Lanjutan Cerpen: Hari Ke Empat Puluh

LANJUTAN DARI HARI KE EMPAT


Bloklimasatu.com - “Assalamu`alaikum” suara yang sangat tidak asing untuk telinganya, suara yang ia rindu-rindukan kehadirannya tiga hari yang lalu, tapi bukan hari ini. Dengan segala kekuatan, ia dan sahabatnya itu mencoba untuk melihat dari candela kamar yang memang lokasinya tepat di depan rumah pimpinan pesantren. Antara sedih dan bahagia, dengan peluh air mata masih membasahi, sebuah kenyataan bahwa sosok yang diharapkan telah datang, datang terlambat, itu sangat bertolak belakang dengan prinsipnya, dan itu menyakitkan.

Abah membuka pintu dan mempersilahkan Achul masuk.

Sudah hampir satu jam Achul tidak keluar, semakin liar penasaran berkecamuk dalam rongga kepala. Sampai akhirnya pintu terbuka. Namun bukan Abah atau Achul yang keluar, melainkan bu nyai. Semakin kemana-mana alur jalan fikiran Hindi. “Hin, tak tunggu di dapur”. Rupanya bu nyai keluar untuk memanggil Hindi ke dapur, itu artinya ia tetap tidak bisa melihat Achul dan mendengarkan percakapan antara keduanya.

Hindi tidak sendirian, ia mengajak Hilda. Dengan langkah kecewa mereka berdua menuju dapur. Tapi sebelum sampai daput, bu nyai menghentikan langkah mereka, dan mengajak masuk kamar bu nyai melalui pintu samping. Dari situ perbincangan antara keduanya seharusnya mulai terdengar. Namun hanya hening yang ada. Tiba-tiba Abah memanggil ketiganya ke ruang tamu.

“Nak Achul datang kesini ingin memintamu, dan tadi Abah sudah menelpon orang tuamu, mereka bilang menyerahkannya kepada Abah. Biar adil, sekarang Abah menyerahkannya kepadamu. Kamu boleh menjawabnya sekarang. Kamu juga boleh meikirnyannya terlebih dahulu. Tapi hemat Abah, lebih cepat lebih baik. Karena sesuatu yang baik kalau bisa dipercepat saja”. Semua tersenyum, begitupun Hindi.

“Sebagaimana yang disampaikan Abah tadi, aku akan menjawabnya sekarang. Tapi ada satu pertanyaan yang harus mas Achul jawab. Apa yang mas Achul suka dari Hindi sehingga mas memberanikan diri datang menemui Abah untuk memintaku?”. Suasana sejenak menjadi hening. Sampai Abah menyambung “Monggo mas Achul dijawab”. Mungkin Achul bingung mau menjawab apa, karena bukan keadaan seperti ini yang ia bayangkan dari rumah. Achul hanyan bisa menundukkan kepala, seakan mau lari keluar dan menyerah. Tapi dia tidak akan mengorbankan harga dirinya dihadapan calon istri yang pasti akan membanggakan keluarganya.

Berat sekali rasanya mengangkat kepala, namun akhir dengan sangat berat, Achul memandang Hindi seraya berkata “pertama yang aku lihat adalah mata indahmu, dan aku jatuh hati karena itu”. Semua tersenyum termasuk Hindi, dan menganggap keduanya sudah menemukan kecocokan tinggal mempertemukan orang tua masing-masing.

Hindi dan Hilda diminta kembali ke kamar. Begitupun Achul mengatur basa-basi untuk bisa undur diri dari hadapan Abah. Dengan beberapa pesan dari pimpinan pesantren itu, Achul pun izin pulang dan diantar sampai beranda.

Tak lama setelah pintu rumah ditutup, Hilda menghampiri Achul dan memberikan satu barang yang sudah dibungkus dengan rapi dalam kotak dan sepucuk surat. “Jangan membuka kotaknya sebelum membaca suratnya. Dan bacalah suratnya sesampainya mas di rumah. Itu pesan dari mbak Hindi”. Hilda kembali ke kamar, dan Achulpun pulang dengan hati yang sangat bahagia.

Dalam perjalanan pulangnya Achul tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dengan menyusuri pinggiran sungai melewati bekas jalan kereta, senyum bahagia itu tak bisa disembnunyikan dari raut mukanya. bahkan ketika melwati pasar Ia menceritakan betapa bahagia hatinya kepada setiap orang yang berpapasan di jalan. 

Sesamapainya di rumah, Achul sudah tidak sabar membaca surat yang pasti akan menjadikan hatinya semakin bahagia. Sebelum dibuka, ia sempatkan untuk mencium surat yang memang dibalut dengan dengan amlpom yang sangat indah dengan warna khas yang menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta. “Mas orang yang aku pilih, akan ku serahkan apapun yang menjadi keinginan mas. Yang ada di dalam kotak putih itu adalah pemberianku yang pertama, tapi aku ingin mas membukanya empat puluh hari dari sekarang. Pergilah sejauh mungkin dan kembali empat puluh hari lagi.  Jangan terlambat lagi. Aku mencintaimu karena Allah”. Demikian isi tulisan yang berada di dalam amplop. Ada rasa kecewa, karena hanya sedikit klaimat yang diberikan, sementara ekspektasinya adalah surat yang isinya berlembar-lembar sehingga ia mampu membalasnya dengan pujian-pujian dan sajak indah. tapi tidak sepenuhnya kecewa juga, meski hanya beberapa baris kata sudah mampu menyiram ladang hati yang selama ini masih gersang.

Hari demi hari, minggu demi minggu telah terlewat, empat puluh hari telah di depan mata, dan tiba saatnya ia melihat hadiah pertama dari seseorang yang akan menemani sisa hidupnya. Perlahan ia mulai membuka kotak putih itu dan menemukan secarik kertas diatas kotak hadiah. “ku harap kau tidak tertawa melihat hadiahku ini, apalagi menangis, tetaplah tersenyum seperti saat kau membuka suratku yang pertama empat puluh hari yang lalu”. Hatinya semakin berbunga, sesegera mungkin ia membuka kotak yang kedua itu. Terlihat mawah dan melati yang sudah mulai mengering. 

Sebuah benda yang dibalut kain putih ia buka. Wajah berseri-seri dan senyum yang biasa terlontar mendadak musnah dari wajahnya. Air mata itu mengalir seperti tak ada bendungan yang mampu menahannya.

Penyesalan memang berada dia akhir, kalau dia tau akan begini jadinya, ia akan berfikir lebih panjang untuk menjawab pertanyaan yang akan menjadi pondasi dari hidupnya mendatang. Dengan berderai air mata ia bungkus kembali kotak putih yang ia sangka adalah hadiah terindah itu. Puluhan kilo meter ia terjang dengan berlari tanpa berfikir kondisi jalan dan fisiknya.

Dengan berurai air mata dan darah mengucur bebas dari kakinya, bahkan ada sebagian darah yang sudah mulai mengering, ia ketuk pintu Abah, bahkan terkesan menggebrak. Abah keluar dengan tenang dan mempersilahkannya untuk duduk dulu. Namun Achul tak menghiraukan dan menanyakan keberadaan Hindi. Abah pun berjalan sekitar sepuluh meter dan rumahnya dan menunjuk sebuah bangunan kecil yang terlih masih baru.

Pikiran achul mulai menenang. Dalam pikirnya Hindi sengaja diasingkan untuk menanti kehadirannya. Ia meminta izin kepada Abah untuk menemui Hindi sekedar untuk berbicara, meski hanya dari luar bangnunan. Namun justru Abah mempersilahkannya untuk masuk.

Setelah bersalaman segera ia berlari menghampiri bangunan kecil yang jaraknya hanya sekitar seratus meter itu. Mungkin karena terlalu bahagia, ia sampai lupa mengucapkan salam. Alangkah kagetnya ketika ia sampai dan memasuki bangunan tanpa pintu itu. Yang ia liat hanyalah batu nisan bertulis nama orang yang sangat ia cintai.

Tangisan bercapur teriakan penyesalan mengiring tenggelamnya mentari di sore itu. Tak ada lagi yang mampu ia lakukan selain menangis dan menyesali yang telah terjadi.