Cerpen: Surat Terahir



Bloklimasatu.com - Sengaja aku tak memberitahu mas secara langsung. Karena bibir ini rasanya tak sanggup untuk menggerakkan syaraf-syarafnya. Aku takut mata ini tak mampu mengalirkan air kebahagiaan jika harus aku keluarkan lagi disaat yang seharusnya aku mampu mengeluarkannya sambil memelukmu erat. Aku takut derai mataku membasahi bajumu, karena tidak akan lagi ada yang mengirimmu pesan sekedar menanyakan baju kotor setiap pagi.

Saat mas membaca tulisan ini, mungkin sebagian tintanya sudah sedikit memudar, dan tulisannyapun tak sebagus biasanya seperti aku biasa membantu mas menulis laporan keuangan ataupun laporan nilai. Karena lekuk-lekuk jariku sudah diujung kekuatannya. Beberapa hari ini akan terasa berat untukku, mungkin juga untuk mas. Karena meski tak lama mas menyiram tanaman ditaman hatiku, tak apa, karena benih sayang, benih kekaguman itu telah lama tertanam dan terawetkan.

Saat mas menyatakan rasa nyaman kepadaku dan aku menerimanya tanpa berfikir jauh akan status dan berita yang beredar tentang mas, karena alasannya sudah aku siapkan sejak lama, cukup aku dan lampu kantor itu yang tahu. Munkin bagi mas aku perempuan aneh, karena menerima pernyataan perasaan suci dari mantan sahabat dekatnya sendiri. Aku tak peduli dengan semua anggapanmu mas, apalagi anggapan bibir-bibir tipis mereka. Karena alasan itu sudah ada sejak dulu saat mas masih bersamanya dan bersamanya.

Saat aku jatuh dari motor bersama tamanku pagi itu, dan mas menolongku, seakan semua luka dan rasa sakit di badanku mendadak hilang. Bahkan semua ini itu berbah menjadi rasa sesak di dadaku, bukan karena benturan aspal atau setir motor, tapi perhatian mas yang menurutku berlebihan kepada temanku. Mungkin bagi kebanyakan orang itu hal wajar, karena memang luka yang diderita temanku lebih parah dari yang ku alami. Mungkin profesi maslah yang menghalangi perhatian lebih padaku. Mungkin karena benturan di kepalaku yang menyebabkan aku lupa bahwa aku bukanlah siapa-siapa di matamu. Karena semalam sebelumnya sahabat dekatku cerita bahwa mas akan melamarnya lebaran nanti. Kalau dia tahu kau obati luka ringan di pipiku, dan kau bopong aku menuju mobil ambulan waktu itu, mungkin dia juga cemburu, dan bisa-bisa menjauh dariku. Tapi percayalah, rasa cemburunya saat mas dengan perempuan lain, tak akan mampu mengalahkan yang ku punya.

Karena alasan alasan itulah mengapa saat telpon, sms, ataupun ketemu aku tak mau membahas tentang perasaan, karena aku tak mau mas melihat keteduhan dalam rona wajahku, karena aku hanya ingin mengisi sedikit detik kebersamaan ini dengan tawa dan gurau. Karena mereka telah mengabil sekian jam yang seharusnya detik demi detiknya ada sekian menit untukku merebahkan lelah di pundakmu, ada sekian menit mas menyeka rinai mataku, ada sekian menit untukku mengusap keringat di dahi mas. Tapi tak apa, karena dari sekian detik ini aku telah mendapatkan semuanya secara bersamaan.

Aku bahagia. Ingin rasanya aku mengatakan terima kasih dengan panggilan “sayang", tapi rasanya itu sangat jauh merendahkan harkat perempuanku, meski aku sadar yang ku lakukan selama inipun sudah jauh dari pancaranku sebagai perempuan.

Aku Ingin menulis lebih banyak lagi, tapi pipiku sudah kering, dan aku tersenyum sendiri diteras kamar ini, sambil sesekali berharap suara motor yang lewat adalah mas. Semoga semua pertanyaan yang selama ini sengaja ku abaikan, mampu terjwab oleh coretan ini.

Saat hati mas mendengungkan tulisan ini, mungkin aku sudah berada di salah satu kota kerajaan dimana aku akan melanjutkan studiku. Tentu mas masih ingat dimana aku sekarang. Karena keberadaanku sekarang adalah hasil dari komitmen yang kita bangun bersama, saat tanpa malu aku bertanya kepada mas untuk melamarku atau aku melanjutkan kuliah dulu. Dan mas memilih yang ke dua. Aku pun senang, karena dari keduanya adalah satu.

Maaf jika seharian ini semua pesan dan telpon mas tak terbalas, karena aku tak ingin ada orang lain yang melihat kesedihanku, aku tak ingin ada orang lain yang menyeka air mataku, meskipun itu ibuku sendiri. Aku ingin mas yang pertama menyentuh bulir-bulir air mata ini, karena air ini bukan keluar karena kesedihan, air ini keluar karena kebahagiaan yang terlalu lama membeku.

Saat mas membaca tulisan ini, aku sedang sendiran. Karena kedua orang tuaku telah pulang, dan perkuliahan baru akan dimulai bulan depan. Aku pasti akan merindukan senyum aneh mas, aku pasti akan merindukan rona kesal mas saat tak ku hiraukan kedatangan mas, dan lebih memilih bergurau dengan teman seangkatanku.

Maafkan aku, sayang. Terkadang aku merasa sadis, karena setiap ekspresimu selalu mengundang senyum di hatiku, bahkan ekspresi kekecewaanmu. Karena lagi-lagi situasi ini menjadi dinding penghalangku untuk mengakuimu di hadapan teman-temanku.

Ku berharap selama aku di sini, mas bersedia meluangkan banyak waktu untukku, setidaknya sampai bulan depan. Karena saat pulang nanti, aku ingin mencuci kaki di gemericik bebatuan krawak dengan air gunungnya. Aku ingin menghirup air utara dibawah rindangnya cemara dihutan mangrove. Aku juga ingin melukis senja di bendungan kali kening yang selama ini sering mas ceritakan indahnya. Aku ingin kesejukan, aromnya, dan indah senjanya itu ternikamti berdua.

Aku berharap waktu empat tahun nanti berjalan secepat derasnya air sungai depan kamarku. Secepat kita lewati keberduaan dalam bus pariwisata yang macet di Pati malam itu. Dimana dalam keterbatasan, mas masih mampu membuatku tersenyum.

Dengan senyum dan rinai bahagia, kukecup tangamu lewat kertas ini. Dari orang pernah menjadi pengagum rahasimu, dan akan selalu menjadi pengagummu dalam keberduaan.


Eternity Flame.