Melacurkan Ideologi Adalah Awal Perbudakan



Pagi itu pak Ngatman berangkat mengajar dengan semangatnya. Dengan peci sedikit miring, baju licin bekas setrika tempo hari. Perawakannya begitu gagah dan necis dengan baju masuk dan dasi usang warisan sang kakek. Dikayuhnya sepeda onta tua yang dicat dengan warna merah muda matang, bukan karena apa, kecuali menuruti keinginan adik perempuan kecilnya yang memang menjadi penyemangat hidupnya. Tidak lebih dari satu kilometer dia sudah sampai pintu gerbang sekolah yang terlihat lusuh dengan lumut dan semaian beringin yang masih kecil. Sesekali ia lontarkan senyum kepada siswa yang sedia menunggu pintu gerbang sekolah hanya untuk mengingatkan untuk turun dari kendaraan ketika memasuki area surga itu, begitu para siswa istimewa menyebutnya.

Di dalam kantor tak banyak yang diucapkan, duduk dengan tegapnya dengan buku ditangan. Entah apa yang dibacanya tak banyak yang tahu, karena memang tidak banyak berani memulai interaksi dengannya, bukan karena dia seorang pemarah atau sosok yang perlu ditakuti, mungkin kewibawaan yang secara tidak langsung mempengaruhi sikap orang disekitar kepadanya, semua menaruh hormat. Disamping kewibawaan yang dimilikinya, sikpanya yang unik kadang mampu memecah kebuntuan kala bapak kepala sekolah dan istrinya banyak mendekte para guru junior dengan tugas-tugas yang terkadang serasa tidak masuk akal. “8 dibagi dua jadi berapa?” satu pertanyaan mudah yang sebenarnya mampu dijawab oleh anak kelas satu atau dua sekolah dasar. Tapi tidak tahu kenapa, ketika pak Ngatman yang bertanya seluruh isi kantor terbawa arus untuk berfikir keras untuk menemukan jawabnnya. Pasalnya pertanyaan-pertanyaan ia sering membuat isi kantor berfikir keras dengan akhir jawaban yang memingkalkan.

Teng teng teng. Bunyi lonceng dari potongan rel kereta api bekas peninggalan belanda itu menandakan bahwa jam pelajaran pertama siap dimulai. Pak Ngaatman berdiri dan berjalan menuju pintu kantor, di hadapan cermin usang di balik pintu itu ia rapikan kembali baju dan dasinya, dan yang tak pernah lupa adalah memeriksa resleting celananya. Ia jinjing tumpukan buku di tangan kanannya dan beberapa alat peraga ditangan kirinya. Dengan langkah tegap ia menuju kelas ujung bangunan tanpa tengok kanan kiri dan sepatah katapun tak keluar dari mulutnya. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas dan masuk dengan tenangnya. Tak sepatah katapun keluar dari mulut siswa sampai ia mengucapkan salam bahwa pelajaran siap dimulai. Selama pejalaran berlangsung serasa kursi guru tidak ada fungsinya, karena dalam penyampaian pelajaran ia lebih seirng berdiri dan mondar mandir di dalam kelas guna tercapainya materi yang telah ia siapkan semalam suntuk.

Potongan rel kereta api itu berbunyi lagi menandakan jam pelajaran telah usai. Sebelum meninggalkan kelas dan mengucapkan salam, ia akhiri pelajaran dengan beberapa nasihat dan memotivasi siswa untuk lebih memacu semangat belajarnya dan untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma. Sosok berdasi usang itupun keluar kelas. Di dalam kantor guru-guru muda yang memang tidak banyak tugas selain menjaga kantor agar tidak curi orang itu sudah menantinya. “pak aku sudah tau jawabannya” Aisyah yang duduk dipojok kantor membuka pembicaraan. Pak Ngatman melepas kacamata tebal yang membebani hidung mancungnya seraya tersenyum. “jawabannya 4 pak” begitu Aisyah menjawabnya diikuti Ainiyah dan beberpa guru muda lainnya. Lagi-lagi hanya senyum simpul yang diberikan pak Ngatman, “kurang tepat, jawabannya adalah nol”. Semua isi kantor bingung, dan saling bertanya dimana telat kesalahannya. Dengan melingkarkan jari-jari tangannya bertemu ibu jari dan mempertemukan kedua tangannya sehingga membentuk angka 8 ia menunjukkan kepada isi kantor. Cicak di belandar bangunan kantor tepat disamping lampu itupun seakan ikut menunggu penjelasan pak Ngatman. Dari dua lingkaran jari tangan kanan dan kiri itu ia memisahkannya, maka tinggallah angka nol. Sontak seisi kantor tertawa. Susasana seperti inilah yang selalu ditunggu dari pak Ngatman.

Pak kepsek dan istrinya yang kadang ikut-ikut untuk mengajar itu masuk kantor dan memecah canda tawa menjadi susasana yang mencekam. Dengan bedak setebal tembok Cina dan lisptrik semerah darah kurban itu memanggil Aisyah. Dengan sigap namun dengan raut muka dan senyum penuh malas itu aisyah duduk didepan istri pak kepsek. Sekilas apa yang diperagakan Aisyah seperti mbok mban yang menghadap kepada ratunya sehingga dia harus berjalan berjongkok seratus meter sebelum sampai dihadapan sang ratu. Dan semua sudah bisa mengira apa yang akan terjadi. Cercaan dan paparan kesalah dari tugas yang diberikan kepadanya tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Aisyah adalah tangan kanan Istri pak kepsek yang merangkap sebagai sekretaris, bedahara, maupun seksi-seksi lain di sekolah ini.

Dari kejauhan pak Ngatman meraba dadanya. Kejadian itupun pernah menimpanya yang notabene punya usia lebih dewasa. Sehingga pemandangan buruk itu ia berasaha mengabaikannya. “Pak Ngatman, kalau dulu mau mengambil pelajaran lain untuk diajukan ke Pemkab kan bapak sudah jadi PNS seperti yang lainnya.” Pak kepsek yang duduk di depannya membuka pembicaraan. “yang sudah ya biarlah pak, mungkin belum rejekinya. Kalau nanti ada pengajuan lagi mohon dengan sangat untuk mengabari saya”. Dengan senyum ia menjawabnya. Namun dari senyum itu terjadi perang di altar luka dua belas tahun silam yang hampir sembuh. Ia jadi ingat kembali pada peristiwa dimana dia hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan surat untuk mengajuan ke Pemkab, tanpa kesalahan semua surat itu ia persiapkan, mulai dari foto, copy ijasah, dan beberapa surat penunjang.

Masih sangat jelas dalam ingantannya, tepat pukul sebelas malam Aisyah yang malam itu membantunya menyiapkan berkas-berkas mendapat telpon dan bergegas meninggalkannya.  Sebelum pergi Aisyah mohon ijin karena dipanggil istri pak kepsek. Pak Ngatman menahannya dan menitipkan beberapa berkas untuk besok di tanda tangani pak kepsek. Pintu kantor ditutup dan ia bergegas ke desa seberang, karena nenek satu-satunya meninggal dunia. Tepat jam delapan pagi dimana mayat neneknya akan diberangkatkan ia mendapat telepon dari pak kepsek yang memeberitakan bahwa setelah dirundingkan dengan dewan guru senior dia tidak bisa meloloskan berkasnya. “terserah anda pak”. Terlihat jelas keputus-asaan dan kekalutan yang sedang melandanya, dan tak banyak orang tahu apa yang sedang ia rasakan. Dengan jiwa besar ia berusaha merelakan.


Pak Ngatman bertahan dengan ideologinya. Karena baginya tak ada alasan pelajaran yang sudah diampunya puluhan tahun harus dilepaskan dan berpindah dengan pelajaran lain. Dan belum tahu siapa nantinya yang akan memegang pelajaran itu. Sementara dalam waktu semalam tidak akan mungkin merubah berkas yang sudah ada sejak puluhan tahun silam yang melibatkan tanda tangan banyak orang pula. Baginya Ideologi adalah nilai diri dan melacurkan ideologi adalah awal perbudakan.