Dia Memanggiku Vee


Bloklimasatu.com - Langkah-langkah polos bergandeng tangan-tangan lekat kerutan berderap meninggalkan aula sekolah. Dengan seragam hitam putih berikat dasi kupu-kupu terpercik linang kebahagiaan. Ku peluk Aila erat-erat.

“Kita akan sangat lama tidak bertemu setelah ini”. Ucapku.

Ia segera melepaskan pelukan eratku. Sorotan mata tajamnya serasa memecah korneaku untuk lebih deras lagi mengalir.
“Kenapa?” tanyanya seakan mengintimidasiku untuk cepat memberi penjelasan.
Wajahku tertunduk. Tak ada kata yang mampu ku ucapkan seperti saat kita biasa bersendau gurau di atas sepeda mini menyusuri jalanan menuju sekolah. Entah apa yang mengunci mulutku sehingga sepatah katapun tak mampu terucap dari bibirku.

Ia tarik tanganku keluar halaman sekolah. Hampir saja aku terjatih karena kencang dan erat tarikannya. Ia hadapkan aku ke arah patung besar bergenggam pedang di perempatan kota dekat sekolah kami.

“Lihatlah punggung pahlawan itu. Ia tak pernah lelah menjinjing besi tua untuk menakut-nakuti setiap yang datang dari hadapannya. Kau di belakangnya sekarang. Tak perlu takut untuk menceritakan kekesalah-kekesalan hatimu”. Dengan wajah belepotan tebal yang tersiram air mata, ia mencoba menenangkanku.

Memang, sebelum pulang sekolah aku sering menghabiskan waktu di samping pagar sekolah ini hanya untuk mengumpat, mencaci, bahkan meneriaki setiap orang yang menjadikan masalah di benakku. Dan tanpa sadar bibir inipun mulai menguntai kata-kata dengan begitu mudahnya.

“Mungkin tidak akan ada lagi yang mengumpatmu setelah ini, pak. Ini terakhir kalinya aku berbicara padamu meski tak akan pernah engkau jawab”. Ku lihat kanan kiri truk-truk besar berlalu lalang menggilas aspal dan tak pernah ku tau apa isinya.
“Nah, bibir bebek kayaknya sudah mulai rusak kuncinya”. Ledeknya.

Aku hanya tersenyum.

“Ketahuilah, setelah fajar menawarkan sinar mentari, aku tak akan mampu lagi mencium sejuknya. Mungkin mentari juga tak akan melekukkan bibirnya ke atas lagi sama seperti saat kita biasa menjemputnya di menara masjid dekat rumahmu”. Awan pekat mulai berkumpul di pelupuk mataku.
“Janganlah kau bikin aku malu pada bapak ini jika harus menangis dua kali. Aku takut jika nanti dia menengok”. Kental sekali logat batak itu terlontar, mungkin pengaruh film yang kita tonton semalam.

Aku mengajak berjalan sambil menuntun sepeda.

“Besok pagi-pagi sekali, aku akan di antar ke desa S untuk melanjutkan sekolah sekalian mondok di pesantren. Dan bapakku bilang, sesampainya di sana aku akan langsung mengikuti aktifitas yang ada dan setahun kemudian baru pulang. Dan mungkin hari libur kita tak akan sama”.

“Aku sedih karena kita tidak akan bertemu lagi. Namun aku juga bahagia karena sahabatku sendiri yang akhirnya mampu mewujudkan cita-citaku”.

Memang Aila punya cita-cita kuat untuk melanjutkan belajar ke salah satu pesantren terbesar di jawa tengah. Namun kondisi keluarganya yang kurang mengenal agama membuatnya memupus angan itu. Sementara aku yang anak seorang pemuka agama di desaku, tak punya sedikitpun cita-cita untuk mondok. Aku sudah cukup terkungkung dengan peraturan-peraturan yang diterapkan orang tuaku yang sama-sama lulusan pondok. Film korea yang hanya sekali seminggu tayang di tivi pun tak pernah aku tonton sampai tuntas setiap episodenya. Novel-novel terjemahan dari korea yang aku belipun tak bisa tenang aku membacanya. Api dapur akan menjadi pelabuhan terakhir jika sampai bapak ku menemukan novel-novel itu.

Sengaja pagi ini aku tak ke masjid. Aku ingin sakit saja agar rencana bapak itu tak terlaksana. Namun keinginku untuk bertemu Aila memaksaku keluar dari rumah. Namun Monster merah bernama Sedan tua milik pamanku sudah menunggu di halaman rumah. Aku sangat benci melihatnya. Ku urungkan niatku untuk berpamitan ke rumah Aila.

Perjalananpun dimulai. Aku harap mulai diperutku ini segera timbul seperti biasanya aku menaiki kendaraan. Tapi entah mengapa kondisi tubuhku baik-baik saja. Tak ada mual ataupun pusing. Aku pasrah saja diperjalanan. Tak ada pertanyaan dari bapak ataupun ibu yang aku jawab. Dan aku tertidur.

“Bangun nduk, turun. Kita makan siang dulu”.

Terlihat semburat kebahagiaan di wajah bapak dan ibuku. Mungkin baginya senyumku adalah jawaban setuju atas keinginannya, sama sekali tidak.

Di tengah-tengah kami makan, bapak membicarakan sungai yang mengalir di pinggir warung.

“di sungai seperti ini lah tempat bapak mandi waktu mondok, nduk” kenangnya.

Aku tak tau apa maksudnya, jika ingin menghibur tidaklah seperti itu caranya. Itu jorok dan menjijikkan.

Aku hentikan makanku dan menuju ke luar warung. Aku lihat kanan kiri jalan begitu ramai lalu lalang orang membawa belanjaan. Sesekali masih ku lihat kereta kuda dengan pak kusir tua membawa ibu-ibu dan belanjaannya ke arah kiri.

“kita mampir ke balakang dulu nduk. Kata bakul bakso ini, gerbang yang mirip prasasti di Kediri itu juga tempat anak-anak seusiamu mondok”. Rayunya sambil menggandengku menuju bangunan yang terlihat tak begitu megah sebagai sebuah pondok dalam bayanganku.

Kami tidak bisa langsung menuju gerbang itu, karena tidak ada akses jembatan yang menghubungkannya. Dan harus memutar ke kanan atau kiri untuk melaluinya.

Aku berjalan memasuki gerbang. Pohon-pohon jambu yang rindang. Buah nangka yang harumnya mulai menusuk. Perempuan-perempuan kecil yang menyapu halaman, dua pria berjenggot bermain tenis. Ada kemesraan terbangun antara kebebasan yang ku inginkan dengan area ini.

“Assalamu`alaikum. Mohon maaf bapak, ada yang bisa kami bantu?”. Tanya seorang pria berjenggot yang terlihat lebih tua dari satunya.

“wa`alaikumsalam. Apakah kami diizinkan untuk melihat-lihat dan bertanya kepada kang santri tentang pondok ini? Siapa tahu gadis kecil kami ini bisa nyantri dan kerasan mondok disini”.

“dengan senang hati bapak. Mari”.

“Adek tidak ikut bapak dan ibunya keliling pondok?”. Tanya pria berjonggot satunya memecah lamunanku.

“Tidak kang, aku menunggu disini saja” jawabku menirukan bapakku.

“Ya sudah, saya tinggal dulu. Kalau butuh bantuan, tanya saja kepada mbak atau mas yang jaga pendaftaran di dalam”.

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih wajah tampan itu sudah berbalik meninggalkanku. Langkahnya begitu cepat dan begitu saja hilang tertelah ruang kecil di timur pohon jambu air yang menjulang. Notasi senyumnya, kedipan matanya, langkah kakinya, seakan tercetak tegas di pelupuk mataku. Sampai seorang perempuan dengan jas biru dongker memecah harmoni menawarkan selembar prosur.

Ku buka lembaran lebar dan ku baca isinya. Aku makin jatuh cinta dengan tempat ini. Di samping ada jenjang sekolah yang aku inginkan yang setara dengan Sekolah Menengah Atas, kegiatan luar sekolahnya mampu menghipnotis anganku.

“Ayo nduk, kita lanjutkan perjalanan”. Kenapa bapak cepat sekali keliling pondoknya. Padahal aku belum selesai membayangkan kegiatan yang tercetak dalam brosur ini.

“Aku mondok di sini saja pak”.

Gurat heran jelas terkerut dari dahi bapak dan ibu. Dengan diskusi singkat, akhirnya mereka menyetujui usulanku. Dengan syarat, jika dalam sebulan aku tidak kerasan, mereka akan memondokkanku ke pesantren yang lebih jauh dan tidak boleh pulang sebelum lulus.

Tidak ada perasaan takut. Justru tantangan dan ancaman bapak ibu aku jadikan penyemangat dan dorongan untuk lebih kerasan.

Setelah proses pendaftaran kamipun diijinkan pulang kembali, karena pembelajaran belum dimjulai.

Seminggu kemudia aku memulai petualangan baruku. Hari-hari yang ku lalui begitu ceria, tidak ada hal yang ku takutkan dan ku hawatirkan sebagaimana ayahku memperlakukanku di rumah. Terlebih, sosok pria bertubuh tegap dengan kacamata hitam itu selalu mengintruksikan kepada para santri untuk cinta membaca. Sangat singkron dengan kegemaranku.

Dalam satu sesi acara aku melihat pria berjenggot tempo hari sedang berdiri di depan para santri. Dengan celana hitam, baju ungu, songkok, dan lengkap dengan dasi putihnya terlihat serasi dengan warna kulitnya yang tak begitu putih. Aku bisa menebak apa jabatannya di sini.

Sebulan sudah aku disini, dan bapak tidak menjengukku.

“Pak Rey, tolong ambilkan bungkusan di lokerku dan kasihkan ke mbak Vara. Aku mau keluar sebentar”. Aku menunduk saja dan tidak berani menoleh kemana-mana. Apalagi harus menatap matanya. Sampai ada suara memanggilku.

“Dek, ini bungkusan dari bapaknya”. Suara renyah itu tiba-tiba menyejukkan kepalaku yang sudah mulai panas menunduk di depan kantor ini. Ku terima bungkusan itu dan senyum mentari itu masih ada. Bahkan lebih indah dari yang ku lihat dari menara samping masjid dekat rumah Aila.

“Terima kasih mas. Eh Pak”.

“iya, sama-sama”.

Aku seperti sudah sangat dekat dengan dia. Bahkan sesekali aku tak takut untuk mengajaknya bergurau di sela-sela aku menerima kiriman dari bapak yang dititipkan ke pak Yumna. Dan entah disengaja atau tidak, pak Yumna sering menitipkan kepada pak Rey.

Mungkin benar aku mengagumi sosok mereka sebagai guru. Tapi kekagumanku sedikit berbeda. Mereka seperti tak jauh beda dengan usiaku sekarang.

Aku mulai tidak tahan dengan gemuruh dalam fikiran dan hati. Pada kesempatan aku dipanggil pak Yumna, sengaja aku perpanjang bicaraku. Dan benar saja tak lama kemudian pak Rey keluar dari ruangnnya.

“Ini yang liburan kemarin ketemu kita kan pak?”

“Iya pak”. Jawab pak Yumna.

“Siapa namamu?”

Ini petir atau angin surga? Kalau petir kenapa aku tak merasa sakit. Namun jika ini angin surga, kakiku masih menapak tegap di lantai.

Karena aku terlalu lama tidak menjawab, akhirnya pak Yumna yang menyebutkan nama lengkapku.

“Waduh, nama kok panjang banget toh dek?. Tak panggil Vee saja ya?”. Dibarengi dengan tawa kecil lalu pergi.

Mataku tertuju pada sebuah gambar kartun bebek yang menggoyangkan lidahnya di depan warung bakso. Aku tersenyum sendiri mengingat bagaimana Aila sering mengejekku.

Aku tak ikut bapak dan ibu berkeliling pondok. Aku duduk di depan sebuah kelas yang disulap menjadi kantor pendafataran.

Aku dipanggil ke ruang guru untuk menemui Yumna. Akupun bergegas ke kantor. Dipintu ruang yang sempit itu sudah menunggu pria berjenggot yang dulu menemani bapak dan ibu keliling pondok.

Selalu begitu. Mengisi air pada ember yang berlubang dan meninggalkannya. Dan aku masih selalu membutuhkan air itu, selalu.

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
© Copyright 2018 Bloklimasatu - All Rights Reserved - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger