Padepokan Wilujeng Raharja: Tak Sengaja Dewasa



Bloklimasatu.com Hamparan luas persawahan dan tingginya ilalang yang biasa digunakan oleh murid-murid untuk bertapa ringan, atau sekedar melatih ilmu kanuragan yang telah diajarkan oleh eyang guru kini sudah berangsur mengering dan punah, hilang. Kicauan pipit yang biasanya menjadi alarm secara perlahan meninggalkan cemara-cemara yang menjadi pagar padepokan. Tempat ini sudah tak seperti dulu, dimana burung-burung bebas beranak pinak, ilalang yang siap menjadi tempat berbicara para siswa dikala rindu orang tuanya, atau air terjun belakang padepokan yang siap mengairi dahaga setiap tenggorokan yang mulai mengering, rasanya sudah pantas menjadi situs peninggalan sejarah.

Pagi itu seperti biasa Karna hanya menyiram tanaman pohon jambu dan nangka disekitar padepokan, sesekali membersihkan rerumputan disekitarnya yang yang sudah mulai rimbun. Tugas ini terasa aneh, karena dia pergi ke tempat ini untuk mencari ilmu kanuragan yang menjadi andalan Padepokan Wilujeng Raharjo, tapi justru ia mendapat tugas yang sangat berbeda dengan murid lainnya. Sesekali ia lelah menjalani tugas ini ketika melihat beberapa teman lain beradu kanuragan atau bela diri yang dipraktekkan dihalaman padepokan. Namun secepat kilat ia menepis bisikan iblis yang datang tanpa bisa disangka.

Sudah hampir delapan tahun dia menghabiskan waktunya untuk mengurus tanaman-tanaman disekitar padepokan, dari phon jambu dan nangka yang dulunya setinggi jari telunjuk, kini sudah tiga kali lipat dari tinggi badannya. Namun ada hal aneh yang ia rasakan, sudah hampir satu tahun terakhir ini tidak ada teman-teman yang berani mengganggunya seperti dulu. Dimana dia harus kebingungan mencari ember yang biasa digunakan mengambil air dari air terjun belakang padepokan yang memang menjadi sumber air bagi seluruh isi padepokan dan masyarakat dilereng gunung. Atau keusilan-keusilan lain yang biasa ia rasakan. Meski terkadang mengesalkan, tindakan-tindakan seperti itu justru membuatnya rindu, rindu akan rasa kesal, rasa capek, bahkan rasa ingin marah yang biasa ia terima selama ini.

Sesaat ia berfikir tentang keanehan-keanehan ini, apakah semua ini terjadi karena mereka sudah lelah mengerjainya, atau mereka di marahi oleh eyang guru, melihat tugas mengurus tanaman ini datang langsung dari eyang. Sampai akhirnya dia memberanikan diri menemui eyang guru di ruang inti padepokan. Tidak lama ia menunggu sang guru menemuinya dengan wajah memerah, sepertinya akan marah. Rasanya ingin segera lari, namun sudah kepalang tanggung, melihat sangat sulitnya bisa bertemu dengan eyang guru. “pulanglah, dan bawa orang tuamu kesini”. Bagai petir yang sedang menyambar, desiran darah ini serasa ingin berhenti. “Ada apa gerangan sampai-sampai eyang guru menyuruhku pulang, bahkan sampai menyuruh orang tuaku kesini. Apa mungkin karena kejadian kemarin, dimana cucu eyang guru, Aisyah yang menjerit sekencang-kencangnya di airu terjun karena diganggu oleh teman-temanku. Tapi aku akn tidak ikut mengganggu, bahkan aku yang menolong dan emngantarkannya pulang”. Seribu tanya berjalan begitu cepat dalam angannya, sampai-sampai dia lupa bahwa didepannya sedang duduk eyang guru yang menunggu jawabannya. “sendiko dawuh guru”. Hanya itu, dan ia bergegas pergi meninggalkan padepokan tanpa banyak persiapan.

Perjalanan panjang ia tempuh selama beberapa hari itu seakan tanpa ada rasa lapar dalam perutnya, pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya yang semakin lama semakin mengakar panjang rasanya sudah cukup untuk mengisi perutnya.

Tak terasa aroma belerang sudah mulai tercium begitu kental, dan itu menandakan tak lama lagi ia akan segera bertemu orang tuanya. Ia lihat wajahnya di belik seberang sungai depan rumahnya. Kusam, lusuh, tanpa gairah. Satu sampai lima guyuran sudah cukup untuk membohongi orang tuanya akan perasaannya.

“Assalamu`alaikum ibu, bapak”. Ada getaran-getaran tak jelas yang berdesir dalam dadanya. Namun ia berusaha menenangkan. Ibu dan bapaknya menjawab dan segera mengajaknya makan. Semakin banyak saja tanya dalam otaknya. “ternyata mimpi ibu jadi kenyataan. Dan itu ada satu sak beras sudah bapakmu siapkan untuk kamu bawa ke padepokan. Besok bapak dan ibu akan menyusul”. Iapun segera menghabiskan makanan dan segera berpamitan untuk kembali.

Dalam perjalanannya kembali, ada rasa frustasi yang sesekali menghinggapi, untungnya ia sudah sangat terlatih dengan kondisi seperti itu. Tapi menyimpan ribuan pertanyaan adalah hal baru baginya. Karena selama ini pertanyaan-pertanyaan itu hanya datang dari pohon-pohon yang bisa ia dapatkan jawabannya dengan mudah, karena yang menjawab juga dia sendiri. Tapi ini beda. Ada sosok-sosok yang tak mampu ia paksa, bahkan menatap wajahnya terlalu lama saja tak berani.

Bersambung…

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
© Copyright 2018 Bloklimasatu - All Rights Reserved - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger