Hari Ke Empat


Bloklimasatu.com - Menghafal pelajaran sudah menjadi aktifitas hariannya, bahkan buku-buku yang tidak diajarkan di sekolah pun sudah banyak yang dia hafal diluar kepala. Bahkan kitab-kitab kuning yang mejadi pelajaran kakak kelasnyapun sudah ia kuasai. Tak ayal dia menjadi primadona di sekolah dan asrama dimana dia tinggal.

Usianya baru enam belas, tapi prestasinya sudah dikenal diberbagai sekolah dan pesantren. Di kalangan santri sendiri sudah lima bulan yang lalu ia terpilih sebagai  ketua organisasi santri dengan total suara seratus persen. Disamping kecerdasan dan kewibawaannya dihadapan adik maupun kakak kelas, kecantikannya pun mampu menarik perhatian para guru yang rata-rata masih muda dan belum berkeluarga.

Sepulang dari masjid ataupun sekolah, selalu ada surat mengatas namakan sebagai penggemarnya. Surat-surat itupun ia terima tidak dengan cara wajar, kadang di atas almari pakaian, rak buku, bahkan di dalam sepatu sekolah. Hal itu tak mampu mematahkan janji yang ia ucapkan untuk dirinya sendiri, bahwa ia tak akan membukan hati untuk hubungan serius kecuali hanya sekali, dan ia akan membuka untuk pertama kalinya setelah lulus dari pesantren, dan akan memberikan apapun kepada lelaki yang dicinta sesuai yang dicintai lelaki itu dari dirinya.

“Mbak Hin, dipanggil Abah ke ndalem” suara lirih dari Hilda membangunkan tidur siangnya. Hindipun membersihkan diri dan bergegas ke ndalem Abah. “Abah punya kelinci, dan Hindi yang abah beri tugas untuk merawatnya”. Sebagai santri yang baik tentu Hindi tidak akan menolak tugas mulia itu. Ia diantar langsung ke kandang kelinci oleh Abah, karena letaknya yang dekat dengan perkampungan warga dan agak jauh dari pesantren.

Tugas bertambah satu, namun itu tidak menurunkan prestasi dan mengurangi aktifitas yang sudah menjadi kebiasaannya. Dan semakin banyak pula surat tanpa tuan yang ia terima.

Tanpa terasa sudah enam bulan kelinci-kelici ini ia rawat. Dan sudah beberapa kali Abah menyuruh tukang untuk membuatkan kandang tambahan, karena kandang yang lama sudah tidak mampu untuk menampung jumlah kelinci yang semakin banyak.

Pukul tiga pagi, Hindi keluar kamar bermaksud untuk mengambil air wudhu untuk sholat tahajjud, tapi ada selembar kertas diatas sandal yang mengganjal langkahnya. Dan iapun membaca. Bukan surat cinta seperti biasanya, tapi hanya kalimat pendek yang serasa seperti petir baginya. “Selamat, satu bulan lagi kamu sukses menjalani roda kepemimpinan organisasi” hanya itu yang tertulis. Bagi santri lain yang menjadi bawahannya mungkin sebuah kebahagiaan, tapi tidak bagi Hindi. Karena itu berarti akan banyak gangguan dengan tugas yang semakin sendikit, dan yang pasti satu tahun lagi dia harus meninggalkan pesantren ini menjadi seorang alumni.

Kamis sore selepas acara serah terima jabatan dari kepemimpinan lama kepada yang baru, Hindi termenung dan sesekali mengajak bicara kelinci yang selama ini menjadi tempat ia curhat dan tertawa lepas. Kelinci-kelinci itupun seperti mengerti ucapapan dan setiap gerak mulut Hindi selama ini. Tapi sore itu ada satu kelinci yang sepertinya berfikiran sama dengannya. Kelinci itu keluar dari kandang dan berlari jauh ke perkampungan penduduk dan  Hindipun mengejarnya. Namun apalah daya, langkah kakinya tak mampu menandingi kecepatan kelinci. Dengan langkah gontai dan tongkat di tangan, setiap semak tak luput dari tongkatnya, setiap orang ia Tanya, namun tak satupun mengetahui keberadaan kelici yang dicari.

Di beranda sebuah musholla ia berhenti sekedar untuk menghela nafas, dengan tatapan mata yang tak jelas arahnya sebuah suara mengagetkan hayalnya. “mbak mencari ini?” seorang pemuda tampan dengan kelici yang ia cari berada di tangannya. Pemuda itupun memberikan kelinci tersebut. Tanpa banyak kata pemuda itupun pergi dan Hindi masih belum tersadar dari lamunannya. Entah karena kelelahan atau pesona pemuda bermatat bulat dan berambut ikal tadi. Namun semua itu berlalu sampai ia memasukkan kelinci itu ke dalam kandangnya dan barulah ia tersadar kalau terima kasihpun belum sempat ia ucapkan, apalagi mengetahui namanya.

Ternyata benar apa yang dia takutkan selama ini, semakin sedikit kegiatan semakin banyak pula godanya. Karena pada kenyataannya Ia  semakin sering memikirkan pemuda berkulit kuning langsat itu.

Satu minggu sudah Hindi tak fokus menjalani kehidupannya. Sebenarnya banyak yang heran dengan perubahannya, tapi tidak ada satupun orang yang berani menerkan apalagi mengingatkannya. Tapi karena semakin hari semakin aneh saja, Hilda yang menjadi teman dekatnya memberanikan diri untuk menanyakan hal apa yang menimpa teman baiknya itu. Namun Hindi hanya tersenyum simpul tak memeberi satu katapun.

Timbul fikiran nekat untuk menemui pemuda itu, tapi bagaimana caranya, sementara nama saja tak tahu apalagi rumahnya. Tiba-tiba muncul satu ide gila dan langsung ia kerjakan tanpa berfikir panjang. Ia membuka pintu kandang dan melepaskan tiga ekor yang paling besar. Benar saja, kelinci itu berlari ke kampung penduduk, dan ia menunggu sampai setengah jam baru mencarinya.

Selepas sholat asar, ia kembali ke kandang untuk memastikan kelinci-kelinci itu belum kembali dengan sendirinya, namun tanpa diduga pemuda itu sudah berada didepan kandang dan memberi makan untuk semua kelinci. “Maaf, saya lancang memasukkan kelinci-kelinci ini ke kandang secara langsung, karena tidak ada yang punya kelinci kecuali pak Yai” sang pemuda membuka percakapan. “oh iya mas, terima kasih. Baru saja saya mau mencarinya”. Pemuda itupun berpamitan untuk pulang. Sebelum langkah pemuda itu semakin jauh, Hindi memberanikan diri untuk menanyakan namanya. “ panggil saja Achul”, diikuti dengan lesung pipi yang terpatri indah.

Pagi, siang, sore, malam, bahkan setiap detik hanya senyum mas Achul yang selalu membayangi kelopak matanya. Nilainya mulai menurun, dan omongan orang tentangnya pun tak terbendung lagi. Surat-surat tanpa tuan yang biasanya ia simpan, kini berserakan dan bermuara ditempat sampah. Bahkan sudah ada yang mulai berani menggunjing dan menyebar fitnah seiring menurun kewibawaannya.

“Apa yang terjadi padamu Hin?, maaf jika aku terlalu lancang mencampuri  urusanmu. Aku sudah terlalu sakit mendengar fitnah yang dihujamkan mulut-mulut tak bertanggung jawab atas sahabat baikku yang selama ini menjadi idola santri, menjadi panutan santri. Bicaralah Hin, siapa tahu temanmu yang bodoh ini bisa menjadi pengganti kelinci-kelinci kecil yang biasanya menjadi tempatmu berbagi cerita”. Hilda sudah tak mampu menahan dan menampung semua berita yang semakin menyudutkan sahabatnya itu.

“Tenang Hil, semua akan indah pada waktunya. Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam”. Jawab Hindi dengan senyum gembira. Dan menceritakan semua yang terjadi sehingga ia berubah sampai seperti ini.

Hindi semakin tenggelam dalam rasanya yang tanpa rasa, memuncak dalam angannya tanpa laksana. Bagaimana tidak, seseorang yang menjadi pangeran dalam mimpi dan lamunnya belum ia ketahui apakah sebanding dengan yang ia rasakan. Dan lagi-lagi ia lupa akan janji yang pernah terucap untuk dirinya sendiri.

Fikirnya tak menjadi angan lagi, Hindi mencari keberadaan Achul dan semua serba kebetulan, mereka pun bertemu. Mereka tidak saling bicara, sepertinya senyum sudah menjadi bahasa pertemuan. Sampai akhirnya “aku mencintaimu, dan aku tidak ingin orang lain memilikimu. Kalau kamu merasakan hal yang sama, aku tunggu kamu menemui Kiaiku untuk menjelaskan tujuanmu.” Dan meninggalkan Acul dalam kebingungan.

Satu, dua, tiga haripun berlalu, dan tibalah saat yang ditunggu oleh Hindi. Selama tiga hari ini Hindi kembali pada dirinya yang dulu, bahkan lebih semangat, dan senyum tak pernah lepas dari hari-harinya. Semenatara dibalik itu, tiga hari serasa menanti kematian. Surga atau neraka tempatnya setelah kematian nanti. Sementara keluarga sudah mulai bosan dengan jawaban senyum ketika ditanya mengenai calon istri. Dan itu menjadikannya semakin kalut.

“Ini sudah hari yang ke empat sejak pertemuan itu, mungkin aku yang terlalu agresif mengorbankan harga diriku, tapi ini sudah menjadi keputusanku, dan aku akan bertanggung jawab. Meski begitu, aku akan tetap menyimpan rasa ini ke lubuk  hatiku yang paling dalam sebagai pangeran tanpa mahkota”. Dengan berderai air mata di pelukan Hilda sahabat dekatnya.

“Assalamu`alaikum” suara yang sangat tidak asing untuk telinganya, suara yang ia rindu-rindukan kehadirannya tiga hari yang lalu, tapi bukan hari ini. Dengan segala kekuatan, ia dan sahabatnya itu mencoba untuk melihat dari candela kamar yang memang lokasinya tepat di depan rumah pimpinan pesantren. Antara sedih dan bahagia, dengan peluh air mata masih membasahi, sebuah kenyataan bahwa sosok yang diharapkan telah datang, datang terlambat, itu sangat bertolak belakang dengan prinsipnya, dan itu menyakitkan.

Abah membuka pintu dan mempersilahkan Achul masuk.

Sudah hampir satu jam Achul tidak keluar, semakin liar penasaran berkecamuk dalam rongga kepala. Sampai akhirnya pintu terbuka. Namun bukan Abah atau Achul yang keluar, melainkan bu nyai. Semakin kemana-mana alur jalan fikiran Hindi. “Hin, tak tunggu di dapur”. Rupanya bu nyai keluar untuk memanggil Hindi ke dapur, itu artinya ia tetap tidak bisa melihat Achul dan mendengarkan percakapan antara keduanya.

Hindi tidak sendirian, ia mengajak Hilda. Dengan langkah kecewa mereka berdua menuju dapur. Tapi sebelum sampai daput, bu nyai menghentikan langkah mereka, dan mengajak masuk kamar bu nyai melalui pintu samping. Dari situ perbincangan antara keduanya seharusnya mulai terdengar. Namun hanya hening yang ada. Tiba-tiba Abah memanggil ketiganya ke ruang tamu.

“Nak Achul datang kesini ingin memintamu, dan tadi Abah sudah menelpon orang tuamu, mereka bilang menyerahkannya kepada Abah. Biar adil, sekarang Abah menyerahkannya kepadamu. Kamu boleh menjawabnya sekarang. Kamu juga boleh meikirnyannya terlebih dahulu. Tapi hemat Abah, lebih cepat lebih baik. Karena sesuatu yang baik kalau bisa dipercepat saja”. Semua tersenyum, begitupun Hindi.

“Sebagaimana yang disampaikan Abah tadi, aku akan menjawabnya sekarang. Tapi ada satu pertanyaan yang harus mas Achul jawab. Apa yang mas Achul suka dari Hindi sehingga mas memberanikan diri datang menemui Abah untuk memintaku?”. Suasana sejenak menjadi hening. Sampai Abah menyambung “Monggo mas Achul dijawab”. Mungkin Achul bingung mau menjawab apa, karena bukan keadaan seperti ini yang ia bayangkan dari rumah. Achul hanyan bisa menundukkan kepala, seakan mau lari keluar dan menyerah. Tapi dia tidak akan mengorbankan harga dirinya dihadapan calon istri yang pasti akan membanggakan keluarganya.

Berat sekali rasanya mengangkat kepala, namun akhir dengan sangat berat, Achul memandang Hindi seraya berkata “pertama yang aku lihat adalah mata indahmu, dan aku jatuh hati karena itu”. Semua tersenyum termasuk Hindi, dan menganggap keduanya sudah menemukan kecocokan tinggal mempertemukan orang tua masing-masing.

Hindi dan Hilda diminta kembali ke kamar. Begitupun Achul mengatur basa-basi untuk bisa undur diri dari hadapan Abah. Dengan beberapa pesan dari pimpinan pesantren itu, Achul pun izin pulang dan diantar sampai beranda.

Tak lama setelah pintu rumah ditutup, Hilda menghampiri Achul dan memberikan satu barang yang sudah dibungkus dengan rapi dalam kotak dan sepucuk surat. “Jangan membuka kotaknya sebelum membaca suratnya. Dan bacalah suratnya sesampainya mas di rumah. Itu pesan dari mbak Hindi”. Hilda kembali ke kamar, dan Achulpun pulang dengan hati yang sangat bahagia.


BERSAMBUNG...