Memeluk "Marble Stone" Tambakboyo Tuban



Bloklimasatu.com - Tuban. Udara pagi yang terlalu segar untuk dinikati di tengah tengah kepulan asap jantung kota Bangilan membuat kami berdelapan memutuskan untuk melakukan perjalanan mencari sebuah kesejukan, keindahan, dan menikmati suasana alam yang sebenarnya.

Dengan menggunakan 4 motor matic yang sebenarnya tidak cocok untuk untuk perjalanan menyusuri kedalaman hutan yang rimbun dengan jalanan yang belum bisa kami prediksi kondisinya, kami tetap memaksakannya. Disamping keinginan yang begitu besar untuk mencari suasana baru dalam berlibur, hanya motor matic butut inilah yang kami punya.

Setelah berdiskusi singakt lewat whatsapp, terjadilah pertemuan di Pondok ASSALAM 2 Bangilan Tuban. Dan tanpa banyak basa basi dan akan lebih banyak kendala yang datang jika berlama berbicara saat sudah berkumpul semua,terlebih semua sudah dibicarakan sebelumnya, stang gas maticpun mulai diputar dengan menyusuri jalanan desa Banjarwaru Bangilan dan masuk pertigaan untuk menuju hutan arah Desa Tiwian. 

Udara segar dan kicauan burung liarpun mulai terdengar. tak perlu menggenjot kekuatan motor untuk cepat ke temmpat tujuan. karena memang seperti yang direncakan, tidak ada tempat tujuan yang pasti sebagai destinasi akhir perjalanan kita hari itu.

Tak lengkap rasanya bisa tak berhenti sejenak untuk mengabadikan suasana dan koondisi wajah kita yang sudah mulai dipenuhi keringat. dengan background pepohonan hutan, ladang jagung yang rasanya akan terasa sangat nikmat bila dinikmati nanti malam, atau mencari angel perumahan warga yang terlihat dari kejauhan, rasanya sudah sedikit mulai mengurangi beban fikiran untuk sejenak meringankan beban otak dan hati dari kesibukan harian.

Diujung kejauhan terlihat tebing yang menjulang tinggi dengan bebatuan yang tertata dengan rapinya mengulik rasa ingin tahu Andik dan kawan untuk menjelajah kesana. Semua setujua dan perjalananpun dimulai dengan penasaran yang tinggi.

Jalanan yang berkelok dan terasa sangat jauh semakin memperkosa rasa ingin tahun Hamid dan teman lainnya untuk segera ke tempat yang kita inginkan.

Satu kilometer terasa begitu dekat di depan mata, ingin rasanya kaki ini segera melompat ke gurun bebatuan dan mengabadikannya dengan berfoto ria. namun melihat waktu yang sudah siang dan perut sudah mulai mengerik, toh kami semua sudah tahu jalannya, maka kami memtuskan untuk kembali ke perkampungan warga untuk sholat dan dan mengisi perut meski hanya dengan tiga buah pentol bakso jalanan.

Setelah semua dirasa cukup, perjalananpun kembali kita lakukan, dan rasanya tidak ada yang sia dan terbayar sudah kucuran keringan ini.

Nama marble stone ini sendiri bukan nama sebenarnya, ini adalah nama yang kami buat, karena kami tidak apa nama dari tempat yang menjadi tujuan kami menikmati surga alam hari ini.

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
© Copyright 2018 Bloklimasatu - All Rights Reserved - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger