintu rumah ditutup, Hilda menghampiri Achul dan memberikan satu barang yang sudah dibungkus dengan rapi dalam kotak dan sepucuk surat. “Jangan membuka kotaknya sebelum membaca suratnya. Dan bacalah suratnya sesampainya mas di rumah. Itu pesan dari mbak Hindi”. Hilda kembali ke kamar, dan Achulpun pulang dengan hati yang sangat bahagia.

“Assalamu`alaikum” suara yang sangat tidak asing untuk telinganya, suara yang ia rindu-rindukan kehadirannya tiga hari yang lalu, tapi bukan hari ini. Dengan segala kekuatan, ia dan sahabatnya itu mencoba untuk melihat dari candela kamar yang memang lokasinya tepat di depan rumah pimpinan pesantren. Antara sedih dan bahagia, dengan peluh air mata masih membasahi, sebuah kenyataan bahwa sosok yang diharapkan telah datang, datang terlambat, itu sangat bertolak belakang dengan prinsipnya, dan itu menyakitkan.

Abah membuka pintu dan mempersilahkan Achul masuk.

Sudah hampir satu jam Achul tidak keluar, semakin liar penasaran berkecamuk dalam rongga kepala. Sampai akhirnya pintu terbuka. Namun bukan Abah atau Achul yang keluar, melainkan bu nyai. Semakin kemana-mana alur jalan fikiran Hindi. “Hin, tak tunggu di dapur”. Rupanya bu nyai keluar untuk memanggil Hindi ke dapur, itu artinya ia tetap tidak bisa melihat Achul dan mendengarkan percakapan antara keduanya.

Hindi tidak sendirian, ia mengajak Hilda. Dengan langkah kecewa mereka berdua menuju dapur. Tapi sebelum sampai daput, bu nyai menghentikan langkah mereka, dan mengajak masuk kamar bu nyai melalui pintu samping. Dari situ perbincangan antara keduanya seharusnya mulai terdengar. Namun hanya hening yang ada. Tiba-tiba Abah memanggil ketiganya ke ruang tamu.

“Nak Achul datang kesini ingin memintamu, dan tadi Abah sudah menelpon orang tuamu, mereka bilang menyerahkannya kepada Abah. Biar adil, sekarang Abah menyerahkannya kepadamu. Kamu boleh menjawabnya sekarang. Kamu juga boleh meikirnyannya terlebih dahulu. Tapi hemat Abah, lebih cepat lebih baik. Karena sesuatu yang baik kalau bisa dipercepat saja”. Semua tersenyum, begitupun Hindi.

“Sebagaimana yang disampaikan Abah tadi, aku akan menjawabnya sekarang. Tapi ada satu pertanyaan yang harus mas Achul jawab. Apa yang mas Achul suka dari Hindi sehingga mas memberanikan diri datang menemui Abah untuk memintaku?”. Suasana sejenak menjadi hening. Sampai Abah menyambung “Monggo mas Achul dijawab”. Mungkin Achul bingung mau menjawab apa, karena bukan keadaan seperti ini yang ia bayangkan dari rumah. Achul hanyan bisa menundukkan kepala, seakan mau lari keluar dan menyerah. Tapi dia tidak akan mengorbankan harga dirinya dihadapan calon istri yang pasti akan membanggakan keluarganya.

Berat sekali rasanya mengangkat kepala, namun akhir dengan sangat berat, Achul memandang Hindi seraya berkata “pertama yang aku lihat adalah mata indahmu, dan aku jatuh hati karena itu”. Semua tersenyum termasuk Hindi, dan menganggap keduanya sudah menemukan kecocokan tinggal mempertemukan orang tua masing-masing.

Hindi dan Hilda diminta kembali ke kamar. Begitupun Achul mengatur basa-basi untuk bisa undur diri dari hadapan Abah. Dengan beberapa pesan dari pimpinan pesantren itu, Achul pun izin pulang dan diantar sampai beranda.

Tak lama setelah pintu rumah ditutup, Hilda menghampiri Achul dan memberikan satu barang yang sudah dibungkus dengan rapi dalam kotak dan sepucuk surat. “Jangan membuka kotaknya sebelum membaca suratnya. Dan bacalah suratnya sesampainya mas di rumah. Itu pesan dari mbak Hindi”. Hilda kembali ke kamar, dan Achulpun pulang dengan hati yang sangat bahagia.

Dalam perjalanan pulangnya Achul tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dengan menyusuri pinggiran sungai melewati bekas jalan kereta, senyum bahagia itu tak bisa disembnunyikan dari raut mukanya. bahkan ketika melwati pasar Ia menceritakan betapa bahagia hatinya kepada setiap orang yang berpapasan di jalan.

Sesamapainya di rumah, Achul sudah tidak sabar membaca surat yang pasti akan menjadikan hatinya semakin bahagia. Sebelum dibuka, ia sempatkan untuk mencium surat yang memang dibalut dengan dengan amlpom yang sangat indah dengan warna khas yang menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta. “Mas orang yang aku pilih, akan ku serahkan apapun yang menjadi keinginan mas. Yang ada di dalam kotak putih itu adalah pemberianku yang pertama, tapi aku ingin mas membukanya empat puluh hari dari sekarang. Pergilah sejauh mungkin dan kembali empat puluh hari lagi. Jangan terlambat lagi. Aku mencintaimu karena Allah”. Demikian isi tulisan yang berada di dalam amplop. Ada rasa kecewa, karena hanya sedikit klaimat yang diberikan, sementara ekspektasinya adalah surat yang isinya berlembar-lembar sehingga ia mampu membalasnya dengan pujian-pujian dan sajak indah. tapi tidak sepenuhnya kecewa juga, meski hanya beberapa baris kata sudah mampu menyiram ladang hati yang selama ini masih gersang.

Hari demi hari, minggu demi minggu telah terlewat, empat puluh hari telah di depan mata, dan tiba saatnya ia melihat hadiah pertama dari seseorang yang akan menemani sisa hidupnya. Perlahan ia mulai membuka kotak putih itu dan menemukan secarik kertas diatas kotak hadiah. “ku harap kau tidak tertawa melihat hadiahku ini, apalagi menangis, tetaplah tersenyum seperti saat kau membuka suratku yang pertama empat puluh hari yang lalu”. Hatinya semakin berbunga, sesegera mungkin ia membuka kotak yang kedua itu. Terlihat mawah dan melati yang sudah mulai mengering.

Sebuah benda yang dibalut kain putih ia buka. Wajah berseri-seri dan senyum yang biasa terlontar mendadak musnah dari wajahnya. Air mata itu mengalir seperti tak ada bendungan yang mampu menahannya.

Penyesalan memang berada dia akhir, kalau dia tau akan begini jadinya, ia akan berfikir lebih panjang untuk menjawab pertanyaan yang akan menjadi pondasi dari hidupnya mendatang. Dengan berderai air mata ia bungkus kembali kotak putih yang ia sangka adalah hadiah terindah itu. Puluhan kilo meter ia terjang dengan berlari tanpa berfikir kondisi jalan dan fisiknya.

Dengan berurai air mata dan darah mengucur bebas dari kakinya, bahkan ada sebagian darah yang sudah mulai mengering, ia ketuk pintu Abah, bahkan terkesan menggebrak. Abah keluar dengan tenang dan mempersilahkannya untuk duduk dulu. Namun Achul tak menghiraukan dan menanyakan keberadaan Hindi. Abah pun berjalan sekitar sepuluh meter dan rumahnya dan menunjuk sebuah bangunan kecil yang terlih masih baru.

Pikiran achul mulai menenang. Dalam pikirnya Hindi sengaja diasingkan untuk menanti kehadirannya. Ia meminta izin kepada Abah untuk menemui Hindi sekedar untuk berbicara, meski hanya dari luar bangnunan. Namun justru Abah mempersilahkannya untuk masuk.

Setelah bersalaman segera ia berlari menghampiri bangunan kecil yang jaraknya hanya sekitar seratus meter itu. Mungkin karena terlalu bahagia, ia sampai lupa mengucapkan salam. Alangkah kagetnya ketika ia sampai dan memasuki bangunan tanpa pintu itu. Yang ia liat hanyalah batu nisan bertulis nama orang yang sangat ia cintai.

Tangisan bercapur teriakan penyesalan mengiring tenggelamnya mentari di sore itu. Tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain menangis dan menyesali yang telah terjadi.