Laila Yang Belum Malam



Bloklimasatu.com - Minggu 18 Septeber 2016. Genap sudah usiamu kini. Malam menjelang pagi yang dingin ini gelak tawa dan gurauan masih terdengar di seberang jalan di mana aku duduk dengan segelas air berbusa. Dari seberang jalan itu juga alunan ukulele terdengar begitu apik dinyanyikan sebagai hadian ulang tahun pagi ini.

Minggu 18 Septeber 2016. 14 tahun sudah kau mengarungi derasnya arus jalanan kota ini, bahkan sampai di kota sebelah. Ya, malam ini adalah dimulainya hari ulang tahunmu. Hari di mana kau harus berbahagia, hari di mana kau mendapat banyak hadiah dari orang-orang terdekatmu, hari di mana tak ada tangis selain tangis bahagia, hari di mana kau akan mulai disebut sebagai abg. Aku turut bahagia mendengarnya.

Minggu 18 Septeber 2016. Alunan ukulele tetap mengalun. Bahakan kali ini terasa lebih nikmat didengar karena berpadu dengan ketipung dari paralon bekas. Nikmat sekali didengar. Rasanya jari ingin ikut memetik gitar yang tergeletak tikar bekas banner sebuah acara.

Minggu 18 Septeber 2016. Aku baru tersadar kalau ini sudah jam satu dinihari. Seharusnya gadis dengan usia 14 tahun kan tidur di pelukan ibunya, atau membantu ibu menyiapkan bekal jualan ke pasar besok subuh? Bukan malah nyanyi-nyanyi tidak jelas, nongkrong-nongkrong di pinggiran raya kota ini.
Minggu 18 Septeber 2016. Aku naik dan turunkan fikiranku, sembari mengintip setiap pergeakan mulutmu, pergerakan tanganmu, dan pergerakan teman-temanmu. Sebenarnya aku taidak begitu ingin memperhatikan teman-temanmu, tapi tangan-tangan jahil mereka terus menerus mengusik lubuk dadaku. Aku tak rela jika jengkal demi jengkal tubuh mungilmu terusik oleh mereka. Aku ingin kau berontak dalam gemerlap bahagiamu. Aku ingin kau tiba-tiba sadar dari mimpi indahmu, bahawa setiap inci dari kulitmu bukan ukulele atau kendang.

Minggu 18 Septeber 2016. Tak sadar sedotanku sudah tak mampu lagi menghasilkan air dalam dalam gelas yang ku pesan jam 23.00 tadi. Dan sekarang sudah jam 01.46. aku terperanjak. Seperti salah satu kaki tercebur dalam lumpur yang hangat, sementara yang satunya dialiran parit yang airnya mengalir deras, sedang pantatku terpaku kuat di pematang sawah di waktu sore. Aapa yang aku lakukan selama ini di tepian pintu warung orang dengan hanya menghabiskan 1 gelas cappucino ice? Aku iba mengamati yang terjadi dengan gadis kecil itu? Atau aku malah menikmati lekukan-lekukannya? Atau aku hanya terobsesi dengan peristiwanya saja agar nanti bisa ku tulis dan ku bagikan di komunitas literasiku?. Oh tidak. Aku masih sehat, dan aku bukanlah orang yang begitu terobsesi untuk memamerkan setiap karyaku, bahkan aku cenderung malu untuk menyampaikan hasil perjalanan jariku.

Minggu 18 Septeber 2016. Aku memesan lagi cappucino, tapi kali ini yang hangat. Tidak ada harapan lain selain dia pulang sebelum aku memutar kendaraanku untuk pulang. Satu persatu teman-temannya mulai meninggalkannya. Dengan raungan knalpot dan kecepatan tinggi dari titik nol mereka telah meninggalkanmu sendiri.

Minggu 18 Septeber 2016. Kau sendiri dalam ramai jalanan. Dengan ibu-ibu yang menggendong bayam, atau bapak-bapak yang dengan kencangnya memutar gas motor mereka mengantar solar dari gunung sebelah. Kau seperti tak ada beban dalam kesendirianmu. Kau rebahkan tubuh mungilmu itu di trotoar jalan ini hanya beralaskan tikar bekas banner iklan rokok dan jaket tipis yang sedikit mampu menutup kepalamu. Seakan kau membisikkan kepadaku dari alunan ukulele yang kau petik hening untuk segera beranjak. Bukan untuk pulang, tapi untuk tiduran disampingmu dan mendengarkan setiap ocehanmu.

Minggu 18 Septeber 2016. Aku berdiri, dan ku bayar semua yang telah ku nikmati tiga setengah jam tadi. Aku tidak langsung pulang, tapi ku seempatkan sebentar untuk menghampirinya. Bukan untuk bermain musik atau menawarkan suara padanya. Tapi hanya sekedar ingin tahu siapa namanya, alamat rumahnya, dimana sekolahnya, dan apa pekerjaan orang tuanya. Dan ku tinggalkan diadalam sendiri.
Minggu 18 Septeber 2016. Aku mengampirinya untuk mengurangi semua pertanyaan yang ada dalam benakku, bukan malah menambah serpihan-serpihan tanya yang tak mungkin ku selesaikan jam ini, dimana bulan dan bintang sudah mulai malu mengkilaukan cahayanya. Dan dengan berat hati aku pergi dengan perang berkecamuk di otak dan hatiku, perang yang lebih dahsyat dari perang kecil yang ku bangun hampir 4 jam sebelumnya.

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
© Copyright 2018 Bloklimasatu - All Rights Reserved - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger