BLANTERVIO102

Pusaka Catur Jiwo

Pusaka Catur Jiwo
Tuesday, January 31, 2017



Bloklimasatu.com - Mentari belum sepenuhnya memancarkan sinarnya, Namun kicau burung sudah saling bersautan menemani ibu-ibu mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suami mereka. Jalanan yang masih pekat dengan embun samar-samar mulai pudar seiring hentakan sepatu pegawai dan anak sekolah, para mahasiswa dengan roda duanya.

Tak akan ada yang menyangka bagaimana dulunya kota kecil nan jauh dari hiruk pikuk ibu kota ini bisa lebih maju dan higienis dan seluruh kota di dunia. Bagaimana tidak, hampir tidak ada polusi dudara ataupun limbah di tempat ini, pun dengan pengangguran. Setiap tenaga manusia tercurah untuk setiap industri yang dikerjakan, semua menggunakan tenaga manusia dan bahan-bahan dari alam yang tidak memiliki dampak berbahaya untuk masa depan. Tak ada deru mesin jalanan yang menyaingi suara guru sedang memberi penjelasan kepada siswanya, hanya andong yang sesekali lewat, tidak untuk mengambil sampah dari depan rumah warga, tetapi petugas kecantikan taman, yang merapikan atau mengganti tanaman atau bunga yang mulai tua di sepanjang jalanan kota.

Pemerintah kota tidak menutup diri terhadap perkembangan teknologi dan insutri mekanik, bahkan banyak dari tim ahli di perusahaan-perusahaan besar di di negara lain menginjak tanah pertama kali di kota ini, akan tetapi kesadaran warga yang sudah dipupuk dengan sistem kepemimpinan yang sudah berjalan secara turun temurun.

Ya, kemajuan kota dari sisi ekonomi, teknologi, manusia, maupun alam yang selalu dijaga ini tidak lepas dari sosok Karna. Sosok pria sederhana dari keluarga yang tak seorangpun mengira akan menjadi pencetus sistem pemerintahan terbaik di dunia. Bagi penduduk kota ini, Karna adalah manusia terbaik yang tumbuh dari keluarga terbaik yang dikirim Tuhan untuk memberi tanda kuasa Tuhan tidak diberikan berdasarkan keturunan saja. Kerja keras, ketaatan, doa, dan usaha orang tuanya.

Bagi Karna ketaatan adalah pegangan utama untuk menjadi manusia sesungguhnya. dan itu dibuktikan dengan sabar dan taatnya dia mengikuti perintah eyang guru. Delapana tahun tidak sedikitpun mendapat pelajaran kanuragan dari sang eyang. Ilmu yang didapat hanyalah mengambil air di belakang padepokan Wilujeng Raharja untuk mandi para murid dan mengurus tanaman di sekitar padepokan.

Langkahnya untuk memajukan kota menjadi pusat belajar dan perekonomian negara tidak serta merta jadi. Halangan yang begitu besar datang silih berganti.Setelah Eyang guru meninggal, wasiat terahirnya adalah Karna sebagai pewaris padepokan yang setiap titahnya wajib ditaati setiap penghuni kota. Pimpinan padepokan adalah pemimpin kota. Empat puluh hari berlalu, padepokan dan sekitarnya terlihat seperti kota mati, sampai segerombolan orang datang dengan pakaian dan kendaraan serba mewah yang dipimpin seorang wanita mengaku sebagai anak eyang guru dan menagih warisan dari ayahnya.

Memang berdasarkan cerita, eyang guru memiliki sepasang putra putri, namun setelah dewasa dengan ilmu kanuragan yang cukup muncul rasa jumawa dan meninggalkan padepokan, karena baginya sudah tidak ada lagi tantangan di kota kecil dengan bau belerang dimana-mana.

Seluruh warga bingung dengan kondisi ini, "Bagaimana mungkin seorang perempuan akan memimpin kota yang pernah ditinggalkannya, sementara dia pergi saja karena jijik dengan kota ini, bisa-bisa nanti kota ini dijual dan kita akan merasakan yang namanya menderita". ujar Munir yang memang didakwa sebagai lurah.

Munirpun berinisiatif mengumpulkan seluruh pimpinan desa dan pemuka agama untuk mencari solusi dari benih pertikaian yang mulai tumbuh, dari hasil musyawarah, Karna adalah pewaris sah padepokan Wilujeng raharja dan berhak memimpin kota sementara keturunan laki-laki dari eyang guru tidak tahu kemana. Namun baru saja keputusan itu dibacakan, datang seorang pria setengah baya dengan wajah mirip eyang guru. semua terperanjat, takut, kaget, bahkan ada yang menyangkan eyang guru terlahir kembali dengan sosok yang lebih muda.

"Aku Ludira, pewaris utama eyang guru. aku kesini tidak untuk mewaris kepemimpinan atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin mengambil pusaka pedang catur jiwo milik bapakku".

Tak seorangpun berani berbicara kecuali pria setengah meter dengan rambut yang lebih panjang dari ukuran tubuhnya, Munir. "Mari ku antar ke padepokan, mungkin Karna bisa mebberi penjelasan" ujarnya.

Ludira pun bergegas menuju padepokan dengan kuda hitamnya yang gagah.

Tanpa basa basi langkahnya tertuju ke saung utama dimana eyang biasa merebahkan badan dan menemui para tamunya yang Ludurapun sebenarnya belum pernah memasuki ruangan itu. Ia terheran dengan pemandangan yang dilihatnya, tak ada aroma mistis ataupun senajata pusaka, hanya buku-buku tebal tertata rapi dari ujung pintu satu ke ujung pintu lainnya. "Kang Ludira, ada yang bisa saya bantu?" sapa Karna.

"Kau pasti karna. Tenang, aku kesini tidak untuk merampas kepemimpinan yang diberikan bapak kepadamu atas padepokan dan kota ini, aku hanya ingin pusaka bapakku, kau tentu tau yang aku maksud." sergah Ludira.

Karna mulai bingung bagaimana memberikan jawaban yang tepat agar tidak tersinggung dan marah. Sementara ia tahu dari eyang guru pusaka pedang carur jiwo hanya sebuah istilah, bukan sebuah benda.

"Aku mengerti kakang, benda itu disimpan eyang di dalam ujung goa bawah air terjun belakang padepokan. untuk memasukinya kau harus bertapa empat puluh hari empat puluh malam, dan kau hanya boleh makan saat matahari itu tak terlihat. Tentu kau mengerti maksudku". Jelasnya.

"Oh, ternyata begini caramu Dira. kau masih saja bodoh dan tidak bisa bermain cantik untuk mendapatkan yang kau inginkan, kau tetaplah pria bodoh Ludira. Dan kau Karna, kau tidak sopan memberikan rahasia bapak kepada anak ingusan ini tanpa membertahuku dulu sebagai keturuanan pertama bapak." potong Minawati yang sedari tadi mengintip dari luar.

Hampir saja pertikaian besar terjadi, karena Ludira menjawab hinaan kakaknya dengan kilatan pedang yang siap menebas leher kakaknya itu. pertikaianpun terjadi. Saling adu kanuragan tak bisa terelakkan. Ditengah perkelahian satu darah itu Krna berujar, "Teruslah berkelahi dan saling bunuh, karena 40 hari ke depan aku yang akan mendapatkan pusaka itu tanpa halangan berarti." dan merekapun menghentikan perkelahian yang sedang seru-serunya dan beralih beradu cepat menuju bawah air terjun yang sedang deras-derasnya, dan mereka mulai membuat tempat pertapaan.

Baru tujuh hari merasa tenang dari gangguan anak-anak eyang guru, berita duka datang dari kampung halaman Karna, kedua orang tuanya ditemukan meninggal bersimbah darah dirumahnya. emosinya memuncak, tiraninya berkuasa, ingin rasanya ia membunuh pemilik gelang emas yang ditemukan dalam genggaman ibunya, dan semua orangpun tahu siapa pemilik perhiasan itu.

pikirannya berkecamuk, antara air mata dan dosa, antara dendam dan balas jasa. hampir setiap jam ia memantau perkembangan dua gubuk kecil di samping air terjun, dan memang minawati memiliki strategi yang cerdik, bahkan licik dibanding adiknya, Ludira. Ia memilih tempat teraman dan terdekat disamping mulut goa, sementara Ludira tepat dibawah aliran terjun, yang jika terjadi banjir bandang, ia akan karam bersama gubuknya.

Tepat seminggu sebelum empat puluh hari sepeninggal orang tuanya, karna dikagetkan dengan ramai sorak sorai warga dari arah air terjun. Ia pun bergegas kesana, dan puluhan warga sudah berkerumun menonton pertunjukan yang tidak wajar. Sepertinya Karna datang terlambat, sesampainya di air terjun kedua anak eyang guru itu telah terkapar dengan pedang tertusuk di ulu hati masing-masing.

Warga yang tadinya tak berani mendekat, karena kedatangan Karna segera menolong mayat keduanya, namun belum sampai mayat dipegang, terdengar gemuruh yang begitu dahsyat yang diketahui warga sebagaia tanda datangnya banjir bandang kiriman dari kota sebelah. Wargapun berhamburan meningalkan lokasi. Benar saja, air bah menggerus gubuk dan dua tubuh tanpa nyawa tanpa tahu dimana bermuara.
Share This Article :
Bloklimasatu

Let`s Be Friend

TAMBAHKAN KOMENTAR

Betah bacanya gan,,,ditunggu cerita barunya

Balas

Wah keren jadi nyaman bacanya

Balas

Siap gan. Tunggu aja..
Makasih kunjungannya.

Balas

pusing kebnyakan tulisan gambarnya gk ada :(, mana fontnya gk nyaman dimata :( cuman setengah baca udah kabur.

Balas

haha...
Perlu kacamatan pembesar kali gan. Plus saran ane baca komik aja, gambarnya full,.

Balas

Nice story bro, update terus ya

Balas

Artikel panjang tapi bermanfaat :)

Balas

sangat bermanfaat gan nice info

Balas

kirain tentang pusaka ,, eh pas di baca isinya ttg legenda :D

Balas

Iya gan. lagian kan ada pusakanya juga.. :)

Balas

Mantap gan, bila perlu masukin tentang asal usul suatu daerah gan (y)

Balas

Cerpen yg bagus

Balas

bagus nih, ngomong2 sudah di bukukan belum ya? kalau d bukukan bagus itu

Balas

bagus gan artikel cerpennya.. post lagi yg lebih romantis

Balas

Cerita yang menarik. Bisa utk bacaan kalau lg luang..

Balas

capek bacanya gan , pegel dimata . tunggu waktu luang ntar saya baca lagi gan

Balas
5658470314006534179