Nakal itu pilihan, nakal itu relatif


Bloklimasatu.com - Terkadang kita sebagai manusia kurang bisa memahami karakteristik orang lain, bahkan mungkin masih kurang jeli dalam memahami karakter diri kita sendiri. Dan tidak jarang pula kita sok menjadi juri dari panggung kehidupan oraang lain.

Nah, dari sekian banyak fenomena yang terjadi disekitar, mulai salah persepsi, perubahan penilaian, gosip, bahkan menghakimi setiap bola mata mengarah. Dari kejadian-kejadian ini saya mencoba menganalisa tentang arti nakal.

Menurut KBBI nakal adalah suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dan sebagainya. Atau tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Anak-anak atau remaja yang masih dalam masa belajar sering melakukan hal-hal yang terkadang menurut orang dewasa adalah salah. Dan dari kesalahan itu sang anak sering disebut nakal.

Padahal dalam masa pertumbuhan, anak manusia membutuhkan lebih banyak perhatian dari walinya. Baik itu orang tua, guru, maupun orang dewasa yang ada disekitarnya.

Satu kesalahan saja dalam memberikan penilaian dan tindakan, maka imbasnya akan terawa dalam waktu yang tidak sedikit. Atau sampai ada orang yang memerikan penjelasan kepadanya, dan dia mampu menerimanya.

Anak yang tidak ada ketertarikan terhadap matematika misalnya, bukan berarti si anak benci dengan pelajaran ini. Akan tetapi banyak factor yang melandasinya. Bisa jadi metode pengajaran yang kurang menarik sehingga tidak sampai ke otaknya, fasilitas yang kurang memadai, atau memang si anak sendiri yang lemah dalam pelajaran ini. Karena guru tidak bodoh.

Dan anak seperti yang saya paparkan barusan, belum bisa disimpuljan sebagai anak nakal. Bahkan ketika si anak lebih memilih keluar dari kelas untuk menemukan hal yang lebih menarik dari apa yang disampaikan sang guru.

Untuk mengetahui yang sebenarnya dan menghindar salah persepsi dan lain-lain,tentunya butuh pendekatan-pendekatan dari beragai aspek seperti yang saya sampaikan di atas.

Nah, ketika semua unsur sudah terpenuhi, mulai dari metode mengajar yang benar, fasilitas yang memadahi, pendekatan dari beragai aspek, dan ternyata si anak tidak bodoh dan malas untuk berfkir, maka anak seperti ini bisa dikategorikan sebagai anak nakal, dan pantas untuk mendapatkan sanksi atau hukuman.

Karena anak nakal itu, anak yang tidak mau menggunakan otak dan mengalihkannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tentunya setelah beragai pertimbangan dan penelitian yang banyak tadi. Dan ini juga berlaku untuk atasan terhadap bawahannya.

Ini hanya sebuah opini, setiap orang boleh sependapat ataupun tidak. Semoga bermanfaat.