Hansamu


Bloklimasatu.com - Jam istirahat sekolah telah tiba anak-anak berhamburan ke tempat-tempat favorit untuk menghabiskan waktu istirahat. Ada yang ke taman, perpustakaan, ataupun ke kantin sekolah sekedar untuk membeli makanan ringan. Suasanapun berubah menjadi ramai, riuh, gaduh. Dan itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi di kantin. Saling goda, saling ejek, saling mendahului memesan makan kepada ibu kantin, atau saling goda antara murid laki-laki dan perempuan di sela-sela penantian mereka menunggu makanan.

Keramaian-keramaian yang tadinya terlihat wajar-wajar saja  di kantin sekolah dasar itu berubah menjadi tegang ketika salah satu teman mereka Hansamu datang dan duduk di meja tengah kantin dengan seekor anak burung ditangan dan mulut penuh dengan darah. Sontak jeritan siswa perempuan, yang diikuti teriakan siswa laki-laki seraya memanggil nama-nama bapak ibu guru mereka. Rupanya Hansamu memiliki kelainan dalam prilakunya.

Siang itu Hansamu dibawa ke ruang BK dan kondisi anak inipun tak berubah dengan saat di kantin.dia duduk di depan sebuah meja besar dalam ruangan yang sebenarnya sangat menakutkan bagi anak seusianya. Namun berbeda dengan Hansamu, dia hanya diam, tidak terlihat penyesalan apapun dalam dirinya. Karena baginya apa yang dia lakukan bukan hal yang melanggar apapun. Dia hanya makan burung dan anak-anaknya dari pohon belakang kantin dan berusaha menunjukkan di hadapan teman-temannya.

Hansamu memang berbeda dari kebanyakan temannya. Usianya belum genap sebelas tahun, rambutnya selalu dicat dengan warna yang selalu berubah pada tiap minggu atau bulannya. Memang terasa asing dan aneh ketika melihat Hansamu pada pertama kali, namun itu sudah menjadi biasa dihadapan teman dan guru di sekolahnya. Dia bukanlah anak periang yang mudah bergaul dengan teman-temannya, juga tidak banyak guru yang begitu memperhatikannya, Asal tidak melanggar peraturan, itu sudah bagus baginya. Karena dia juga selalu mengerjakan pekerjaan sekolah dan mengikuti pelajaran setiap hari.

Siang itu juga orang tua Hansamu dipanggil ke sekolah untuk diberi tahu diminta keterangan soal kelakuan anaknya. Ibunya datang dengan kepanikan yang memuncak. Bukan tanpa alasan, Hansamu adalah anak satu-satunya hasil pernikahan dengan sahabat dekatnya ketika sama-sama menajdi tenaga kerja di Jepang. Semua orang juga akan mengira bahwa hansamu dan ibunya benar-benar orang jepang. Terlepas dari intonasi bicara yang tidak fasih dengan bahasa Indonesia, warna kulit, gaya rambut dan berpakaiannyapun mencerminkan orang Jepang.

Hansamu hanya diam, tanpa sedikitpun mengangkat wajah. Ibunya berusaha mendekati dan mengajak bicara. Perlahan Hansamupun menoleh dan mulai berinteraksi dengan ibunya meski masih tanpa ekspresi. Namun dengan berbagai cara yang biasa dilakukan dirumah, Hansamu mulai tersenyum dengan pancingan sang ibu yang menjulurkan lidah sembari mengerlingkan satu matanya. Kepala sekolah dan guru BK-pun mulai tenang dan perlahan bergabung dengan Hansamu dan ibunya. Dengan harapan itu mampu merubah kepribadiannya.

.....Hansamu bukanlah anak yang tanpa prestasi. Sejak sekolah dasar, SMP, bahkan sampai kini masuk SMA, dia selalu menjadi juara satu dalam bidang tenis meja dan silat. Belum ada satupun yang bisa mengalahkannya. Terlepas dari fasilitas yang disediakan oleh ibunya, mungkin juga bakan silat didapat dari sang ayah yang sekarang tidak tahu entah dimana. Ayahnya tidak mati atau minggat. Akan tetapi keberadaannya sudah tidak diperdulikan lagi. Terakhir kali Hansamu melihat wajah ayahnya adalah ketika terjadi pertengkaran hebat yang terjadi antara ayah dan ibunya.

Kebiasaan ayahnya yang suka mabuk-mabukan setelah dikeluarkan dari perusahaan dimana dia bekerja. Itu bukan menjadi masalah bagi ibu Hansamu, tapi kepualangannya malam itu membuat murka besar bagi ibu yang selama ini sudah sangat sabar menghadapi tingkah suaminya yang seperti anak kecil lagi. Malam itu ayahnya pulang dengan tangan perempuan muda digenggamnya. Dari balik pintu yang memang langsung tertuju ke ruang tamu itu hansamu dengan jelas melihat bagaimana ibunya ditampar oleh ayahnya demi membela perempuan yang lebih pantas menjadi anaknya itu. Dengan derai air mata dan bengkak di bibir bekas tamparan, ibu mengusir ayah malam itu juga tanpa benda apapun ditangannya.

.....Hari ini adalah pengumuman kelulusan, semua siswa dinyatakan lulus, tinggal menunggu pengumuman siapa yang menjadi siswa terbaik yang akan disampaikan langsung oleh kepala sekolah minggu depan saat pesta perpisahan dirayakan.

Hari yang dinantipun datang, Hansamu memasuki gerbang sekolah dengan ibu kesayangannya, begitupun dengan siswa yang lain. Meski kebanyakan siswa menbawa kedua orang tua mereka, tapi tak jadi masalah bagi Hansamu, karena tidak hanya dia yang datang hanya dengan seorang ibu.

Seperti pesta-pesta sebelumnya, dalam susunan acara kali inipun ditampilkan pentas seni dari adik-adik kelas. Mulai dari menyanyi, drama, ataupun pembacaan puisi. semua terlihat bahagia.

Seluruh rangkaian acara telah selesai, dan tibalah sesi yang ditunggu oleh semua siswa kelas tiga dan semua orang tua yang hadir di halaman sekolah siang itu. Ya, Hansamu menjadi siswa terbaik tahun itu. Pelukan cium dari ibunya dan ucapan selamat dari para siswa, orang tua dan gurupun ia terima dengan senang hati.

Semua orang tua diijinkan pulang, namun para siswa diwajibkan untuk tetap tinggal di sekolah sampai jam sepuluh malam, guna mengikuti rangkaian acara penyerahan hadiah dan pesta kecil lanjutan. Acarapun berlangsung meriah dan pialapun sudah ditangan. Disela-sela acara dia didatangi seorang perempuan cantik yang selama ini menjadi bunga sekolah dengan seikat bunga di tangan mendekatinya. Perempuan itu adalah Meilina. Ucapan selamat disampaikan, dan Hansamupun tersenyum dengan mengucapkan terima kasih. Suasana  menjadi datar-datar saja karena Hansamu tidak memberikan respon yang menjadi karapan perempuan ini. sampai sang perempuan pergi meninggalkannya sendirian berdiri di tengah jalanan sekolah menuju gerbang. Namun tiba-tiba dia memegang tangan Meilina dan menghentikan langkahnya. Hansamu memeluk sosok mungil dan mengungkapkan perasaan yang selama tiga tahun ini ia pendam. Gayungpun bersambut dan merekapun menobatkan diri sebagai pasangan kekasih.

Jarak rumah yang lumayan jauh dan biasa ditempuh dengan taksi, malam itu ia tempuh dengan berjalan kaki, tentunya ada Meilina disampingnya. Pembicaraan ngalor ngidulpun mereka lalui dengan tawa dan bahagia dan tanpa terasa sampai didepan rumah Meilina. Iapun diajak mampir untuk dikenalkan kepada kedua orang tuanya. Didepan rumah sudah menunggu ibu Meilina dengan senyum. Diteras rumah itupun terjadi percakapan renyah antara Hansamu dan ibu sambil menunggu Mei ganti pakaian. Tak lama Meilina keluar dari rumah dengan menggandeng seorang pria tinggi besar yang sangat tidak asing baginya. Tanpa berpamitan Hansamu lari meninggalkan rumah Meilina. 

Dengan tangisan dan teriakan, sepanjang jalan Samu hanya bisa mengumpat dan mengumpat. Saat memasuki rumah ia ingin bercerita dengan ibunya dengan apa yang terjadi. Namun kejadian lebih buruk terjadi. Ia menadapti ibunya tergeletak di kursi shofa ruang tamu dengan sayatan pisau di pergelangan tangannya. Hidupnya hancur. Tak ada lagi orang yang benar-benar mencintainya. Karena satu-satunya orang yang sangat dia cintai telah pergi untuk selamanya.

Selepas kepergian ibunya, Samu menghabiskan hari-harinya dengan berdiam diri rumah. Ia mulai mengenal minuman keras dan obat-obatan terlarang. Sesekali Mei menjenguknya namun tidak pernah dibukakan pintu.

Sepertinya kenyamanan tidak pernah bersahabat dengannya. Malam itu tiba-tiba sang ayah datang untuk yang kedua kalinya namun dengan kondisi yang sama. Ayahnya datang dengan membawa perempuan cantik seusianya dan memperkenalkan bahwa itu adalah istri mudanya. Wanita ini akan tinggal di rumah Samu menggantikan ibu. Mungkin maksud ayahnya baik, tapi itu justru menjadikan sakit hatinya semakin memuncak.

Hari-hari mereka jalani dengan tidak wajar, karena dalam satu rumah dengan orang yang tidak dikenal sangatlah tidak enak. Bahkan wanita malang ini akan menjadi pelampiasan sakit hati yang selam ini ia pendam kepada ayahnya. Kejadian ini menumbuhkan tabiat buruk yang pernah ia derita saat kecil. Beberapa kali ia berusaha mencelakai wanita ini, namun selaluia urungkan. Hati kasihnya masih berpihak lebih banyak. Sampai suatu malam, ayahnya datang dan bergurau dengan istri mudanya di ruang tamu, dihadapannya, namun satu patah katapun tak terucap dari mulutnya. Bahkan adegan dewasapun tertonton jelas dihadapan Yamu. Hatinya semakin panas dan sakit itu terasa tidak bisa dipendam semakin lama. Sebuah pisau dapur menancap tepat dipunggung ayahnya beberapa kali. Darah dimana-mana. Dan wanita itupun lari keluar rumah. Tak ada penyesalan dalam hatinya, karena ia merasa hidupnya sudah lunas sekarang. Orang yang ia sayangi dan ia benci telah pergi dan hilang dari dunia ini.

Esok harinya ia pergi ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Hidupnya sudah habis. Dimanapun dia hidup akan sama saja. Dia divonis 15 tahun penjara, dan mungkin itu akan kurang lama baginya. Karena setelah ia keluarpun tidak ada tujuan hidup selain kembali ke rumah, menghabiskan harta peninggalan ibunya dengan mabuk-mabukan.