HAM. Sudah Dari Dulu, Baru Sekarang, atau Memang Sudah Saatnya Begini?


Bloklimasatu.com - Ada pebincangan unik dari teman-teman ngopi siang ini. Berawal dari link yang saya share mengenai penegakan HAM di sekolah yang seakan menjadi penjajah dalam model baru dan membatasi guru untuk menyempurnakan proses pembelajaran. Dimana pembelajaran tidak hanya menyampaikan pelajaran yang diampu saja, melainkan juga memberikan siraman akhlaq, pembentukan karakter, dan pengajaran yang mampu mempola fikiran murid.

Sebenarnya diblik semua kondisi ini, banyak guru menjerit dalam menghadapi sikap siswa-siswinya yang terkadang bertingkah melebihi norma. Namun lagi-lagi ketika akan melakukan tindakan yang menurut si guru mampu merubah karakter anak dengan seksama, tindakan ini selalu berbenturan dengan pemikiran guru lain.

Seperti yang terjadi pada salah satu teman yang mengajar di salah satu sekolah dasar di Kecamatan ini. Kemarin malam saya berbincang panjang lebah ngalor ngidul tercetus dari mulutnya “aku mau bar ngampleng muridku” (aku habis mukul muridku). Bagi saya bukan hal aneh dan saya pun mennaggapinya dengan santai dan biasa. Namun tanggapan saya yang biasa ini justru tidak sejalan dengan maksud yang ingin dia sampaikan dari cerita itu.

Karena pada saat dia memukul muridnya, ada beberapa guru yang mengingatkan dengan dengan nada “kok sampean kendel pak?, opo gak wedi keno HAM?” (anda berani sekali? Apa anda tidak takut HAM?) namun dia menjawab “saya terima bila harus berurusan dengan HAM, namun masa depan bangsa di tangan pemudanya, kalau calon pemudanya tidak kita persiapkan dengan baik, mau jadi apa bangsa ini di masa depan?”

Sebuah jawaban sekaligus pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh puluhan pasang mata yang saling memandang, dan sesekali menghitung jumlah keramik itu.

Mungkin memang salah bila guru selalu menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah saat KBM berlajan, namun tidak ada salahnya juga ketika sedikit tindakan fisik untuk meredam sikap anak yang keterlaluan dan bisa menghancurkan kredibilitas dan wibawa guru dihadapan anak.

Tidak bisa dibenarkan juga jika guru berangkat ke sekolah, masuk kelas, memberikan tugas, kerjakan halaman ini sampai halaman ini, 5 menit sebelum waktu habis dikumpulkan, yang remidi buat 50 soal dan dan jawaban dikumpulkan pada pertemuan yang akan datang.

Kalau kondisinya seperti ini, apa yang mau dicari? Ilmu? Yang yang seperti apa? Ilmu yang ada di buku paket? Ilmu yang ada di LKS? Kalau iya, untuk apa sekolah? Toh bisa dibeli dan dipelajari di rumah, bahkan tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Atau tujuannya untuk mendapatkan ijasah? Ijasah hanyalah lebaran kertas yang dibuat oleh manusia. Kalau hanya lembaran kertas, gak perlu buang waktu puluhan tahun untuk mendapatkannya.

Ilmu pengetahuan yang diberikan dengan cara mempola fikiran anak, dengan ditetesi pembentukan karakter yang kuat, supaya ketika anak lulus, tidak hanya ilmu pengetahuan yang diperoleh tapi karakter dan kepribadiannya rusak, melainkan lulus dengan memperoleh ilmu pengetahuan dan akhlaq yang baik, ijasahpun didapat.

Semoga bermanfaat...
Bloklimasatu
adalah wadah untuk membagikan setiap informasi dan pengetahuan yang kami terima maupun ide dan cerita yang ada dalam pikiran untuk diketahui oleh banyak orang agar bisa bermanfaat bagi sesama.

Related Posts

13 comments

  1. hmm menurut ane sih lebih baik ngikutin hati nurani aja, kalo emang baik untuk masa depan, knapa nggak dlakuin gtu

    ReplyDelete
  2. Berasa emng Anak yg didikab 90'an pasti pda tau sikap dan atakrama.

    ReplyDelete
  3. Ya dibina dulu, kalo menurut saya membuat murit mendengarkan gurunya nggak harus dengan kekerasan... Karna menurut saya kali dengan kekerasan yang ada murid jadi takut untuk belajar.. Saya pernah sekolah, dan ada satu guru yang menjadi idola, bukan karna dia galak tapi karna beliau mampu membuat murit respect kepadanya.

    ReplyDelete
  4. Memang bener dilihat dari kondisi fakta saat ini kualitas didik dr sekolah lebih menurun ketimbang dulu.... baik dr sisi kurikulum sampai etika....
    Jadi menurut saya HAM haruslah lebih di perinci lagi sehingga tdak membatasi perlakuan guru yang seharusnya...

    ReplyDelete
  5. Jenis Guru Kiler yang Ngasih Soal Di Akhir Jam Pelajaran

    ReplyDelete
  6. Disisi Lain HAM Ditegakkan,
    namun yang dilindungi HAM, bertindak tidak sesuai dan melenceng dari semestinya
    Apa daya ?
    harus ada kebijakan lain untuk melindungi Pelanggaran HAM dengan tujuan mendidik

    ReplyDelete
  7. Memang harus murid klo salah ya dihukum.

    ReplyDelete
  8. Berbicara soal HAM memang tidak harus tertulis lewat hukum saja, tapi harus tertulis dalam hati juga hehe

    ReplyDelete
  9. Klo diliat liat, guru yg sperti itu sya gk suka. Soalnya kbnyakan orng mke kekerasan, krena dlu prnah sperti itu.. jdi klo guru kasarin muridnya, nnti besarnya bkalan jdi kasar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan masalah ngasarin mas. Tapi tiap anak punya cara sendiri dlm menanganinya.

      Delete
  10. Bagus artikel ye gan nambah pengetahuan

    ReplyDelete

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter