Pelukan Terakhir Aliya

 Pelukan Terakhir Aliya

Bloklimasatu.com - Rahmad adalah Pegawi Negeri Sipil yang harus meninggalkan rumahnya untuk merantau demi masa depan yang lebih cerah. Liburan kali ini dia putuskan untuk tidak pulang karena malam lebaran ke tiga nanti akan ada satu acara yang tidak bisa ia tinggalkan.

Malam yang dingin diantara rintik hujan yang semakin lebat. Rahmad masih terdiam dalam ruang gelap kantornya. Bukan karena ingin menikmati kesendiriannya, karena memang lampu kantor sedang rusak dan belum ada yang memperbaikinya.

Ini adalah malam pernikahan teman baiknya, Lukman yang biasa menemaninya menghabiskan malam maupun siang dengan secangkir kopi dengan setengah bungkus rokok hasil beli di warung mbah Sri.

Lama ia menunggu Nasir datang menjemputnya, dan hujanpun tak kunjung reda. Samar-samar terlihat jam dinding menunjukkan arah 9, dan itu berarti acara sudah setengah jalan. Pikirannya semakin kacau, pesan singkat yang ia kirimkan selepas maghrib belum ada balasan.

Ingin ia rebahkan tubuh dan pejamkan mata sembari menunggu Nasir datang dan gelembung-gelembung langit memudar. Namun ia takut sahabat karibnya itu nantinya datang dan tak melihat batang hidungnya yang sedang terbaring. Ia urungkan hasratnya.

Matanya tertuju pada sofa yang tak jadi ia gunakan tidur yang justru mengingatkan pada kenangan beberapa tahun lalu ia habiskan malam dengan bidadari yang sayapnya mulai menghitam, Aliya.

Perasaannya semakin kacau, kenapa dia harus mengingat pada sosok yang telah berkali-kali ia lupakan dengan begitu beratnya. Bayangan Aliya semakin tercetak jelas dipelupuk mata. Setiap kedipnya bukan gelap dan hitam yang ia lihat, tapi justru senyum dan canda tawa Aliya di masa lalu.

“Iblis sedang bergerilya memberi pekerjaan kepada tukang ruqyah di malam dengan rintik hujan seperti ini. Jangan dalam-dalam memikirkannya. Toh nanti juga bakalan ketemu”.

Suara Nasir menghentikan jelajahku ke masa lalu. Aku masih belum menjawab sapanya, lilitan benang penjahit samping rumah serasa melilit-lilit dalam otakku. Aku lupa kalau calon istri Lukman adalah teman sekelas Aliya. Sudah pasti dia akan datang ke resepsi malam ini. Aku bingung, aku takut dia datang. Dan itu berarti usahaku beberapa tahun terakhir untuk perlahan menghapusnya dari ingatan akan sia-sia.

“Kita berangkat besok pagi aja, toh hujan juga belum reda. Lukman pasti akan mengerti.” Jawab Rahmad yang telah begitu lama ditunggu Nasir.

“Mbah Sri yang bukan siapa-siapamu saja setiap hari kau kunjungi. Ini teman dekatmu, bahkan bukan teman dekatku, pernikahan yang sekali seumur hidup mau kau urungkan menghadirinya?” Ucap Nasir seperti sedang berpidato tujuhbelasan.

Dengan lemas dan berat hati ia turuti keinginan Nasir. Toh itu juga sudah menjadi kewajibannya menghadiri undangan teman karibnya.

Sepanjang jalan tangannya menengadah memohon kepada Tuhan agar tak Ia pertemukan dengan belahan hati amnesianya itu. Bukan karena ia sudah tak cinta lagi, cintanya masih teramat dalam, bahkan melebihi dari separuh hatinya. Tapi rasa sakit harus menghadapi kenyataan kisah cintanya tak akan berakhir seperti Lukman. Orang tua Aliya menghendaki menantu yang pinter baca kitab dan bertani. Cukup realistis memang melihat Pak Habibi, ayah Aliya yang seorang kiyai dengan sawah berhektar-hektar.

Dengan melipat tangan dengan lipatan celana dibawah lutut Rahmad mulai menyususri rumah istri Lukman yang memang harus melewati gang kecil dulu sebelum sampai ke rumahnya. Baru beberapa langkah turun dari boncengan Nasir, dari belakang terdengar suara lirih menyapanya. Rahmad menggigil mendengar suara itu melebihi biasanya, ia tak sempat menengok, bukan takut dengan pemilik suara, karena itu hanyalah suara Nurul, tapi lebih pada teman dekat Nurul, Aliya. Lehernya kaku seperti terganjal balok terbesar di perhutani Jatirogo. Ia takut Aliya benar-benar datang malam itu, meski kemungkinan datang sangat kecil karena rumahnya yang sangat jauh.

“Iya Nurul” sambil ia gerakkan tubuhnya menghadap Nurul. “sudah mau pulang?” sapa Rahmad dengan getar bibir layaknya mesin diesel.

“Tak kira gak datang kak, dari tadi ditanyakan terus sama orang dibelakang kakak”. Sontak ia menengok ke belakang. Dan benar saja Aliya berdiri tegap dengan senyum tersunggingnya.

“kok baru datang, mas? Kita pulang dulu ya” sapa Aliya yang tak sempat Rahmad jawab.

Malam yang menakutkan itu terjadi juga, doanya sepanjang perjalanan tidak manjur. Acara Resepsi memang sudah selesai. Lukman sudah berganti pakaian dan menemui kami berdua. Tak terjadi banyak perbincangan karena memang waktu sudah larut dan acara sudah selesai.

Selepas makan Rahmad segera berpamitan karena tiba-tiba perutnya sakit.

Baru saja ia menaiki kendaraan, ada sebuah pesan singkat masuk, dan itu dari Nurul. “ Kalau sudah pulang, kabarin ya, Aliya mau bicara sesuatu”. Sakit perutnya semakin parah dibarengi dengan sakit kepala yang mulai menusuk.

Sesampainya di rumah Rahmad langsung menumpahkan hasrat perutnya supaya pertemuannya dengan Aliya cepat terlaksana dan terselesaikan.

Rahmad menuggu di dalam kantor dimana dia tadi menuggu Nasir. Pikirannya kembali berkecamuk, ada rasa takut yang mendalam, ada harapan besar pula yang ia rapalkan ditengah gigilnya.

“Silahkan diselesaikan kak, biar tidak saling memendam”. Lalu Nurul meninggalkan mereka berdua.
Seperti pemuda yang baru saling mengenal dan sedang dimabuk asmara. Tak ada sepatah kata yang terucap sampai hampir setengah jam. Sampai Nurul kembali masuk dan membantu Aliya menyampaikan unek-unek-nya.

“Aliya sudah selesai skripsi kak, mungkin ini waktu yang tepat untuk menunjukkan niat tulus kakak. Silahkan dilanjutkan, tapi jangan terlalu lama, tidak enak bila dilihat orang. Sudah terlalu malam”. Nurulpun kembali pergi meniggalkan mereka.

“aku masih Rahmad yang sama, yang selalu ingin memilikimu seutuhnya. Jika kamu siap berkomitmen, kita jalani dan lewati semuanya. Aku siap menjadi kaki kiri tanpa alas untuk menapaki bara, asal ada kaki kanan yang selalu mengiringi dengan alas berhias permata, dan itu kamu.”

Dan sudah bisa ditebak, suasana kembali hening tanpa jawaban. Tak ada penolakan ataupun jawaban sampai Nurul datang lagi.

“gimana kak, sudah selesai?”

“sudah, silahkan kembali.” Jawab Rahmad dengan senyum yang sangat dipaksakan.

Sembari memandang langit-langit ruangan ia rebahkan badan lusuhnya di sofa kecil penuh debu itu. semua ketakutan-ketakutannya berjalan dengan rapi. Dengan akhir yang sama. Ia putuskan untuk memejamkan mata dan tidur.

Baru sesaat ia penjamkan mata, handphonenya berdering.

“Mas, bisa pinjam charger?, dari tadi handphoneku mati. Tolong diantar sampai depan rumah ya. Sangat berharap.” Demikian isi pesan pendek yang terkirim dari nomor Nurul.

Ingin ia tidur saja, dan mengabaikan semuanya. Karena akhir dari hubungannya dengan Aliya sudah bias ditebak akhirnya. Namun semakin ia pejamkan mata, semakin tidak bisa tidur dan tidak tenang pikirannya. Ia putuskan untuk berdiri mengambil charger seadanya dan mengantarkannya.

Didepan rumah Nurul sepi, tidak ada Aliya disana. Hampir saja Rahmad kembali pulang, karena malam sudah terlalu larut, ia takut ada kejadian yang tak diinginkan. Belum sempat ia nyalakan motornya, suara Aliya memanggil dari tangga samping rumah Nurul. Ternyata mereka berdua tidur di rumah lantai atas.

Aliya tidak mau turun, dan menunggu ditangga. Rahmadpun menaiki tanggal untuk memberikan charger dan langsung meninggalkan Aliya.

“Udah, gitu aja?” suara Aliya yang sontak menghentikan langkah Rahmad. Ia balikkan badannya dan kembali mendekati Aliya. Dan lagi tak ada kata terucap.

Aliya memegang tangan Rahmad. Hal yang sebenarnya biasa bagi mereka berdua, tapi itu dulu. Rahmad lemas, tak mampu membalas genggaman Aliya. Hati dan pikirnya seperti tak ada desiran darah yang mengalir. Perlahan genggaman itu terlepas. Bukan untuk pergi dan meninggalkan Rahmad, tapi justru berpindah melingkari tubuh lemasnya. Pelukan yang semakin lama semakin erat, dan Rahmadpun membalasnya.

Rahmad melepaskan pelukan Aliya yang seperti orang sedang tertidur.

“tidurlah, agar besok tidak pulang kesiangan.” Pinta Rahmad sembari melepaskan pegangan dibahu Aliya. Entah apa yang dirasakan dan diinginkan dalam benak Aliya. Nyatanya tak sejengkalpun langkahnya bergeser. Dan dalam lubuk terdalam Rahmadpun tak ingin segera mengakhiri saat-saat yang sudah sangat lama tak ia rasakan. Dengan kecupan dikening Aliya, Rahmad meninggalkan tangga dan malam yang kian menggigil.
Share

140 Responses to " Pelukan Terakhir Aliya"

  1. mantap gan, Banyak makna dri certanya nih. Ane bntu share deh

    ReplyDelete
  2. Si aliya sangat agresif ternyata, saking gk mau kehilangan

    ReplyDelete
  3. HAHAHA Ceritanya Menarik apalagi si aila tuh wkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Terharu ane gan sampe baper gk kebendung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siapin tisyu gan. Jangan smpe ketahuan org. Hihi,..

      Delete
  5. Mantapp ceritanyaa gan greget liat ai aliya nyaa hahaha

    ReplyDelete
  6. Ini cerita buatan sendiri ? Bagus banget njirrr :')

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Ikutin terus gan. Masih ada cerita lain juga..

      Delete
  8. keren gan ceritanya.. sedih juga ya :')

    ReplyDelete
  9. Terharu 😂

    Www dot Yukgas dot id

    ReplyDelete
  10. bagus ni buat di angkat ke novel gan..

    ReplyDelete
  11. Ini novel bikin sendiri atau dari buku ? kalo bikin sendiri keren bisa bikin novel

    ReplyDelete
  12. Dibikin novel aja gan..sedih ceritanya

    ReplyDelete
  13. Mantap bang, Semangat deh semoga bisa dibukukan :)

    ReplyDelete
  14. Nice artikel, cocok dibuat buku/novel nih. BTW templatenya keren. Kalau boleh tau nama templatenya apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap gan. lupa gan. klik aja link yang bawah itu gan.

      Delete
  15. Aduh si mas rahmad kacau nih hehe

    ReplyDelete
  16. wah feel banget storynya , berbakat nih kalau buat novel

    ReplyDelete
  17. wisss , ceritanya bagus , feelsnya terasa bangat , sepertinya berbakat jadi novelis , di tunggu karya karya tulisnya yang lain :D

    ReplyDelete
  18. semakin bagus aja tulisannya.. lanjutkan gan

    ReplyDelete
  19. Pengen deh gue pengen punya pcr sprti aliya, mainstream soalnya hehe

    ReplyDelete
  20. Mantap mas, ditunggu karya selanjutnya

    ReplyDelete
  21. Slalu update gan , tunggu next cerpenya lagi

    ReplyDelete
  22. Slalu update gan , tunggu next cerpenya lagi

    ReplyDelete
  23. Hehe lantaran serunya ngebaca sampai lupa kalo ceritanya udah abis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. makasih gan. ganti cerita lain, masih banyk stok ituh.. hihi//

      Delete
  24. Ceritanya menarik sekali apa lagi peran utamanya begitu agresif. Keren mas coba daftar krtabloid

    ReplyDelete
  25. mengharukan mataku mendung membacanya

    ReplyDelete
  26. saya tunggu cerita selanjutnya gan,, bagus banget alur ceritanya...

    ReplyDelete
  27. seneng banget nih nemu cerita gini

    ReplyDelete
  28. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  29. Cerpennya bagus + inspiratif gan, sukses terus bikin cerpennya

    ReplyDelete
  30. Ceritanya bikin baper gan, hiks hiks

    ReplyDelete
  31. Ceritanya bikin baper gan, hiks hiks

    ReplyDelete
  32. ngeri ceritanya, bkin sdih banget

    ReplyDelete
  33. bagus banget nih ceritanya...saya bookmark dulu ya gan, biar sekalian baca yg lainnya😄

    ReplyDelete
  34. hihi terbawa suasana jadinya .. sedihhh

    ReplyDelete
  35. Bawa perasaan banget nih ceritanya.

    ReplyDelete
  36. keren gan novel pendek nya, :) berbakat nih jadi penulis novel

    ReplyDelete
  37. Aliya sangat agresif rupanya, but itu yang idamannya
    hehehe, Keren dah~

    makasih atas ceritanya gan

    ReplyDelete
  38. ceritanya sangat menarik sekali like like mantap

    ReplyDelete
  39. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  40. Terus lebih berkarya gan, cerita nya mantapp!!

    ReplyDelete
  41. cerpennya bagus banget

    ReplyDelete
  42. sedih juga nih denger cerita nya udah lama gak dipeluk ane wkwkwk

    ReplyDelete
  43. Enak tuh.. dingin dingin berpelukan.. hehe

    ReplyDelete
  44. Enak tuh.. dingin dingin berpelukan.. hehe

    ReplyDelete
  45. sedih ceritanya.. :( bagus ceritanya min

    ReplyDelete
  46. Bagus gan ceritanya, klo bisa jadiin novel sekalian.

    ReplyDelete
  47. ini buatan sendiri mas? wahh kembangkan terus mas, mantap alurnya :)

    ReplyDelete
  48. Kebangkan terus gan gan keren alur cerita nya

    ReplyDelete
  49. Keren gan, sangat "touching" gan hehe

    ReplyDelete
  50. wah ceritanya bagus banget bikin baper

    ReplyDelete
  51. Dalem, mantab cerpennya.
    Jadi pengen dipeluk deh :v

    ReplyDelete
  52. Wah keren gan ceritany ane bantu shared ya?

    ReplyDelete
  53. wah calon writer speri tere liye nih

    ReplyDelete
  54. Ceritanya menarik. Ditunggu cerita selanjutnya

    ReplyDelete
  55. duh keren gan terharu coba bikin novel gan

    ReplyDelete
  56. Aduh ane sedih baca nih cerpen...di tunggu yg selanjutnya kalau bisa Genre misteri gan

    ReplyDelete
  57. mantap artikel nya mas bermanfaat

    ReplyDelete
  58. Cerpennya keren gan! Ditunggu update berikutnya.. izin bookmark gan!

    ReplyDelete
  59. Ceritanya bagus gan..di tunggu update selanjutnya

    ReplyDelete
  60. bagus nih ceritanya, bagus lagi kalau dibbuat jadi bbuku..

    ReplyDelete
  61. Sedih kali certinya
    tetapi mengasikkan

    ReplyDelete
  62. nice artikel gan terharu ane bacanya nih novel

    ReplyDelete
  63. Berhasil lo bikin gue baper.

    Mulai nulis novel aja, terus terbitin deh :D

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel