Mr. President Is A Shoes



Bloklimasatu.com - Assalam dan Pak Muhaimin. Dua nama yang serasa sudah menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ibarat sepatu yang tidak begitu bermanfaat bila hanya sebelah. Keduanya sudah tidak begitu asing di mata dan telinga saya.

Langkah tegap berkacamata dengan sebotol air mineral di tangan yang setiap pagi berderap dari arah barat rumah saya akhirnya mengulik ingin tahu siapa sosok gagah dan rupawan ini. Meski sudah berumur, namun cara berjalan dan perawakannya tidak menggambarkan ada penyakit yang dalam tubuh yang memangsa satu ginjalnya.


1998, adalah pembuktian rasa penasaran anak kecil yang baru saja menyelesaikan studi tingkat dasarnya di MI Salafiyah Bangilan dengan nilai pas-pasan. Dengan satu teman bernama Supriyanto anak pulut yang tak jauh beda dengan saya danemnya. Dengan satu map kertas kami berdua masuk kantor kecil yang disambut beberapa satri berjilbab yang ternyata adalah guru mengaji saya setiap sore di lokasi ini juga.


Suara “wansmo” yang setiap pagi menjadi jam weaker saya saat sekolah dasar akhirnya menjadi makanan setiap pagi saya. Dengan kaset berbahasa ingris yang diputar di tipe butut tanpa tutup akhirnya mencerahkan otak saya bahwa yang diucapkan bukanlah wansmo seperti yang saya dengar.

Di ruang yang tidak begitu luas seluruh santri berkumpul dengan pria di depan dan putri di bagian belakang. Suasanapun sebagaimana layaknya anak sekolah sedang berada di kelas, sampai sosok gagah itu melangkahkan kakinya berjalan dengan begitu tenangnya menuju meja khusus dengan kursi plastik berwarna hijau yang sudah disediakan santri senior.


Ruangan seperti hampa udara dengan setiap penghuninya menggunakan tabung udara untuk bernafas. Sepi, sunyi, senyap, andai lampu itu tak menyala mungkin ruangan benar-benar seperti malam tanpa bulan.


Sampai ketukan mic itu membuyarkan keringat dingin yang serasa telah mengucur begitu derasnya. Meski hanya sebagai percobaan, ternyata memiliki arti yang begitu besar bagi santri senior, khususnya bagian operator sound system. Karena hasil dari suara ketukan akan menentukan akan tenjadinya proses pembelajaran atau malah suara lantang yang keluar yang akan merubah semuanya, yang santri menyebutnya sebagai gemprongan.


Setelah beberapa lama ditempat ini, ternyata belum memuaskan rasa ingin tahuku tentang sosok tampan itu, malah rasa takut yang begitu mendalam memenuhi setiap langkah, khususnya ditempat yang dimana beliau biasa lewat.


Dengan wajah sumringah dan senyum tersibak beliau berucap seraya memandangku. Disela-sela pelajaran itu sebuah motivasi dan pelajaran besar terucap, “Mashari ojo sering muleh, seng istiqomah neng pondok”, kalimat itu serasa memberi angin segar untuk mengenal orang ini lebih jauh.


Enam tahun berlalu rasanya begitu cepat terlewati, belum banyak merubah cara pandangku terhadap beliau sebagai sosok tegas, suka gemprong, sesekali melontar senyum dan guyonan, dan perintah-perintah yang kadang tak masuk di otakku fungsi dan manfaatnya saat itu.


Satu dua tahun mengajar belum ada perubahan yang signifikan dengan pola fikirku terhadap beliau sebagai sosok menakutkan. Sampai saat dimana saya sebagai pelatih pementasan untuk haflah akhirussanah, dimana semua perlengakapan dan latihan sudah siap dan puncak acara tinggal beberapa hari saja, mendapat info bahwa puisi kolosal tidak bisa ditampilkan. Dengan segenap keberanian kaki ini melangkah ke kantor mungil dipojok gedung, dengan tujuan menjelaskan dan negosiasi. Hatipun lega dan pola fikirku tenatng beliau mulai berubah.

Kedekatan dengan beliaupun mulai terbina, meski masih tumbuh subur rasa takut yang tidak tahu kenapa tidak bisa sirna. Melatih komputer dan organ tunggal pun mulai dipercayakan, meski minim pengalaman dan kemampuan tugas itu tetap berjalan. Dan merekam setiap pidato yang beliau sampaikan terhadap satri maupun dewan guru sudah menjadi tugas paten yang saya lakoni dengan netbook butut yang sangat besejarah bagi saya.

16 Juli 2010 adalah puncak dari sekian banyak pidato yang selama ini saya rekam. Pidato ini seperti curahan seluruh fikiran, cita-cita, bahkan mungkin ungkapan kekesalan dari keinginan yang tak terlaksana.

Ada perasaan bangga sebagai kuli di pesantren sebagai tukang rekam ketika nama ini disebut dalam rekaman yang beliau sukai, dan selalu menjadi sosok pengganti saat belau capek atau minim inspirasi. Karena bagi beliau pidato ini seakan sudah mewakili semua uneg-uneg hatinya yang terdalam.

Dengan langkah tegap, kusen pintu yang belum ada pintunya itu menjadi pegangan untuk melepas sepatu putih lalu mendatangiku yang fokus mengahadap netbook. Dengan masih menyandang rasa degdegan kepala ini serasa berat untuk menengok.

Disamping pintu musholla bagian dengan bagian utara itu, romansa serasa terjalin. Sudah bukan perintah atau larangan lagi yang terucap dari bibirnya, namun seolah lebih pada diskusi dua orang guru yang seusia sedang membicarakan perkembangan dan kemunduran sekolah dan pesantren yang sedang bersama-sama dirintis dan tengah menghadapi ujian terbesar, sebuah ujian yang didatangkan melalui sebuah kemajuan, kebesaran, dan kemewahan.

Dengan ditemani sepiring makanan ringan dan ramainya langkah kaki santri yang kembali ke kamar dari kelas belajar malam ataupun yang mau ke kamar mandi, perbincangan terasa makin asyik, bahkan karena keterbatasan waktu dan kondisi badan, berbincangan dilanjutkan melalui sms, bahkan terkadang bisa sampai subuh.

Dan begitulah seterusnya sampai suatu pagi saya membuka handphone yang biasanya saya abaikan, dan tertuju pada sebuah pesan di whatsapp. Ada perasaan seperti membaca berita artis dibilik kanan facebook yang tidak pernah saya hiraukan karena itu saya anggap sebagai hoax.

Sampai sebuah suara dari speaker masjid bangilan benar-benar serasa meruntuhkan tulang-tulang rusuk dan rambut di kepala. Dengan pakaian seadanya kakiku ku paksa untuk melangkap secepat mungkin menuju sebuah ruangan, sebuah kamar yang sebelumnya tidak pernah saya masuki.

Berbaring sesosok pria yang biasanya mengajak bertemu untuk diskusi atau sekedar menemani. Namun kali ini senyum, tawa, diskusi, atau gempronganpun tak terlontar darinya. Kaki, tangan, dan wajahku terasa keram. Ingin menggandengan untuk jalan-jalan seperti saat pulang jamaah sholat ied, ingin memijitnya sambil sesekali tertawa bersama santri diruangan baru barat kantor. Bahkan ingin memeluk untuk yang terahir kalinya pun tak sanggup.

Mentaripun seakan ikut meneduhkan sinarnya pagi itu, prosesi wisuda yang biasanya menyebabkan air matanya menetes haru, kali ini tetesan air mata ribuan santri, kerabat dan tetangga menyaksikan kau diwisuda sebagai wisudawan terbaik di hati ini, dan dihati semua orang yang pernah membencimu, lebih-lebih yang menyanyangimu.

Selamat jalan pria misteriusku, guruku, pendidik jiwaku, sahabat terbaikku, presiden hatiku. Semua tentangmu adalah perjalanan terbaikku.
Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik-Nya untukmu, Wallahu a`lam.